Just For Me

Just For Me
Keyakinan



Tama masih berusaha menyakinkan Arsal untuk membuka riwayat sakit yang di alami gadisnya itu.


"Baikalah, demi diri mu aku akan melanggar kode etik, Tama, Arbella menderita penyakit Syaraf akut, sewaktu waktu ia bisa kehilangan konsentrasi pada indra prasa, pengecap, peraba, dan yang terparah pengelihatan dan kelumpuhan otak, saat ini kami hanya bisa memberikan pencegahan agar semua itu tidak fatal terjadi."


"Seperah itu kah? bang, sekali saja aku ingin melihatnya, oh ya... Apakah dia tau jika kau sudah menikah?"


Arsal mengerutkan dahi.


"Maksud mu apa?"


"Aku tau semua tentangnya, termasuk dia yang mencintai dokter pribadinya, sewaktu di Inggris aku pernah mendekatinya namun dia menolak ku mentah mentah karena dia bilang tidak ada pria yang bisa memilikinya selain dokter tampan yang merawatnya, dan apa reaksinya saat dia tau cintanya sama saja seperti ku... CINTA SEPIHAK." Tama menekankan kata cinta sepihak.


"Tama, kau marah pada ku?"


"Tidak, jika untuk apa aku marah, dengan abang ku yang jelas tidak bersalah dalam kisah asmara ku, bang biarkan aku melihatnya."


Arsal mengajak Tama pergi untuk menjenguk Arbella. "Rumah siapa ini bang? semua benda di rumah ini terkesan simple, kau menyembunyikan Arbella di sini?"


Selidik Tama pada Arsal.


"Ini rumah peninggalan ayahnya, Arbella tinggal disini dengan pengawasan ku dan beberapa perawat, kamarnya ada di lantai tiga." Mereka berjalan menyusuri anak tangga.


Wajah tampan Tama berubah menjadi gurat kecewa. "Kenapa peri kecil ku berubah seperti ini? kenapa dia terbaring dengan wajah pucat seperti itu." Semua disuarakan oleh Tama di dalam batinnya.


"Tama, mengapa kau hanya diam saja, masuk dan temani dia." Suruh Arsal yang melihat adiknya masih mematung.


"Kenapa? ada apa dengannya?" tanya Tama pada Arsal sambil menatap lekat Arbella.


"Dua jam lalu perawat baru saja menyuntikan beberapa obat untuk pemulihan sel syarafnya, jadi dia akan tertidur selama beberapa jam untuk beristirahat."


Aditama masih mematung memandangi gadisnya yang masih terlelap.


"Arbella, aku tidak akan melepaskan dirimu lagi, aku akan menjadikan mu hanya milik ku, hanya untuk aku seorang!" Ucap Tama pelan.


Arbella mulai tersadar dari tidurnya, ia menatap semua yang ada di sekitarnya, dia benci semua benda yang berada di ruangan ini, semua benda yang menyiksa tubuhnya.


Arbella masih terkulai lemah akibat dari obat yang di suntikan perawat tadi siang.


"Ternyata hari sudah senja, aku fikir aku hanya bermimpi sebentar tentangnya, ternyata sudah sangat lama." Arbella bergurau sendiri dengan fikirannya.


Tama berpamitan untuk pulang kepada abangnya, sementara Arsal masuk kedalam ruangan khusus untuk Arbella.


"Kau sudah sadar? apakah kau merasa sangat lelah dan lemas." tanya Arsal pada pasien khususnya itu.


"Iya,kau suntikan apa pada tubuh ku? aku merasa seperti mayat sekarang."


"Bersabarlah, mungkin beberapa saat lagi kau akan lebih baik dari sekarang, oh ya aku ingin bertanya pada mu."


"Bertanya? tentang apa?"


Arbella terlihat penasaran, karena selama ini tidak pernah ada pembicaraan serius diantara mereka, meski serius sekali pun, Arsal akan menganggap Arbella hanya bercanda.


"Jika ada seorang pria yang mencintai mu lebih dari dirinya sendiri, dan dia akan menerima serta menjaga mu seumur hidup mu, apakah kau mau hidup bersamanya." tanya Arsal yang menatap keluar ruangan.


"Tidak, aku hanya mencintai mu, aku akan memilih hidup sendiri seumur hidup ku, dan menjadi pasien mu saja." Jawab Arbella yang sebenarnya hanya menguji Arsal.


" Dan aku tetap sama seperti kemarin, aku tidak akan membiarkan mu sendiri, aku pun juga tidak akan bisa bersama mu, belajarlah untuk mengisi hati mu itu." Serang Arsal lalu pergi meninggalkan Arbella.