Just For Me

Just For Me
Suami Ku



Setelah panjang lebar mendengar cerita Arbella, Arsal pamit untuk pulang, sejuta pekerjaan membuatnya lelah dan pulang diarut malam.


Arsal membuka pintu huniannya dan merebahkan dirinya sejenak di sofa. Syahila melihat Arsal tertidur di sofa membangunkannya perlahan untuk solat subuh.


"Kak, Kak, kak Arsal, ayo solat subuh dulu." Ajak Syahila namun mata Arsal masih terpejam dengan kantuknya.


"Emm... Cup." Arsal mengecup pipi Syahila.


"Ayo bangun, kita solat berjamaah, kau lelah ya, biar setelah itu ku pijatkan dan nanti aku buatkan juga minuman panas untuk mu, ayo bangun." Ajak Syahila yang di ikuti oleh Arsal. Mereka berjalan beriiringan menuju kamar mandi, Arsal memeluk Syahila dari belakang sambil berjalan.


"Tumben sekali suami ku seperti ini? mengecup ku, lalu bertingkah manja." Heran Syahila dalam hati.


Mereka pun solat berjamaah, lalu Syahila menuju dapur untuk membuat sarapan dan minuman hangat.


Kemudian Syahila masuk kekamar untuk memijat Arsal.


Syahila mulai menyentuk badan bagian belakang Arsal. "Emhh... Hil, kamu pijat aku memangnya kamu tidak capek juga?"


"Tidak kak, sudah jangan banyak bicara nikmati saja." jawab Syahila.


"Kita gantian ya berarti." tawar Arsal pada istrinya yang memijatnya dengan lembut Arsal menikmati pijatan Syahila, hingga pusing di kepalanya berkurang.


"Kamu juga capek kan Hil, sini biar gantian, terimakasih ya sudah menghandel beberapa pekerjaan ku, kalau tidak ada kamu mungkin aku sudah jatuh sakit sekarang."


"Kak, seharusnya, kau tinggalkan saja salah satu pekerjaan mu itu, fokuslah pada satu saja."


"Jika yang ku kerjakan hanya satu bagaimana nasib pegawai dan anak anak kita di panti, orang orang di rumah sakit itu bagaimana? jika hanya membiayayi hidup kita saja aku mampu hanya menjadi seorang dokter."


"iya, aku mengerti suami ku, au..." Syahila melotot dengan kelakuan suaminya yang *** ******** istrinya itu.


"Kak Arsal..." Geram Syahila dengan perlakuan suaminya itu.


Arsal hanya tersenyum mengharap istrinya mengerti kebutuhannya.


"Kak, istirahat saja ya, aku sedang tidak mood."


"Kamu nikmati saja aku bisa membangkitkan mood mu itu." Arsal sengera mencumbui istrinya itu dengan penuh lelembutan.


Tanpa sadar Syahila sudah tak berpakaian lagi, dan Arsal berda di atas tubuh Syahila yang gemetar menahan hasrat.


Arsal mencumbui setiap jengkal sisi sensitif Syahila dengan teliti, sampai Syahila tak dapat lagi menahan setiap gelora yang Arsal berikan.


"Kak, masukan saja aku tak tahan lagi, kamu benar benar membuat ku ..." Arsal membungkan mulut Syahila dengan bibirnya.


Arsal menyatukan tubuh mereka dengan lembut sampai Syahila mengerang merasakan gemetar. "Ahhh... kak, lebih dalam lagi, kak... Aku... aku uhhh..."


"Sayhila, aku... ILove you baby..." Arsal pun menyemburkan cairan kentalnya dengan penuh peluh. Syahila mencium kening Arsal dan menghapus peluhnya yang bercucuran.


"Giamana? jadi mood lagi? mau tambah?"


"Tidak ada tambah ya... aku capek dan ngantuk." Akhirnya mereka saling merengkuh, dan tidak lupa Arsal mengecup perut rata Syahila.


"Come baby, papa dan mama menunggu mu, Hil, semoga kali ini berhasil ya, ini kan masa subur mu sampai tiga hari ke depan."


Syahila kaget kenapa suaminya bisa tau dan ingat tentang masa suburnya.


"Kenapa kamu bisa tau kak?"


"Aku menghitungnya sejak bulan pertama kita menikah, saat itu aku takut kamu hamil dan tidak bilang pada ku."


"Apa? ternyata kamu ini bisa romantis ya?"


"Romantis dari mana?"


"Romantis itu tidak dari kata kata atau perlakuan kan, aku hanya butuh romantis yang seperti ini, perhatian yang tak pernah ku perhatikan."