Love A Handsome Ceo

Love A Handsome Ceo
Episode 58: Tangisan



"Kenapa kamu baru masuk kerja sih Dae hwa. Kemana saja kamu. Katanya pak Jung woo kecelakaan ya. Apa pak Jung woo baik baik saja?." Tanyanya.


"Keadaan pak Jung woo baik baik saja kok. Karena sudah dijaga oleh suster dengan baik, dan penjagaan dokter yang ketat. Jadi pak Jung woo sudah baik." Jawab Dae hwa tersenyum.


"Syukurlah. Kalau kamu kelelahan, kamu duduk diruangan mu saja." Ucap Nam ji.


"Aku kuat kok. Aku duluan dulu ya, mau lihat ruangan pak Jung woo dulu. Karena aku diperintahkan untuk menjaga ruangannya, dan mengurus berkas berkas yang belum ditanda tangani."


"Antarkan berkas yang belum diurus, atau belum di tanda tangani ke ruangan pak Jung woo ya Nam ji. Aku ada disana, kalau begitu aku duluan ya." Langsung menuju ruang kerja Jung woo.


Sesampainya, ia pun langsung masuk kedalam ruang kerja Jung woo." Sudah lama aku tidak disini. Aku rindu juga dengan ruangan ini. Maafkan aku ya pak Jung woo, karena sudah menjauhi pak Jung woo. Dan salah paham dengan anda. Mulai sekarang, aku tidak akan baperan, dan tidak akan cemburuan lagi." Ucap Dae hwa langsung duduk dikursi Jung woo.


Tiba tiba ada yang mengetuk pintu." Permisi Dae hwa. Ini aku Nam ji, mau mengantarkan berkas." Ucap Nam ji dari luar.


"Silahkan masuk." Jawabnya.


Nam ji pun langsung masuk kedalam dan meletakkan berkas tersebut di atas meja." Ini adalah berkas yang harus di tanda tangani. Dan harus di lakukan rapat secepatnya." Ucap Nam ji menjelaskannya.


"Astaga, kenapa banyak banget." Tanyanya sampai terpelongok.


"Terdapat 100 berkas yang harus di tanda tangani. Dan harus 20 berkas, harus dilakukan rapat. Apa perlu bantuan?." Tanya Nam ji.


"Tidak apa apa, aku kuat. Kau bisa pergi sekarang, dan siapkan berkas yang lainnya." Jawab Dae hwa.


"Baiklah sayang, kalau begitu saya duluan. Dah." Langsung keluar dari ruang kerja Jung woo.


Setelah Nam ji pergi." Astaga, kenapa baru masuk dan sudah langsung di seduhkan oleh berkas yang banyak ini. Kalau aku jadi pak Jung woo, aku sudah gak kuat dengan semua ini. Tapi pak Jung woo masih kuat, sungguh lelaki idaman." Ucapnya membayangkan Jung woo.


"Astaga Dae hwa, jangan membayangkan pak Jung woo. Kau harus menanda tangani semua berkas ini, dan melakukan rapat secepatnya." Ucap Dae hwa langsung menanda tangani berkas pertama.


Malam pun tiba .Di Rumah Sakit." Kenapa Dae hwa gak pulang pulang juga ya. Dan dia tidak mengabariku. Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya. Aku harus menghubunginya." Langsung mengambil ponselnya yang ada di meja sampingnya.


Disisi lain." Hua, ngantuknya. Tinggal 10 berkas lagi, habis itu selesai deh. Semangat Dae hwa." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Tiba tiba ponselnya berdering." Eh, siapa yang menghubungiku." Langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi.


"Eh, pak Jung woo. Aku harus terlihat baik baik saja, agar pak Jung woo tidak cemas denganku." Langsung duduk tegap dan langsung mengangkat panggilan dari Jung woo.


"Halo pak Jung woo, ada apa menghubungiku. Apa pak Jung woo tidak tidur?." Tanyanya.


"Kenapa kamu belum balik ke Rumah Sakit juga. Aku mengkhawatirkan mu tahu, sampai aku tidak tidur?." Tanyanya balik.


