Just For Me

Just For Me
Resiko



"Tama, kemana kau."


Arsal masih terus menghubungi Tama dia juga masih mencoba menghubungi sekertarisnya, namun hasilnya sama mereka tak menjawab.


Arsal pun akhirnya menghubungi istrinya untuk segera menjemput Zulfikar ayahnya sebagai penanggung jawab.


"Sayang, bisa kau datang ke rumah sakit ku sekarang, dan bawalah ayah bersama mu juga ya."


"Ada apa? kenapa aku juga harus membawa ayah?" tanya Syahila yang juga mulai panik.


"Dengar, Arbella butuh penanganan medis, aku mau kau dan ayah menjadi saksi, detailnya akan jelaskan nanti."


Syahila pun menutup panggilan dan Arsal mengganti pakaian untuk segera melakukan oprasi.


Tiga orang dokter dan empat orang perawat telah bersiap di meja oprasi.


"Dokter apa lagi yang kita tunggu semua sudah siap." tanya seorang dokter.


"Saya masih menunggu keluarganya untuk menjelaskan beberap hal sebelum semuanya terjadi."


"Tapi dok, saya fikir pasien akan kehilangan segala harapannya jika ditunda seperti ini."


Arsal diam menundukan kepala, namun seseorang datang menghampirinya.


"Dokter Arsal yang kau tunggu sudah datang." Arsal keluar dari ruang oprasi dan menemui mereka Arsal memberikan beberapa berkas yang harus mereka baca dan tanda tangani.


Oprasi sudah berlangsung sejak beberapa jam yang lalu namun tanda tanda akan usai belum mereka berdua ketahui. Zulfikar dan Syahila masih harap cemas dengan keadaan Arbella.


"Hila, cobalah untuk tenang, Ayah yakin Tama akan segera diketemukan, seluruh orang kita sedang mencarinya sekarang."


"Bagaimana aku bisa tenang ayah, kau bisa membaca tentang apa yang bisa saja terjadi kepadanya selepas oprasi bukan? ini oprasi central ayah, dia bisa saja kehilangan pengelihatan, pendengaran, perasa bahkan memori dalam kehidupannya pun dapat hilang ayah, bagaimana jika ia melupakan semua hal tentang dirinya dan suaminya itu ayah?" Syahila mulai meneteskan airmata, ia sesegukan menjawab semua hal yang ia baca tadi pada lembaran lembaran kertas yang di berikan Arsal.


"Tapi setidaknya, ia masih bisa bertahan dan bersama kita untuk selamanya." jawab Zulfikar dengan tenang.


Dijam selanjutnya sebuah bangkar keluar dari ruang oprasi menuju ruang observasi, beberapa team dokter juga mengikuti bangkar itu. Syahila hanya menatapnya mengikuti intruksi untuk segera pergi dari duduknya sekarang.


Arsal datang setelah menganti pakaiannya, Syahila menatap suaminya lewat jendela kaca. Arbella sekarang terbalut perban tebal yang mengelilingi kepalanya, terbaring lemah di bangkar dengan sejumlah alat yang tertanam pada dirinya.


Arsal keluar untuk memberitahu keluarganya tentang apapun yang harus mereka ketahui.


"Ayah, Hila ikutlah dengan ku." Arsal, Syahila dan Zulfikar berjalan menuju ruangan Arsal yang berada di ujung koridor.


"Ayah, oprasi berjalan dengan cukup baik, meskipun tadi ada sedikit masalah, namun Allah masih memberikannya kesempatan untuk hidup, Pembuluh darah pada otak kanannya mengalami pecah yang cukup parah, dan beberapa syaraf motoriknya juga akan mengalami kelemahan fungsi."


"Lalu apa saja yang akan terjadi padanya."


tanya Syahila dengan sedih.


"Dia akan melupakan semua tentang jalan hidupnya, semua ingatan tentang kita, dan dia juga akan sulit bicara, mengunyah, berjalan bahkan dia akan kesulitan untuk merespon rasa sakit." Arsal merasa bersalah karena seharusnya dia menjaga Arbella dengan sangat intensif sebelum semuanya terjadi.


"Ya Allah kuatkan kami." Syahila tak henti mengurai air matanya.


"Hila, kita masih bisa memberi trapy untuknya, ini akan berlangsung selama beberapa tahun, dan kita akan tetap membantunya untuk itu, dalam waktu 48 jam dia akan tertidur, akan selalu di pantau, dan untuk itu kalian pulanglah, dan terus hubungi Tama, jika sudah terhubung suruh anak itu datang kesini, aku akan menghajarnya."