
Sinar matahari pagi pun masuk kedalam kamar Arsal dan Syahila, mereka masih terlelap akibat aktifitas semalam.
Syahila terbangun membuka mata dan menatap pria yang kini sangat erat memeluknya.
"Apa kau benar benar akan mencintai ku nanti, Arsal aku telah memberikan yang paling berharga dalam hidup ku, bagaimana jika suatu hari aku hamil, dan kau belum mencintai ku?" Syahila meneteskan air matanya, mengingat Arsal yang hanya memberinya setatus tanpa cinta.
Syahila membalikan posisi tubuhnya yang masih telanjang dan hanya mengenakan selimut, dia membelakangi Arsal. Arsal yang merasa pergerakan Syahila dan suara tangisnya mulai membuka mata dan menatap punggung Syahila.
"Ahhh..." Arsal menyentuh kepalanya yang terasa sakit. Syahila kaget dan membalikan badan menatap Arsal.
"Ada apa? kepala mu sakit?" Tanya Syahila yang mendapat tatapan tajam dari Arsal.
"Apa yang telah kita lakukan?" Tanya Arsal pada Syahila yang masih penuh dengan air mata.
Syahila masih tak menjawab, sekarang dia semakin menjadi, tangisnya pecah ketika Arsal menangkup wajahnya.
"Kau lupa dengan apa yang terjadi pada kita semalam? jawab aku, apa yang kau makan, atau kau minum sebelum tidur?" Arsal masih bingung, melihat keadaan Syahila yang kacau tanpa busana, dan tubuhnya yang tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Syahila.... Apakah aku menyakiti mu semalam?" Tanya Arsal dengan terbata, dia takut melukai Syahila, karena Arsal mulai ingat dengan apa yang terjadi. Syahila hanya mengeleng dan terus menumpahkan air matanya.
"Syahila, aku minta maaf, aku terpengaruh obat perangsang sepertinya, dan aku tau ini ulah siapa." Arsal bangun dari tidurnya dan segera berlari kedalam kamar mandi.
Arsal menemukan bercak darah pada mrP nya. "Ya Allah apa yang aku perbuat pada istri ku, aku bahkan telah mengambil miliknya yang paling berharga dengan cara tak sadar." geram Arsal lalu memukul tembok kamar mandi.
Syahila masih di atas tempat tidur, dia masih merasakan sakit pada kewanitaanya sampai berdiri pun susah.
Arsal keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, lengkap dengan rambut basahnya, dia menatap Syahila yang masih terbungkus selimut.
"Maaf, jika aku menyakiti mu, sebutkan saja apa yang dapat menebus semua kesalahan ku." Syahila menatap tangan Arsal yang lebam dan mengeluarkan cairan merah.
"Kita obati dulu luka mu ya.." pinta Syahila, Syahila membuka laci yang ada tepat disamping tempat tidurnya. "Au..." Ringis Syahila ketika mengeser kakinya sedikit.
"Kamu kenapa?" Tanya Arsal panik.
"Tidak hanya sedikit sakit." Syahila tersenyum, lalu mengoleskan obat pada punggung tangan Arsal.
"Sekarang sudah selesai, berjanjilah pada ku, jangan melukai dirimu lagi, meski rasa bersalah yang kau simpan itu sangat besar." Syahila tersenyum lagi, dan kali ini Syahila mencium pipi Arsal dengan penuh kasih sayang.
Arsal mengendong Syahila untuk ke kamar mandi. Arsal melamunkan bekas kejadian semalam. "Syahila maafkan aku, semua ini terjadi karena salah ku." Arsal mengulung bedcover yang terkena bercak darah Syahila akibat perbuatannya semalam.
Syahila berusaha untuk berjalan tanpa menghiraukan rasa sakit yang berada pada selangkangannya. Arsal hanya terdiam di meja makan, Arsal menatap Tama dengan sinis, Sementara Syahila berusaha menenangkan Arsal dengan terus mengenggam jemari Arsal.
Setelah sarapan, Arsal meminta pada ayah nya untuk kembali ke apartemen dengan Syahila tentunya.
Sesampainya di apartemen Arsal mengajak Syahila bicara. "Syahila, apakah kau akan memaafkan ku dengan semudah itu, kau pasti tersiksa bukan?"
"Sudahlah kak, anggap saja itu hadiah pertama yang aku berikan setelah enam bulan pernikahan kita."
"Bagaimana kau bisa menganggapnya semudah itu, aku melakukannya dengan keadaan tidak sadar Syahila." ucap Arsal geram dengan sikap biasa Syahila.
"Kak, ingatkah itu kewajiban ku, aku istri mu, lalu jika semalam kau melakukannya dengan keadaan tak sadar, maka lakukan saja lagi sekarang." Ucap Syahila sembarang.
"Bagaimana dengan mudahnya kau berkata begitu?"
"Kita suami istri sah dimata hukum dan agama, apa yang perlu ku takutkan, aku takut kau tak bertanggung jawab? kak aku mencintai mu, sudah ku katakan kan dan aku juga tidak menyesali apapun." Tegas Syahila.