
Pagi ini Aditama Yusuf Arafi meninggalkan Inggris dengan jet pribadi miliknya yang baru saja ia beli bulan lalu.
Perasaan senang yang membuat senyumnya terpancar dan tak hilang dari wajahnya itu tak lain karena kepulangannya ke Indonesia tempat Tama di lahirkan dan di bimbing sampai ia tumbuh menjadi anak yang penuh dengan cinta.
Ketika ia mendarat, hal yang pertama kali ia lakukan adalah membeli sebuket bunga mawar merah, dan sebuah kalung.
"Kembalilah ke apartemen bersama yang lain,saya akan membawa mobil ini sendiri, dan jangan ganggu saya sampai besok pagi." perintah Tama pada beberapa asisten dan body guard nya.
Tama menyusuri jalan ibu kota dengan tenang, ia berhenti di pemakaman tempat bundanya tertidur dalam keabadian.
"Assalamualailum, bunda Tama datang, setelah sekian lama Tama tidak berkunjung, masihkah bunda mengenali Tama?" Tama berhenti bermonolog, dalam hatinya bersedih dia bahkan tidak tahu wajah sang bunda yang mengandungnya selama kurang dari 9 bulan.
"Ayah pernah bicara kita akan bertemu dan bersama nanti, benarkah bunda semua itu akan terjadi 25 tahun sudah bunda meninggalkan kami, tapi kami semua belum sedetik pun bisa melupakan bunda, bunda sampaikah doa yang selama ini Tama panjatkan pada Allah untuk memohonkan supaya kita bertemu nanti? Bunda Tama ingin sekali mencium tangan bunda." Tama meneteskan airmatanya, dia menaruh rangkaian bunga mawar yang memang kesukaan bundanya itu.
Tama berlalu meninggalkan area pemakaman, dia menyusuri jalan untuk kembali ke rumah.
Deru suara mobil Tama di dengar oleh Vara yang memang sedang libur dan membersihkan halaman bersama Mbak Darmi. Vara menoleh ke arah gerbang, menatap mobil Kembarannya itu dia pun bergembira dan menyambutnya.
"Bu Darmi, Mas Tama kembali, tapi benarkah atau hanya hayalan ku saja? dia terlihat lebih tampan dibanding dua tahun yang lalu?" "Iya benar nona, itu tuan Tama? dia seperti foto model ya.."
Tama menarik lengan Vara sampai Vara nyaris memeluknya, "Assalamualaikum chubby, kau semakin cantik dan imut saja, dua tahun tidak berjumpa begini penampilan mu sekarang?" Vara mencubit dan memelintir tangan Tama sampai dia kesakitan.
"Rasakan ini, aku menunggu mu kembali, tapi kau malah sibuk dengan semua pekerjaan dan bisnis mu, aku sudah tidak berharga lagi ya mas Tama, sampai kau melupakan ku?" Vara pergi merajuk meninggalkan Tama.
Tama mengejarnya berusaha meminta maaf tapi kali ini Vara benar benar marah pada Tama. "Chubby, ayolah buka pintunya aku minta maaf, aku tidak melupakan hari ulang tahun mu, aku membawa kadonya dua, dan aku meminta kado ku juga chubby, buka pintunya."
"Kau akan dapatkan kado jika kau menang melawan ku, Mas Tama kau keterlaluan!" Begitulah teriakan Vara dari dalam kamarnya, usia bisa dibilang cukup namun, mereka terlihat seperti anak kecil jika sedang bertengkar.
"Baiklah, nanti malam aku akan mengalahkan mu, dan bawalah kado untuk ku." Jawab Tama dan pergi dari depan kamar adik kembarnya itu.
Arsal memarkir kendaraanya di garasi, kedatangan Tama tidak diketahui olehnya, bahkan ayahnya pun tidak tau kalau putra keduanya itu kembali.
"Tidak tuan Arsal, itu milik tuan Tama."
"Tama kembali? benarkah? dimana anak itu?"
"Dia berada di kamarnya tuan, saya permisi dulu."
Arsal menuju kamar adiknya Tama, dia mengetuk pintu kamar, dan segera membuka pintu kamar adiknya itu.
"Tama, brother, kau waw..." Arsal mendekap Tama yang terbaring di tempat tidurnya, sambil menonjok kecil punggung adiknya.
"Hey... hey, beginikah kau memperlakukan ku yang baru saja kau temui? Abang kau begitu keren sekarang?"
"Oh ya? lalu menurut mu abang mu ini menerima jika kau lebih tampan dari ku?" Mereka terkekeh dengan perkataan dan ejekan yang terlontar dari mulut masing masing.
"Aku menagih janji mu." Arsal mendelik seingatnya dia tidak pernah bertaruh janji apapun pada adiknya.
"hey, jangan pura pura bodoh, kau dokter spesialis syaraf ternama, masa iya kau melupakan ucapan mu sendiri." Arsal makin tidak mengerti.
"Wanita mu, kau berkata akan memperkenalkannya pada ku ketika aku pulang dan menemui mu."
"Aku tidak pernah berujar begitu, Tama jangan kan wanita, mencari baju disini saja aku kesulitan." Begitulah Arsal semua baju yang dia beli semuanya tidak ada yang dia sukai, dan dia pun membelinya lewat asistandnya yang berada di Amerika.
"Jadi selama ini kau membelinya langsung dari Amerika?"
"Ya..."
Setelah melepas rindu lewat bercanda Arsal dan Tama turun kelantai bawah untuk menyambut sang ayah yang baru saja datang. Mereka berbincang dan saling berbagi cerita.