
Arsal saat ini sedang berada di ruang trapi para pasiennya. "Ya ini sudah lebih baik dibandingkan pada saat kemarin sebelum oprasi, sistem syaraf mu sudah membaik tinggal menunggu penyembuhaan pasca oprasi, dan kau akan menjalankan aktifitas dengan normal." Terang Arsal pada pasiennya.
Kemudian Arsal pergi menemui seorang wanita di cafe, tak lain dan tak bukan adalah Arbella, dia adalah seorang gadis belia, yang merupakan salah satu pasien Arsal sewaktu di Jerman. Arbella sangat menyukai panahan, bahkan dia telah menjadi atlet sekarang, namun kondisi syaraf mata dan tangannya menurun, sehingga menggangu pengelihatan serta daya geraknya. Arsal dan beberapa dokter ahli menanganinya, sebelum terjadi kelumpuhan lebih lanjut.
Arbella sangat menyukai Arsal, menurutnya Arsal sangat tampan dan dia adalah dokter faforitnya, semua dokter pernah melarang Arbella untuk melakukan beberapa olahraga namun Arsal mengalah untuk mengekangnya. Arsal mendampinginya dan selalu memberikan nasehat sesuai dengan porsi Arbella.
Arbella tersenyum saat dia mengetahui dokter pujaannya telah berdiri dihadapannya. "Dokter... kau datang." Arbella menelusuri setiap inci penampilan Arsal.
"Kau jauh lebih keren sekarang, dan apa ini?" Arbella terdiam menatap jari manis tangan kanan Arsal, tersemat cincin pernikahannya dengan Syahila.
"Kau telah menikah? Dokter kau telah menjadi milik orang lain?" Arbella masih meminta penjelasan dari pria yang ada dihadapannya.
"Iya." hanya itu yang dapat keluar dari mulut Arsal.
"Mengapa kau tidak memberi tahu ku, apakah aku tidak berharga lagi untuk mu?"
"Bel, sudahlah, kita tidak memiliki hubungan apapun selain dokter dan pasien, Bel, kau jauh dibawah usia ku, aku tidak bisa memberi mu harapan lagi, sekarang pergilah cari seorang yang mampu membuat mu nyaman dan yang terpenting mencintai mu." Ucap Arsal lalu menatap Arbella penuh pengertian.
"Kau adik kecil ku, aku tidak punya rasa yang sama terhadap mu."
"Baiklah, aku akan pergi, pergi jauh dari hidup mu, sampai saat kau mencari ku, maka hanya akan ada nama ku saja." Arbella pergi dengan mengurai air matanya.
Arsal mengejar Arbella keluar, Arsal menarik lengan Arbella sampai Arbella tersungkur memeluk dirinya.
"Apa yang kau lakukan, pergi dengan keadaan seperti ini? Bella sadarlah, aku lebih pantas jadi paman mu ketimbang menjadi kekasih mu." Arsal masih berusaha menyadarkan Arbella.
"Lantas? apakah cinta ku salah? perasaan atau diriku lah yang salah? dokter, sejak awal aku sudah katakan kau hanya milik ku dan hanya untuk ku, aku hanya ingin dirimu!" Arbella meronta di pelukan Arsal namun ia tak mau melepasnya.
"Bella, jika kau memang mencintai ku kau akan melepas ku demi bahagia ku, bukan menyiksa ku dengan rasa bersalah terhadap mu, aku menyayangi mu seperti adik ku, dan hanya sekedar itu, aku ingin kau mendapat yang terbaik, dan itu bukan aku." Arbella masih tidak terima dengan perkataan Arsal.
"Seperti apa wanita mu itu? yang kau sebut istri !" Arbella bertanya dengan nada kasarnya.
"Dia berbeda dari mu." hanya itu yang keluar dari mulut Arsal.
Mereka kini tak lagi berpelukan, Arsal dan Arbella saling menatap tanpa memecah keheningan.
Lalu ponsel Arsal berbunyi tertanda panggilan masuk, setelah itu Arsal pergi, mengantarkan Arbella ke rumah yang baru saja ia beli.
"Masuklah dan biarkan aku pergi." pinta Arsal pada Arbella.
Mau bagaimana pun Arsal menjauh dari Arbella mereka akan selalu dekat karena memang ayah Arbella telah menitipkan gadis kecil itu pada Arsal sejak tiga tahun lalu mendiang ayah Arbella meninggal dunia akibat Alzeimer yang dideritanya.