Tiba tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerja Jung woo." Halo Dae hwa, aku Nam ji, dan aku bawain kamu kopi hangat nih." Ucap Nam ji dari luar.


"Masuklah." Jawabnya langsung menjauhkan ponselnya.


"Terima kasih banyak." Ucap Dae hwa sambil melambaikan tangannya.


"Kamu masih di Perusahaan?." Tanya Jung woo kembali.


"Heheheheh, iya pak. Soalnya, saya lagi menanda tangani berkas yang harus di urus secepatnya pak. Jadi saya ma membantu pak Jung woo saja. Gapapa kan pak." Jawabnya sekaligus meminta izin.


"Gapapa, tapi jangan begadang, bisa bisa kamu kelelahan lagi. Dan setelah bekerja, kembalilah ke rumah, tidak usah mampir. Nanti kamu kelelahan, dan jangan memaksakan diri mu." Ucap Jung woo menjelaskannya untuk kesehatan Dae hwa.


"Iya pak Jung woo tampan. Aku mengerti kok, jadi tidak usah di terangkan. Kalau begitu, saya tutup telponnya dulu pak Jung woo. Dah." Langsung mematikan ponselnya.


"Dia mengatakanku tampan. Sungguh menggemaskan." Ucap Jung woo tersenyum sendiri.


"Ayah juga sudah pulang tadi sore, bersama Chan woo, dan Chin so sudah kembali ke luar negeri, untuk bekerja kembali. Aku harus cepat tidur, agar aku bisa cepat sembuh." Ucapnya langsung menutup matanya.


Disisi lain." Ehm, aku harus semangat demi pak Jung woo." Ucapnya langsung meminum kopi hangat tersebut.


"Ehm. Hangatnya. Enak banget." Ucapnya kembali meminum kopi tersebut, sambil menanda tangani berkas berkas tersebut.


Jam 22.00 pun berlalu. Dimana Dae hwa akhirnya selesai." Argh, siap juga yatuhan. Saatnya pulang." Ucap Dae hwa meregangkan seluruh tubuhnya dan langsung menyusun bekas berkas tersebut.


Ia pun langsung meletakkan berkas tersebut di samping rak penyimpanan, dan langsung mengambil kunci ruang kerja Jung woo." Mending aku ke rumah sakit aja deh, untuk menemani pak Jung woo."


"Kasihan pak Jung woo sendirian disana, lagian aku yang membuatnya seperti itu. Aku harus kesana." Ucapnya langsung berdiri dan langsung mengunci dari luar pintu ruang kerja Jung woo.


Dae hwa pun langsung keluar dari perusahaan, dan langsung berangkat ke Rumah Sakit, dengan menggunakan Taxi. Sesampai Rumah Sakit, ia pun langsung masuk kedalam dan langsung menuju ruang istirahat Jung woo.


Sesampainya, tanpa basa basi, langsung masuk kedalam. Didalam." Wah, pak Jung woo sudah tidur ternyata." Langsung duduk di samping Jung woo dan menatapnya dengan tatapan kasih sayang.


"Ganteng banget sih, kalau pak Jung woo tidur begini. Kan makin sayang." Ucapnya senyum senyum sendiri.


Tiba tiba Jung woo mengigo." Dae hwa, jangan pergi, jangan pergi Dae hwa. Aku tidak akan membuat mu menangis lagi, jangan pergi. Hiksss." Ucap Jung woo mengigo sampai menangis


"Eh, kenapa pak Jung woo menangis, dan memimpikan ku. Aneh." Ucap Dae hwa bingung dengannya.


"Jangan!." Ucapnya langsung bangun dan terduduk, dengan wajah kaget, dan ketakutan.


"Eh, pak Jung woo kenapa. Apa pak Jung woo baik baik saja." Langsung cemas dan memegang pipi Jung woo dengan kedua tangannya.


Jung woo langsung menatapnya." Kamu jangan pergi. Hiksss." Ucap Jung woo langsung memeluknya.


"Aku tidak akan pergi kok pak Jung woo. Kenapa pak Jung woo menangis?." Tanyanya sambil mengelus punggung Jung woo.


"Aku menangis karena,