
"Ada apa dengan diri kamu sayang. Kelihatannya kamu habis menangis nya. Siapa yang membuat kamu menangis?." Tanya balik Jung woo sambil mengelus tangan Dae hwa dengan lembut.
"Aku lagi sedih pak." Jawab Dae hwa memasang wajah sedih lagi di depan Jung woo.
"Kenapa kamu sedih sayang. Siapa yang membuat kamu sedih?." Tanya Jung woo langsung cemas.
"Hiksss, Hiksss." Langsung menangis Dae hwa dengan wajah yang menggemaskan.
"Eh, kenapa kamu tiba tiba menangis. Sini cerita sama aku." Ucap Jung woo langsung mengusap air mata Dae hwa.
"Nenek yang kita jumpa kemarin. Pak Jung woo tahukan. Masa tadi pagi, aku kan membeli sarapan pak. Dan saat aku sudah membeli sarapan, aku langsung mampir ke ruang istirahat nenek. Sebelum aku membeli sarapan, aku mampir ke ruang istirahat nenek, dan nenek masih baik baik saja."
Setelah aku mampir ke ruang istirahat nenek, sebelum membeli sarapan. Nenek kan masih baik baik saja, dan saat saya membeli sarapan, dan kembali lagi ke ruang istirahat nenek."
"Ternyata nenek masuk ruang gawat darurat, karena nenek pingsan. Dan dokter bilang, kanker nya semakin menyebar. Hiksss, Hiksss. Kasihan nenek pak." Jawab Dae hwa menjelaskannya secara detail, dan meneteskan air matanya.
"Sabarlah sayang. Kamu jangan menangis terus." Ucap Jung woo langsung menangkannya, dan langsung memeluk Dae hwa dengan erat.
"Tapi kan kasihan nenek pak. Nenek sangat baik, walau bukan nenek kandung aku." Ucap Dae hwa kembali menangis.
"Nenek pasti sembuh kok sayang. Bagaimana kalau nanti kita mampir ke ruang gawat darurat nenek. Atau mungkin saja, nenek sudah sehat dan sedang di rawat di ruang istirahat." Mengelus punggung Dae hwa dengan lembut.
"Huahhh," Ucap Dae hwa kembali menangis dengan deras, dan membasahi pakaian Jung woo.
"Eh, maafkan aku ya pak Jung woo. Jadinya pakaian pak Jung woo basah." Ucap Dae hwa tidak enakan dan langsung mengelap pakaian Jung woo dengan lengan pakaiannya.
"Sudahlah sayang. Tidak apa apa sayang, asalkan kamu bahagia dan semua tangisan kamu keluar. Aku akan selalu ada disisi kamu. Dan keluarkan semua kesedihan kamu." Jawab Jung woo mengusap air mata yang ada di pipi Dae hwa.
"Eh, apa yang kamu katakan tadi sayang." Tanya Jung woo langsung menatap kedua mata Dae hwa.
"Apa?." Tanya Dae hwa kebingungan.
"Yang kamu katakan tadi sayang. Itu apa tadi?." Tanya balik Jung woo.
"Aku mencintai mu." Jawab Dae hwa menatapnya.
"Sebelumnya." Terima kasih sayang." Jawab Dae hwa kembali dengan bahagia.
"Kamu memanggilku sayang. Kamu kesambet apa sayang. Sampai memanggilku sayang begitu?." Tanya Jung woo dengan bahagia.
"Kita ini kan sudah berpacaran pak. Apa saya tidak boleh memanggil pak Jung woo dengan sebutan sayang." Ucap Dae hwa langsung bersikap manja.
"Boleh banget sayang. Yeah, yeah." Bahagia Jung woo sampai teriak bahagia.
"Eh, pak Jung woo. Jangan teriak teriak, nanti menganggu pasien yang lainnya." Ucap Dae hwa langsung menutup mulut Jung woo.
"Iya sayang. Aku sangat mencintai kamu." Jawab Jung woo kembali memeluknya dengan bahagia.
"Dan jangan memanggilku dengan Jung woo lagi, tapi panggil dengan sayang, mulai detik ini. Kamu mengerti sayang." Ucap Jung woo memegang pipi Dae hwa dengan kedua tangan Jung woo.
"Aku,