
"Dan jangan memanggilku dengan Jung woo lagi, tapi panggil dengan sayang, mulai detik ini. Kamu mengerti sayang." Ucap Jung woo memegang pipi Dae hwa dengan kedua tangan Jung woo.
"Aku mengerti. Tapi kalau di Perusahaan, bisa gak manggilnya jangan sayang. Malu tahu pak." Ucap Dae hwa sambil memainkan jarinya.
"Baik sayang. Tapi, itu tidak akan bertahan lama, karena aku akan terus memanggil kamu sayang." Jawab Jung woo mengelus pipi Dae hwa dengan lembut.
"Terima kasih banyak sayang." Langsung memeluk kembali Jung woo dengan bahagia.
"Oh ya pak. Aku mau melihat nenek dulu. Kasihan nenek sendirian." Jawab Dae hwa.
"Kalau begitu, aku ikut dengan kamu sayang. Aku akan menemani kamu." Ucap Jung woo mau ikut.
"Baiklah. Mari aku bantu duduk di kursi roda." Ucap Dae hwa langsung membantu Jung woo duduk ke kursi rodanya.
Mereka berdua langsung menuju ruang gawat darurat. Sesampainya, Dae hwa langsung menunggu di luar.
Suster dan dokter pun langsung keluar dari ruang gawat darurat tersebut." Eh, tunggu dok. Bagaimana dengan keadaan nenek yang ada di dalam?." Tanya Dae hwa cemas.
"Apa anda keluarganya?." Tanya dokter tersebut.
"Iya dok, saya keluarganya. Bagiamana dengan keadaan nenek Isabella didalam." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Dia masih dalam keadaan koma, dan harus segera di lakukan operasi. Tapi, belum ada yang mau membiayai biaya operasinya. Dengan begitu, kami tidak bisa berbuat apa apa." Jawab dokter tersebut dengan serius.
"Biar saya yang bayar semua biaya operasinya dok. Karena saya keluarganya juga." Ucap Jung woo.
"Baik pak. Kalau begitu, mari urus biaya operasinya ke meja administrasi pak. Dengan begitu, operasi akan langsung kami laksanakan." Kata dokter tersebut langsung tersenyum.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Mungkin akan membaik. Tergantung diri pasien nya saja, masihkah ia kuat atau tidak menjalani operasi tersebut." Jawab dokter kembali.
"Kalau begitu. Kepada pak Jung woo, anda bisa langsung membayar uang administrasi nya ke meja, yang akan di tujukan oleh suster saya. Dan saya permisi dulu." Ucap dokter tersebut langsung meninggalkan mereka berdua.
"Sayang. Aku membayar uang administrasi dulu ya. Kamu tunggu lah disini." Ucap Jung woo mengelus tangannya.
"Kamu hati hatilah sayang." Ucap Dae hwa tersenyum dan melambaikan tangannya.
Jung woo dan suster tersebut langsung meninggalkannya. Disisi lain, Dae hwa langsung masuk ke dalam, untuk melihat keadaan nenek Isabella.
Didalam ruangan. Dae hwa langsung duduk di samping nenek Isabella, dan langsung menangis." Nek, kenapa nenek tiba tiba begini sih. Nenek belum memakan sarapan nenek tahu. Nenek bilang, nenek mau sarapan enak, dan mengunjungi tempat yang indah."
"Kenapa nenek tidak bangun. Kalau nenek bangun, aku akan langsung mengajak nenek berkeliling di dunia ini. Sampai tidak ada satupun negara yang tidak pernah nenek datangi."
"Kalau begitu, nenek bangunlah nek. Hiksss, Hiksss." Tangis Dae hwa, sambil mengelus tangan nenek Isabella.
"Kenapa nenek malah tidur saja sih nek. Nenek bilang nenek kuat, kenapa nenek malah tidur saja sih. Nenek harus semangat dong." Ucap Dae hwa tidak berhenti menangis.
Dan disisi lain. Jung woo langsung membayar uang administrasi tersebut. Setelah membayarnya, ia pun langsung menuju ruang gawat darurat nenek Isabella.
Diluar ruangan." Aku kasihan dengan Dae hwa. Dia tidak punya siapa siapa. Sebab itu, dia sangat menyayangi orang orang yang ada di sekitarnya." Ucap batin Jung woo langsung cemas dengan keadaan nenek Isabella dan Dae hwa.
Tiba tiba saja ponselnya berdering, dan itu adalah panggilan dari,