
Ada banyak harapan dari setiap peristiwa yang terjadi, kelahiran, pertemuan, perpisahan, pertengkaran bahkan kebahagian yang dicari tak akan berarti apapun saat pelajaran berharga dalam hidup itu hadir.
"Tama!" Arsal datang mengunjungi Tama di apartemen milik Tama, entah mengapa anak itu membawa istrinya yang telah melahirkan putri kecil mereka ke dunia beberapa Minggu lalu yang membuatnya memilih untuk tinggal di sana.
"Abang? ada apa? tumben?" biasanya Arsal tidak pernah datang dengan cara seperti itu.
"Pulang lah, ayah membutuhkan kita anak²nya, saat ini kondisinya terus menurun, bawa serta Arbella dan Jasmine." ucap Arsal.
Tama, Arsal,Vara, Arbella, Syahila dan Frasa sudah berada di ruang keluarga, mereka sedang melakukan tahlil untuk sang bunda dan juga ayahnya yang menghembuskan nafas terakhir dua puluh menit yang lalu, sanak saudara mereka datang, Arsal masih terdiam saat ini, dia syok.
"Abang, minum dulu." Vara mengelus pundak abangnya, Vara tau abangnya adalah orang yang paling terpukul saat ini.
"Jangankan minum, menelan ludah ku sendiri pun aku tidak sanggup Vara." ucap Arsal.
"ayah terlalu berharga untuk ku, bagaimana aku bisa kehilangan dirinya, disaat dia memperkenalkan ku dengan seorang wanita seperti Syahila, bagaimana bisa aku kehilangan dirinya, saat dia yang memaksa ku untuk memiliki anak, Vara dia ayah ku."
"iya bang, Vara tau tapi berlarut seperti ini hanya akan membuat ayah sedih, percayalah besok kita akan kembali tertawa tanpa ada ayah di sini, kita akan terus melanjutkan hidup meski tanpa ayah, karena sesungguhnya ayah sudah tenang berada di sana, jangan menjadi pemisah antara ayah dan bunda Bang." ucap Vara.
"Bang, 30 tahun ayah tanpa bunda, hal yang mustahil bagi seorang pria dewasa, namun apa? ayah mampu melewati semuanya, bahkan kita anaknya baru tau jika selama 10 tahun terakhir ayah menderita radang selaput otak yang cukup parah, jadi sekarang ayah sudah tidak merasa sakit lagi." Tama menguatkan sang kakak.
Dua Minggu berlalu setelah pemakaman Zulfikar, makam yang terletak di sebelah mendiang ibu dari ketiga anak yang sekarang sedang mengaji itu selalu saja tertabur bunga setaman.
Makam itu tidak pernah basah oleh siraman air mawar, bahkan selama dua Minggu ini Arsal dan Tama selalu datang bergantian.
"Bunda, Tama tidak pernah menatap wajah bunda, namun karena ayah Tama tau bahwa bunda adalah seorang yang paling di rindukan ayah, Tama tidak pernah tau, seperti apa sosok bunda, tapi dari ayah Tama tau, bahwa bunda sosok yang sampai saat ini ayah perjuangkan." Air mata Tama menetes, ia teringat bahwa perjuangan dirinya, tidak sebanding dengan perjuangan ayahnya yang hanya mau menyentuh ibunya.
"Bunda, ayah seberapa besar kalian mencintai kami, tidak akan pernah sebanding dengan segala kebahagian dan pengorbanan kami, bunda melahirkan kami ke dunia dengan air mata dan mengorbankan nyawa, ayah mendidik kami menjadi orang yang pantas menerima kebahagian dan ketulusan, terimakasih sudah ada dalam hidup kami, kami akan membalas semua kebaikan kalian berdua, dengan berbuat baik dan menjadi pemimpin yang di ridhoi." ucap Vara yang duduk termenung di samping makam ayah dan bundanya.
"Bunda, ini Katan, dia cucu laki laki ayah dan bunda, sebenarnya ada Kina dan Jasmine, mereka dua cucu perempuan bunda, Tapi saat ini keduanya ada di rumah mereka belum bisa datang, Arsal yakin bunda dan Ayah telah bahagia disana, kami berjanji akan selalu mengingat setiap jasa kalian terhadap hidup kami, kami selalu mencintai kalian, dan itu tidak bisa di tukar oleh apapun.
Di akhir cerita mereka tersenyum, pada dasarnya manusia tidak bisa mengakhiri cerita hidupnya sampai waktunya tiba, kematian yang akan mengakhiri cerita hidup setiap mahluk.
Terimakasih sudah bersabar menunggu ending dari cerita ini, mohon maaf bila ada satu hal yang membuat pembacanya terganggu...
Hopefully my work will be well received🙏❤️