
"Hallo adik ku, bagaimana? apakah sakit? jika sakit kedipkan saja mata mu." Ucap Syahila lalu di berikan senyuman oleh Arbella.
"Arbell, cepatlah pulih, paling tidak kita bisa berdialog, aku ingin sekali bersahutan dengan mu, aku rindu suara mu."
lagi dan lagi, Arbella hanya tersenyum.
Mereka pun kembali kerumah tempat dimana Zulfikar tinggal, Arsal dan Syahila memutuskan untuk sementara waktu tinggal di rumah itu karena kondisi Arbella sekarang.
Siang ini Syahila membawa Arbella duduk santai menikmati sore hari di halaman samping rumah, tepat di tepi kolam renang dibawah pohon mangga yang buahnya mulai lebat.
"Arbell, aku akan meninggalkan mu sebentar di sini, aku kan mengambil beberapa makanan untuk kita nikmati." Syahila berlalu menunggalkan Arbella, Arbella yang kini hanya bisa diam dan meratapi hidupnya, bahkan 50% ingatannya pun harus hilang.
"Tuhan, mengapa kau buat hidup ku semenderita ini? apa kesalahan ku? berilah aku secerca harapan untuk paling tidak bertahan di sini." lirihnya dalam hati.
Kemudian Syahila kembali dengan beberapa gelas jus dan juga makanan.
"Hai, ada apa dengan mu sayang? kau meneteskan air mata? kau bersedih? tidak kau tidak boleh bersedih." Syahila menghapus airmata Arbella.
"Ayolah apalagi yang membuat mu menangis seperti ini sayang, berjajilah pada ku untuk tidak mengurai air mata seperti ini." Arbella tersenyum menatap Syahila.
"Jika bisa aku berucap aku ingin sekali berterima kasih pada mu, kau bukan saudara kandung ku, namun kau begitu baik dan menyayangi ku, terimakasih... aku berjanji aku akan segera sembuh untuk membuat mu bahagia." Arbella tersenyum dengan sangat manisnya, seketika Syahila memeluknya.
Syahila memberikan jus pada Arbella, karena dia tau adik tercintanya ini kesulitan untuk mengunyah.
Arsal yang kembali dari aktivitas kerjanya menyapa dan duduk bersama mereka menikmati senja hari ini, Arsal meminum teh herbal buatan istri tercinta.
Arsal menatap Arbella yang air wajahnya telah berubah, setahap lebih baik dari sebelumnya. Arsal membantu Syahila untuk mengantar Arbella menuju kamarnya, Syahila melakukan aktivitas ini setiap harinya, memandikan, mengantikan baju, bahkan menganti daypers yang dipakai Arbella.
Arsal sering kali menawarkan supaya suster saja yang mengantinya namun Syahila menolak, dia selalu bilang, ini adalah cara ku untuk mengobati hati ku yang terluka karena kepergian adik kecil ku, dia pergi sebabku, jadi aku ingin menebus semua kesalahan ku. Begitu jawabnya setiap kali Arsal menawarkan suster.
Setelah tugas membersikan tubuh Arbella Syahila menyuruh asistand rumah tangga untuk menyiapkan makan malam yang sudah ia masak tadi sore di meja makan, setelah solat maghrib berjamaah mereka semua berkumpul untuk makan malam.
"Silahkan Ayah, Hila dengan senang hati akan menjawabnya."
"Baiklah, ayah hanya ingin tau, sampai mana usaha kalian untuk memiliki anak."
Arsal tersedak saat ayahnya berucap seperti itu.
"Ayah, Syahila dan aku sudah berusaha semaksimal mungkin, kami bahkan sudah memeriksakan diri masing masing kedokter, hasilnya pun cukup memuaskan, kami berdua sehat dan baik baik saja." Arsal menjelaskan dengan tenang.
"Ayah, mungkin Allah ingin kami berdua lebih saling mengenal lagi, atau kami harus selesaikan masalah masalah kami terlebih dahulu."
"Arsal dengarkan ayah, diakhir tahun ini ayah akan memberikan seluruh sisa saham yang ayah miliki, ayah sudah cukup umur untuk terus menjejakan kaki di dunia bisnis." Arsal yang mulai iba pada ayahnya yang memang lebih bagus menghabiskan waktunya untuk acara sosial dan diam dirumah saja.
"Ayah, saat ini perusahaan ku Syahila yang mengambil alih sebagai direktur penangung jawab, aku bisa menangani perusahaan ayah, sampai beberapa tahun kedepan, tapi aku mau asistan pribadi."
"Baiklah, ayah setuju berarti kita deal ya."
"Ya, ayah." Mereka pun menyantap makan malam dengan hati yang bahagia dan suasana yang hening.
Syahila kembali kekamar Arbella untuk memberinya obat dan makan malam.
Setelah dipastikan semua makanan yang pantas di sebut jus itu sudah dihabiskan oleh Arbella serta obatnya juga sudah dicernanya, Syahila memastikan Arbella tidur dengan nyaman. Beberapa suster bergantian masuk untuk menjaga Arbella malam ini.
Syahila menemui Arsal untuk membahas beberapa masalah di kantor.
"Aku sudah menyelesaikan beberpa berkas, sekarang tinggal dirimu yang menandatanganinya." ucap Syahila pada Arsal yang ada dihadapannya.
"Baiklah nyonya, kau memang bisa di andalkan untuk masalah masalah ini, kau cerdas, kenapa kau tidak bekerja saperti ini saja sejak dulu, terimakasih ya." ucap Arsal dan meninggalkan Syahila menuju ruang kerjanya.