
Di jam tengah malam seperti ini mengapa ada suara ribut ribut sih, bukankah Syahila sudah tidur? lalu apa yang berisik itu? dapur di apartemen ini terlalu bersih, mana mungkin tikus.
Akhirnya aku memantap kan diri untuk membuka mata ku, walau masih sangat mengantuk aku berusaha untuk bangun dan menagamati sekitar, aku menuju dapur.
Saat berada di dapur aku melihat sesosok wanita dengan rambut panjang bergelombang mengenakan gaun tidur terusan diatas lutut sedang menggoreng sesuatu.
Aku peluk saja ia dari belakang, karena aku sudah tau pasti itu Syahila, istri ku. Dia pun terkaget, kemudian memukul ku dengan spatula.
"Au... au... sudah Hila, kau melukai kepala ku." Aku menjerit merasakan sakit.
"Kak... maaf... maaf..." kemudian aku mengenggam tangannya.
"Tidak apa, kau mengapa masak di jam seperti ini?"
"Aku lapar, sangat lapar, oh ya, mau coba ayam goreng yang ku buat?"
"Tentu, dari aromanya ini sangat enak." Aku mengambil bagian dada ayam yang ia goreng, aku terdiam sejenak untuk menikmati bagaimana rasanya.
"Apakah tidak enak?" Syahila bertanya sambil menatap ekspresi ku.
"Kau punya saus sambal?"
"Ya tentu, kita punya itu di dalam kulkas." Syahila pun mengambilkan saus itu dari dalam kulkas.
Aku menuangnya kedalam piring kecil, kemudian aku memakannya bersama ayam goreng tadi.
Rasa ayamnya memang sedikit hambar dan tidak begitu enak, namun aku takut jika Syahila malah akan kecewa jika aku tidak memakannya.
Syahila juga mulai melahap ayam goreng buatannya, sejenak ia terdiam dan mengambil semua ayam goreng yang ada di meja.
"Mau kau kemanakan semua itu?" tanya ku.
"Kemarikan ayam goreng itu, kau hanya perlu memperbaikinya, bukan membuangnya, kemarikan." pinta ku pada Syahila yang nyaris saja menumpahkan semuanya ke tempat sampah.
Aku mengambil piring itu, "Sini, akan mubazir jika kau membuangnya."
Aku mengambil bawang bombay, bawang putih dan beberapa pelengkap lainnya.
"Kau punya madu?" tanya ku sambil meletakan pan di kompor.
"Ada, sebentar." Dia mengambilkan semua yang ku minta, dan pada akhirnya masakan ku jadi.
Aku menghidangi ayam ayam itu di piring.
"Ayo, kita nikmati, ini akan terasa lebih enak jika menikmatinya dengan senyuman mu." Syahila hanya tersenyum sambil mengunyah ayam itu.
"Emmm, kau ini memang yang terhebat, ini sangat lezat, kau bisa masak? kenapa kau tidak pernah masak dirumah?"
"Aku hanya bisa memasak makanan yang simpel, jadi jangan berharap banyak pada ku."
"Tetap saja kau menyelamatkan ayam ayam ini."
"Sudahlah habiskan, setelah itu lanjut tidur saja." Syahila mengatakan iya lewat senyumannya, kemudian aku mencuci tangan ku dan pergi ke ruang kerja ku, ada sesuatu yang harus aku kirim via email malam ini.
Aku membuka laptop dan akun email ku, aku membuka pesan yang masuk. Apa? jadi hari ini tanggal 5 April? ya jelas kami baru saja merayakan aniversary kami.
Jika di hitung hitung, seharusnya Syahila sudah telat datang bulan untuk bulan ini kira kira tujuh hari, tapi mungkin ini hanya dugaan ku saja.
Beberapa jam kemudian aku pun selesai dengan tugas ku, aku kembali ke kamar melihat Syahila sudah terlelap.
Aku mengelus perut ratanya, berharap dia hadir dan bukan hanya dugaan ku semata.