
Berkeluh kesah dengan semua penderitaan ini hanya membuat ku lelah saja. Aku memilih menyendiri di kota ini bukan karena aku ingin hidup mandiri tanpa mereka, aku sangat merindukan mereka keluarga ku, namun bayangan peria di foto itu selalu membuat ku gelisah di setiap malam.
Aku tidak mengerti siapa dia, aku juga tak ingin bermimpi aneh tentang dirinya, malam malam ku terasa sangat menyiksa saat bayangannya hadir tanpa permisi, apakah dia pria yang memiliki hubungan dekat dengan ku ataukah itu hanya halusinasi ku semata?
************
Setibanya di Swiss aku dan beberapa anak buah ku mendapatkan kabar bahwa seseorang telah menunggu ku untuk makan malam di restoran yang telah menjadi tempat perjanjian kami.
"Tuan Tama? meja pesanan anda sudah kami siapkan, ruang VVIP di lantai 2 dengan nomor ruangan 24." Para pelayan itu melayani dan mengantar kami dengan baik, aku dipersilahkan duduk.
Mereka menyiapkan makanan bersamaan dengan datangnya tamu kami.
"Silahkan duduk tuan, lama kah anda menunggu kami?" Tanya tamu yang memang ingin mengajukan kerja sama pada perusahaan ku.
"Saya baru saja datang, kita segera poin utama atau?" ucap ku dengan tanda bertanya.
"Sebaiknya nikmati dulu saja jamuan yang telah tersedia, setelah itu barulah kita bicarakan poin penting dalam pertemuan kita kali ini."
Setelah kerja sama di sepakati aku dan beberapa anak buah ku memutuskan untuk minum kopi di lantai 3 restoran ini yang merupakan cafe dengan tempat terbuka, aku menyesap coklat panas yang ku pesan bersama sebuah roti yang akan menjadi kudapan kami.
Aku membahas beberapa hal dengan mereka tentang perjanjian kerja sama tadi, namun sepertinya ada kejanggalan dalam rincian proposal ini, seharusnya kami mendapat laba sebanyak 21% dari keseluruhan penghasilan, namun nyatanya? hanya 18% aku meminta Endrick untuk meninjau ulang semua data.
" aku tidak mau terjadi kesalahan dan mengalami kerugian, bahkan kebohongan, selidiki semuanya, jika perlu batalkan saja proyek ini jika memang ada main curang di dalamnya."
"Baik Tuan, saya akan segera mengoreksi dan menyelidiki semuanya."
Aku memilih untuk pergi ke apartemen ku yang berada di kota Basel, kalian tentu tau kan Basel, kota yang dijadikan pusat industri kimia dan perobatan, kota ini berbatasan dengan Jerman dan Prancis.
Aku tau Abang ku memiliki beberapa pabrik obat dan industri kimia di kota ini, namun semua diambil alih oleh negara karena Abang harus mengurus hal lain di Indonesia, namun yang ku dengar pihak negara yang mengurus masih menjalin hubungan baik dengan Abang, namun entah lah.
Aku memasuki lobby apartemen, aku melihat sesosok wanita cantik memasuki lift namun ketika aku teringat akan dirinya, dia menghilang seperti hanya halusinasi ku saja.
Agar lebih pasti aku menanyakannya pada resepsionis di depan.
" Permisi, bisakah saya mencari tau?"
" Ya tentu tuan, silahkan bertanya."
"Saya ingin tau apakah di apartemen ini memiliki seorang pemilik yang berasal dari Indonesia yang bernama Arbella Robert?"
" Arbella Robert?" lalu resepsionis itu mengetikan jemarinya pada sebuah keyboard.
" Maaf tuan, disini hanya ada satu pemilik yang berasal dari negara yang anda sebutkan tadi, yaitu tuan Alvin."
" oh ya? terimakasih."
Aku pun berlalu dan mencoba untuk menghilangkan Ara dari otak ku, namun tujuan pertama ku untuk istirahat malam malah terganggu dengan halusinasi ku terhadap nya.