Just For Me

Just For Me
Tak Rela



Tadi malam Arbella menghubungi Arsal untuk meminta Arsal datang dan memeriksanya karena nyaris kedua kakinya tidak dapat digerakan, kerusakan syarafnya semakin bertambah seiring berjalannya waktu, namun Arbella menahan semua rasa kawatirnya saat telponnya diangkat oleh Syahila, Syahila menjelaskan bahwa Arsal baru saja terlelap, jadi Arbella pun tak sampai hati untuk meminta bantuannya.


Arsal berada di kediaman Arbella saat ini Tama suami dari Arbella sedang berada di Inggris untuk mengambil berkas berkas kepindahannya.


"Apa yang terjadi pada Arbella suster?"


"Nona sudah lebih baik dokter setelah kami menyuntikan obat yang dokter resepkan tempo hari."


Arsal menemui Arbella bersama para suster yang merawatnya.


"Dokter kau datang, aku sangat khawatir semalam, namun yang menjawab panggilan istri mu kan?"


"Ya, Syahila yang menjawabnya, maaf aku tidak bisa datang tadi malam, oh ya ada beberapa obat yang harus kau minum selama tiga hari ini, dan aku akan mengawasi mu dari jauh."


"Memang kau mau kemana?"


"Ada masalah di kantor ku, aku harus kembali ke Jerman, aku akan sangat sibuk jadi dokter Henry yang akan mengecek mu setiap jam."


Arsal menuliskan beberapa obat didalam laporan kesehatan Arbella.


Arbella masih terpaku dengan menatap Arsal.


"Ada apa sampai melihat ku dengan tatapan seperti itu?"


"Tidak ada, dokter..."


"Apa?"


"Istri mu menanyakan tentang ku?"


Arsal menyerahkan catatan nya pada suster.


"Ya, dia sedang cemburu pada mu, itu yang ku tangkap dari setiap perkataannya tadi sebelum aku berangkat menemui mu, sudahlah jangan bicarakan ini lagi, jet ku akan segera berangkat, jadi kau harus tetap sehat selama aku tinggal."


Arbella menatap punggung Arsal yang semakin menjauh darinya.


Syahila hari ini memulai foto shoot nya, dia mengenakan gaun malam yang sangat indah, Syahila sebenarnya menolak lagi dan lagi untuk mengenakan baju berwarna maroon itu, baju dengan kerah rendah yang mengekspose belahan dadanya dan menujukan lekuk tubuhnya serta belahan dari ujung kaki hingga paha.


"Dick, kau membuat baju tapi tak berguna, orang yang memakai baju ini lebih baik tidak memakainya, karena sama saja lebih baik ia telanjang saja." ucap Syahila kepada perancangnya dengan ketus.


"Haha, aku lebih suka kau telanjang saja Syahila, oh ya jalang, aku tau suami mu pasti selalu mendapat servis dua kali lipat setiap kau menyentuhnya." Dick tertawa sambil mengolok Syahila.


Kemudian Ferdo datang dan menengahi keributan yang hampir terjadi.


"Dick Syahila bukan tipe jalang yang kau fikir, dia wanita yang sama sekali belum tersentuh, dan hanya suaminya yang bisa menyentuhnya."


"Ferdo, kau tau apa?"


"Karena selama ini aku juga ingin menyentuhnya tapi dia tidak pernah menerima ku, dan banyak pria keren lainnya yang juga ingin, tapi dia tetap menolak walau uang lebih mudah ia dapat, jadi kau mengerti!"


Syahila nyaris menangis saat kedua pria itu bersih kukuh berpendapat tentang dirinya. Tak beberapa lama foto shoot di mulai, Syahila memang Model beraura bintang, semua yang dilakukannya nyaris sempurna, baju yang ia kenakan pun sebenarnya tak menambah ke indahannya, lekuk tubuh Syahila membuat para pria tergiur menalan ludah.


Arsal yang mendapat kabar tentang istrinya itu akhirnya membatalkan penerbangan, Arsal datang ke studio foto dan menarik istrinya keluar.


"Kak, lepaskan aku masih banyak yang harus aku lakukan."


Tangan Arsal *** kencang lengan Syahila, membawanya pergi dari tempat itu.


Arsal hanya diam saat masuk kedalam mobil, setelah sampai di apartemen Arsal menghempaskan Syahila di ranjang, hingga Syahila memekik kaget.


"Kau mau semua semua pria menatap mu seperti aku menatap mu sekarang hah?" Arsal bertanya penuh nafsu tatapannya semakin panas.