
Arbella terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak, Arbella menyadari adanya Tama di samping tubuhnya, tanpa mau membangunkan Tama, Arbella melangkah keluar kamar.
Arbella mencuci mukanya dengan sabun, bahkan meminta mouth wash milik Tama.
Arbella menuju dapur dia ingin membuatkan sarapan pagi untuk Tama, namun yang di dapatnya sekarang adalah rasa penasaran.
"Siapa wanita di foto itu?" Arbella menemukan foto remajanya bersama Tama, foto yang diambil saat salju pertama turun, saat rasa kecewa Arbella singgah, waktu dimana Arbella tau dirinya menderita penyakit yang sama dengan sang ayah, dan hari itu pula, Arbella memberikan seluruh hatinya untuk Tama.
Arbella masih mematung tak percaya.
"Mengapa gadis kecil ini mirip sekali dengan ku? apakah aku telah mengenal Tuan Aditama sebelumnya, Tuhan, aku sekarang sadar, tuan Aditama adalah orang yang sama dengan yang ada di foto keluarga Dokter Arsal, apa yang mereka sembunyikan dari ku?" Ucap Arbella dengan penuh cemas.
Arbella kembali ke tujuan awalnya, dia mengambil beberapa bahan dari kulkas dan membuat pie daging untuk Tama.
Tama terbangun saat mencium aroma harum dari dapur.
"Ara, kau memang selalu istimewa didalam kehidupan ku." ucap Tama, Tama bangkit dari tidurnya, dia mencuci wajahnya dan menemui Arbella.
"Kelihatannya itu sangat lezat nona Roberts?" ucapan Tama menyadarkan Arbella dari fokusnya.
"Kau sudah bangun tuan Aditama? aku hanya bisa membuatkan ini untuk mu, ya... semoga kau suka, dan maaf semalam aku tertidur pulas."
"Tidak apa, jika kau merasa nyaman di hunian ku yang membosankan ini."
"Terimakasih, oh ya, setelah ini aku kan kembali, aku masih ada mata pelajaran hari ini."
"Baiklah, mau ku antar?"
"Tidak perlu tuan, dokter Alvin akan menjemput ku."
Tama pun menerima penolakan dari Arbella dia tau jika terus memaksa hanya akan ada kecewa disana.
Arbella sedang menunggu Alvin datang menjemputnya, dari kejauhan mobil berwarna putih yang di kendarai Alvin sudah terlihat oleh Arbella, Arbella melambaikan tangannya, senyuman menghiasi wajah nya yang cantik.
"Kau berbeda hari ini, ada apa Arbella?"
"Entahlah, yang jelas aku sangat bahagia dan ingin selalu tersenyum."
"Dalam keadaan seperti apa?"
Alvin diam dan sejenak tersenyum dan melirik Arbella.
"Kau sedang Jatuh Cinta?"
Arbella melotot, jantungnya berdegup kencang dari biasanya, tangannya berubah menjadi dingin.
"Tidak." Namun dalam hati Arbella berkata, Mungkin.
Tak terasa mereka pun sampai pada tempat tujuan utamanya.
"Sudah sampai, nona..." ucap Alvin.
"Oh ya, dokter Alvin berapa lama kau mengenal Dokter Arsal?"
"Cukup lama dan dekat."
"Berapa anggota keluarga dokter Arsal?"
"Ada 3, Arsal, ayahnya dan dua adiknya."
"Aku mengenal Adivara, tapi..."
"Adik dokter Arsal yang satunya adalah pria, dia kembaran Adivara, namun selama ini dia tinggal di luar negri jadi aku tidak tau tentangnya."
"Baiklah, aku pergi, nanti siang jangan jemput aku, aku mau pergi ke kantor terlebih dahulu."
"Ya, terserah mu."
Lalu mereka pun berpisah, Arbella menuju ruang belajarnya, dan dia sedang sibuk membuka semua pelajarannya yang sebenarnya harus dia rangkum di Minggu terakhir ini.
"Apakah tuan Aditama itu adik dokter Arsal? tapi mengapa dokter Arsal tidak pernah memberi tahukan tentangnya? ah... memang aku siapa aku hanya orang luar." ucap Arbella dengan putus asa.