
Arbella sangat membenci pagi ini, dia mengamuk lagi, dia memecahkan cermin yang berada di dalam kamar itu hingga mengenai tangan dan kakinya.
Darah pun keluar dari kulit yang tergores, suara berisik itu mengintrupsi beberapa perawat yang menjaga nya.
"Nona, apa yang kau lakukan kau melukai diri mu sendiri."
Perawat membangunkan Arbella yang tersungkur menahan sakit dan air mata pun jatuh dari pelupuk matanya.
"Kenapa? kenapa kau masih perduli di saat aku sudah terlanjur jatuh pada pernikahan konyol ini, harusnya kalian bunuh saja aku!" Sahut Arbella dengan emosi yang menggebu.
Perawat pun menghubungi Arsal untuk memantau keadaan Arbella, sementara Tama hanya menatapnya penuh iba.
Tama datang dengan senampan sarapan untuk Arbella.
"Maaf kan aku telah memaksa mu untuk pernikahan seperti ini, tapi aku sungguh mencintai mu hingga semua memaksa ku untuk berbuat seperti ini."
"Tiada yang memaksa mu kau hanya dipaksa oleh egois mu! pergi! pergi dan tinggalkan aku, aku membeci mu!" ucap Arbella dengan emosi yang sangat membara.
Tama memeluk Arbella dengan penuh rasa sayang, dia menyalurkan semuanya dengan sepenuh hati, tapi Arbella hanya terkulai lemas dalam dekapannya.
"Aku membenci mu, aku tidak akan pernah menerima mu sebagai suami ku mengerti!"
Sebenarnya dalam hati Tama sangat sakit ketika Arbella wanita yang sangat ia cintai sangat membencinya bahkan menolak dirinya.
"Aku terima jika kau memang membenci ku dan tidak pernah menganggap cinta ku, tapi tolonglah jangan pernah sakiti dirimu sendiri." Ucap Tama yang kini melepas rengkuhannya pada Arbella.
Dilain tempat Arsal yang cemas dengan keadaan pasien tercintanya, Arsal melajukan mobilnya dan memecah jalan ramai sampai nyaris menabrak seseorang.
Sesampainya dikediaman Arbella, Arsal menanyakan semua yang telah terjadi pada suster, itu pun setelah perintah Arsal untuk memberi Arbella obat antidepresan lagi, karena semakin banyak emosi yang ada pada diri Arbella semakin parah juga gangguan Syaraf yang akan di alami.
"Mengapa semua itu bisa terulang kembali, saya hanya meminta kalian menjaganya selama saya tidak berada di sampingnya." Arsal membentak perawat yang bertugas saat itu.
"Maaf dokter, semua ini karena ulah pria yang tempo hari datang bersama dokter." jelas perawat pada Arsal.
"Apa? Maksudmu Aditama? apa yang anak itu perbuat hingga menimbulkan kekacauan yang seperti ini!" Arsal mendelik sepertinya perang baru saja akan segera di mulai.
"Maaf dokter, orang yang dokter maksud telah menikahi nona Arbella secara paksa saat dia sedang dalam pengaruh obat yang dokter berikan semalam."
"Apa? mana mungkin Aditama senekad itu, tidak bisa dibiarkan, dimana dia sekarang?"
"Kami tidak tau dokter, mungkin beberapa saat sebelum makan malam dia akan datang."
Akhirnya Arsal menunggu Tama datang di ruang kerjanya bersama para suster untuk saling berdiskusi tentang efek efek obat yang akan terjadi pada Arbella.
Arsal melirik jam tangannya.
"Sudah masuk waktu maghrib, saya mau solat dulu, kalian juga silahkan, saya akan meminta mbok Darmi untuk menyiapkan makan malam untuk kalian.
Ya mbok Darmi masih bekerja dengan keluarga Arafi, terutama untuk Arsal, karena selama Arsal ada di Indonesia, Arsal selalu membutuhkan bantuannya, Mbok Darmi kini sudah tak muda lagi, tapi dia cukup lihai menangani Arbella yang susah tidur dan susah makan itu, apapun yang di buat Mbok Darmi selalu di habiskan Arbella.
Arsal pun tenang ketika Arbella sudah mendapatkan ART yang cocok dengannya.
"Mbok, Nanti sehabis solat tolong sediakan makan malam ya, sepertinya Tama juga akan datang, sekalian buat makanan untuk Arbella dan juga para suster ya mbok, saya mau ke masjid dulu solat berjamaah disana" Ucap Arsal lembut, karena setelah Adila meninggal Arsal di asuh oleh mbok Darmi, sampai usia 10 tahun.