
Syahila kini berada di bandara dengan beberapa rekan modelnya, dia nampak mencari keberadaan seseorang wajahnya mulai panik saat pemberitahuan keberangkatannya di gemakan.
Syahila melangkah pergi dengan gurat kecewa. Syahila duduk dikursi yang telah di pesan, hingga beberapa saat Syahila mulai resah.
"Siapa seorang di telpon tadi? kenapa dia begitu khawatir? jika itu ayah, pasti dia juga akan mengangkat telfon itu di depan ku." Syahila menarik nafas dalam lalu berusaha untuk tenang.
***********
Arsal berlari menuju rumah seseorang yang tadi menelponnya, dan menggagalkan momen nya bersama sang istri.
"Dokter Arsal, akhirnya anda datang." seru seorang wanita paruh baya yang penuh kawatir.
"Dimana Bella, apa yang membuatnya mengunci diri dikamar? Apakah dia sudah minum obat yang ku resepkan kemarin pada mu?" tanya Arsal sekaligus berusaha membuka pintu kamar Arbella.
Namun ketika Arsal berhasil membuka pintu tersebut, Arbella berdiri dibalkon dengan penuh kecewa dan air mata.
"Kau masih perduli dengan ku? bukankah istri mu itu lebih berharga dibanding aku?" Ucap Arbella yang menatap Arsal menuntut.
Arsal mengenggam jemari Arbella, namun Arbella menepisnya begitu saja.
"Jangan sentuh aku, jujurlah pada ku, kau menjaga ku sampai detik ini hanya karena ini kan?" Arbella mengulurkan sebuah kertas bermatrai dengan sejumlah perjanjian.
"APA KAU FIKIR AKU SELEMAH ITU DOKTER!!! AKU BISA HIDUP NORMAL TANPA TRAPI DAN OBAT!!!" Arbella masih dengan emosinya.
"Apa yang ada dalam fikiran mu saat itu, kau terima dengan mudah tawaran papi? sungguh dokter kau..." Arbella menahan rasa sesak pada dadanya, dan kini dia mulai kehilangan kesadarannya, hingga terkapar di lantai.
Arsal dengan sigap menyuruh asistannya untuk membawa ambulan dengan seluruh perlengkapan untuk menangani Arbella.
Hingga beberapa saat Arsal telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
"Pantau terus keadaanya sampai stabil, aku akan pergi sebentar." perintah Arsal pada para suster pengawas.
Arsal duduk di kursi kekuasaannya, dia memandang foto seseorang dengan hijab begitu anggun dan cantik.
"Baru tadi siang kamu pergi tapi aku seperti seorang anak yang dibuang, tidak ada makan siang dan pesan singkat yang selalu kamu kirim kan, lihat saja bisa atau tidak aku bertahan." ucap Arsal sambil senyam senyum.
Tama yang duduk dihadapan laptopnya masih mengamati beberapa laporan yang masuk ke email pribadinya, dia melihat beberapa data tentang Ara, gadis belia yang terpaut jauh dari usianya itu. Tama masih terus mencarinya sampai ia menemukan nama Abangnya tertera sebagai dokter spesialis yang menangani gadisnya itu.
Tama terus memperhatikan beberapa info yang dia dapatkan.
"Baiklah aku akan menemui abang terlebih dahulu." Tama pergi dengan mengenakan jas yang telah dipersiapkan asistennya.
"Saya ingin bertemu dengan Dokter Arsal Ibrahim Arafi."
"Maaf, apakah tuan sudah membuat janji dengannya, karena dokter baru akan tiba tiga jam lagi." sahut resepsionis.
Tama tidak perduli, dia mengambil ponsel dari sakunya, dia menelpon Abangnya.
"Bang, aku sudah ada di lobby rumah sakit mu, temui aku sekarang ada yang ingin aku tanyakan pada mu."
"Baiklah aku ada di ruangan ku, masuk saja." Tama pun berjalan menuju ruangan Arsal di lantai enam rumah sakit.
"Susah bertemu dengan seorang dokter seperti mu bang."
"Ada apa Tama, kelihatannya ini sangat penting?"
Tama menyodorkan beberapa berkas pada Arsal, Arsal membuka dan membaca, serta mengamati maksud dari adik laki lakinya itu.
"Sejak kapan kau memata matai Arbella?"
"Aku tidak pernah memata matainya, karena memag aku tau semua tentang dirinya." ucap Tama yang mulai sinis.
"Tama, kau jatuh cinta padanya?" entah kenapa Arsal mengetahui tentang tatapan Tama.
"Seberapa parah penyakit syaraf yang ia derita?" ucap Tama dan kini semakin serius.
"Aku menunggunya sedari dia di tingkat sekolah dasar, aku yang selalu mengikutinya bermain panahan, bahkan aku yang selalu merayunya dikala dia memikirkan semua tentang hidupnya, abang bisakah kau mempertemukan ku dengan dia, walau hanya sekejap saja."
"Tama, dia rupanya gadis yang pernah kau ceritakan sewaktu di Jerman?"
"ya hanya demi dia aku bergegas pergi ke Jerman." Arsal mulai iba dengan apa yang telah di korbankan adiknya itu.