
"Eh, ternyata dia sahabatnya pak Jung woo ternyata. Aku kira dia pacarnya pak Jung woo. Pantas saja mereka terlihat sangat dekat, ternyata mereka sahabatan." Ucap batin Dae hwa jadi melamun.
"Halo, kenapa kamu melamun?." Tanya Chin so menyadarkannya.
"Eh, maaf. Nama saya adalah Dae hwa. Salam kenal." Jawab Dae hwa senyum terpaksa.
"Biarpun dia adalah sahabat pak jung woo. Tapi perkataan pak Jung woo yang membuatku sakit hati dan sangat sakit saat menatap wajahnya." Ucap batin Dae hwa sambil mengelus tangannya sendiri.
"Aku mau bertanya kepada mu. Kenapa akhir akhir ini, kamu jangan mengantarkan kopi ke ruangan saya dan juga jarang memberikan sapan kepada yang lainnya?." Tanya Jung woo serius.
"Sebenarnya pak, saya lagi pusing saja pak dan entah kenapa. Akhir akhir ini, saya sangat pusing dan tidak bisa mengontrol emosi saya." Jawabnya berbohong kepada Jung woo dan Chin so.
"Apa benar karena itu. Kau tidak berbohong kan?." Tanya Jung woo langsung menatapnya dengan serius.
"Sudahlah Jung woo, kau jangan terlalu memaksanya. Mungkin aku mengerti perasaanya, karena kami sama sama wanita." Ucap Chin so kepada Jung woo.
"Tapi kan," tiba tiba ponsel Chin so berdering.
"Eh, tunggu sebentar ya. Ada yang menghubungi saya." Ucap Chin so langsung mengangkatnya.
Setelah beberapa menit." maaf banget ya Jung woo dan Dae hwa. Aku barusan dapat telepon darii temanku, katanya dia ada urusan. Jadi aku harus kesana deh, maaf banget ya. Kalian bisa mengobrol dulu. Dah Jung woo dan Dae hwa." Ucap Chin so langsung pergi dan melambaikan tangannya.
Setelah Chin so pergi. Jung woo dan Dae hwa pun saling bertatapan dan Dae hwa langsung buang muka, seolah olah tidak menatap wajah Jung woo.
"Jawab dulu perkataan saya. Kenapa kamu tida pernah mengantarkan saya kopi lagi. Kamu itu kan asisten saya, sudah jadi hak saya untuk memerintahkan anda. Jangan berbohong dan katakan yang sebenarnya. Saya tidak suka dengan karyawan yang seperti itu. Maka sebab itu, ceritakan yang sebenarnya kepada saya." Ucap Jung woo bertanya kepadanya dengan serius.
"Ini semua karena pak Jung woo, karena pak Jung woo." Tegas Dae hwa sambil menundukkan kepalanya ke bawah.
"Eh, kenapa saya?." Tanyanya sedikit bingung dengan jawaban Dae hwa.
"Waktu pak Jung woo mentraktir seluruh karyawan, karena kesuksesan bapak. Dan pada saat itu kan saya belum ada disana, pada saat semua karyawan sudah disana, termasuk pak Jung woo dan sahabat sahabat pak Jung woo.
"Namun saat saya mencoba mendengarkannya, ada sedikit pujian, kalau pak Jung woo menyukai saya dan saya sangat bahagia. Bahagia kenapa, bahagia karena pra yang saya sukai selama ini, menyukai ya juga. Namun, itu semua hanya omong kosong." Menjelaskan Dae hwa menatap wajah Jung woo dan menahan air matanya.
"Semua itu hanya omong kosong. Karena saya melihat dengan kepala saya sendiri, kalau pak Jung woo menghina saya dan mengatakan kalau bapak, hanya memanfaatkan saya. Saya sangat sakit hati dengan perkataan pak Jung woo dan saya berusaha untuk melupakan pak Jung woo, tapi saya tetap tidak bisa melupakan bapak. Hiksss, hiksss." Tangis Dae hwa.
"Sudahlah, tidak ada gunanya saya menangis di depan pria seperti bapak. Yang tidak pernah mengetahui isi hati seseorang. Saya permisi. Hikss." Tangis Dae hwa langsung keluar dari restoran tersebut dalam keadaan menangis.
"Tunggu Dae hwa, maafkan aku, maafkan aku. Ini semua karena keegoisanku. Kau jadi sangat sakit hati. Dasar Jung woo bodoh, bodoh. Jelas jelas kau juga mencintainya, kenapa kau malah menjelekkan wanita yang kau sukai, agar tidak di ejek oleh sahabat mu. Dasar Jung woo bodoh." Merasa bersalah kepada dirinya sendiri dan langsung keluar dari resto tersebut untuk mengejar Dae hwa.
"Aku harus mengejarnya dan menjelaskan semuanya kepadanya juga." Ucap Jung woo.
Disisi lain. Dae hwa yang masih menangis dan berjalan cepat." Dasar Dae hwa, seharusnya kau tidak mengatakan hal itu kepada Jung woo dan malah mengungkapkan perasaan mu kepadanya. Dia juga tidak akan mengerti perasaan mu. Dasar bodoh." Ucap batin Dae hwa langsung mengusap air matanya.
Disisi lain. Jung woo pun bisa mengejar Dae hwa dan Jung woo langsung menahan tangannya. Sontak Dae hwa berhenti dan langsung berbalik badan." Pak Jung woo, mau apalagi sih pak. Semua sudah jelas?." Tanyanya dengan tegas.
"Ada hal yang harus aku katakan sekarang juga kepada mu, soal waktu itu, itu semua adalah kesalah pahaman saja." Jawab Jung woo menatapnya.
"Salah paham apa ya pak. Saya sudah capek begini terus pak dan bapak jangan pernah mencari saya lagi." Ucap Dae hwa langsung melepaskan genggaman Jung woo dengan keras.
Jung woo kembali menahan tangannya." Lepaskan tangan bapak pak." Ucap Dae hwa kepadanya.
"Tidak, saya tidak akan melepaskan tangan saya dar tangan mu. Sebelum kamu mendengarkan penjelasan saya." Jawab Jung woo dengan tegas.
"Penjelasan apa lagi sih pak. Saya sudah cukup tahu semuanya, saya berusaha memberikan cinta kepada bapak. Tapi apa yang saya dapatkan. Setiap pak Jung woo memberikan perhatian kepada saya, entah kenapa saya selalu salting dan baper. Padahal semua itu hanyalah luka untuk saya,
pak Jung woo adalah luka yang telah melukai saya. Saya tidak mau berjumpa dengan anda lagi!." Tegas Dae hwa langsung menarik tangannya dan langsung berlari.
"Hiksss, hikss." Tangis Dae hwa sambil berlari.
"Sebenarnya Dae hwa, aku sangat