Just For Me

Just For Me
Hanya Milik Ku



Pagi setelah acara pertungan Arsal dengan Syahila, Tama memberikan hadiah ulang tahun untuk abangnya, semalam Tama terlupa karena ke asikan menggoda adiknya yang sedang bermesraan dengan calon suaminya.


Vera memang telah dilamar oleh Frasa Pradita, seorang pemilik sekolah menengah atas dan Pemilik Sains Record Institud sebuah lab penelitian ilmiah ternama.


Frasa juga seorang dosen di kampusnya.


"Vara, lo kenapa sih? lagi dapet ya? dari tadi diem aja, bahkan sarapan aja gak turun, emang lo gak ada jadwal praktek hari ini?" Tama duduk di sebelah Vara sambil mengacak acak rambut Vara.


"Mas, lo diem deh, bisa gak lo diem bentar aja? mereka bilang lo itu arogan dan dingin, tapi kalo deket gue kenapa jadi gak jelas dan ngeselin sih?" terang Vara sambil melepas tangan Tama dari kepalanya.


"Lo kenapa sih Vara?"


"Lu gak perlu tau mas, pergi sana!" Vara kesal dengan kelakuan kembarannya.


"Vara, cerita ga!" Tama dengan sigap mengunci lengan dan kaki Vara dengan tubuhnya.


"Lepas mas Tama..."


"Gak akan kalo lu gak mau cerita."


Vara menyerah dengan Tama dan akhirnya dia buka mulut.


"Janji lo gak akan ketawa ya mas, gue akan cerita sekarang."


Tama menunggu adiknya mantab bercerita, Tama tau Vara orang yang mudah menceritakan apapun padanya.


"Semalam setelah pesta Frasa pergi untuk pulang tapi sebelum itu dia bilang mau bertemu anak didiknya dulu di resto, mas lo tau gak anak didiknya Frasa itu perempuan."


"Perempuan itu udah lama suka sama Frasa sejak Frasa mengajar di SMA miliknya dulu, dia mengikuti Frasa sampai Frasa jadi dosen pun dia tetap menjadi anak didiknya." Tama mulai mencium aroma aneh dari sikap dan curhatan adiknya.


"What..? What hapend with you chubby? jangan katakan lo cemburu sama anak kemaren sore chubby?"


Tama mengejek sang adik yang terbakar dilema itu.


"Apa? tidak mungkin aku cemburu mas..." Vara memukul lengan mas dengan penuh manja.


"Vara percayalah pada Frasa, lo telah memilihnya sebagai pendamping, dan lo perlu tau pria itu butuh kepercayaan."


"Gue percaya sama Frasa karena dia cuma milik gue, dan gue juga mengerti keadaan Frasa dia guru dari perempuan itu tapi mas gue takut perempuan itu yang semakin menggoda untuk Frasa."


"Tuh kan berarti lu belum percaya Frasa sepenuhnya Ra, gue bilangin ya... pria itu kalau di kekang semakin brontak, ya lo boleh lah cemburu tapi pada batasnya. Gue gak tau kenapa sejak kemarin berbincang dengan Frasa sepertinya dia itu cuma milik lo deh Ra, gue belum pernah lihat laki laki sekagum Frasa saat menatap lo."


"Emang lo lihat apa saat Frasa menatap gue?"


"Gue melihat sesuatu yang menegaskan bahwa gak ada yang bisa milikin lu selain Frasa. Semua tentang lo ada dalam pengelihatan dan otak Frasa, bahkan saat bocara sepenuh hati Frasa gue rasa sudah teracuni virus Adivara Seano." Tama menatap adiknya dengan penuh lelucon.


" Aduhhhh, ternyata lo normal mas, ya Allah terima kasih kau tunjukan bahwa kembaran ku normal."


"Maksud lo apa Chubby?" Tama mendelik menatap adiknya.


"Aditama Yusuf ternyata kau tidak menjadi gay, kau mengerti tentang cinta dan perempuan, ku fikir kau selama ini tidak normal, karena kau tidak pernah puber atau memiliki seorang wanita." Vara terkekeh memandang mas nya, yang kemudian Tama mengacak rambut Vara dan mengikat tangan Vara mereka bercanda seperti anak kecil.