Just For Me

Just For Me
Arsal dan Syahila



Hari ini Arsal dan Syahila akan memeriksakan kandungan Syahila yang memang sudah cukup besar.


"Sayang, aku hari ini tidak begitu berselera untuk makan." ucap Syahila, padahal meja makan sudah penuh dengan banyak hidangan.


"Jangan turuti nafsu makan mu, kasihan dia, bagaimana jika dia sangat lapar di dalam?"


"Baiklah, aku akan berusaha untuk makan."


Arsal masih setia dihadapan Syahila menunggunya menghabiskan makanan.


"Sudah, aku sangat mual, aku tidak sanggup." ucap Syahila.


"Ayo kita berangkat sekarang saja."


Mereka pergi ke RS untuk memeriksakan kandungan.


Arsal menjadi sangat bahagia sekali ketika dokter memeriksa detak jantung sang buah hati yang masih berada dalam kandungan sang istri.


"Kencangnya detak jantung buah hati kalian, kurasa kalian harus melakukan USG untuk melihat jenis kelamin dan kondisinya."


Jelas dokter.


"Baiklah, lakukan saja, aku pun sudah tidak sabar untuk menyentuh dan menatap nya."


Dokter pun membawa perlengkapan untuk melakukan USG.


Syahila dan Arsal tersenyum senang, mengetahui sang bayi normal dan sangat sehat,


"Hidungnya mirip seperti mu?" ucap Syahila.


"jenis kelaminnya apa dok?"


"Dia laki laki."


Mereka kembali ke rumah, Syahila hanya dapat tersenyum dan menatapi laki laki yang berada di sebelahnya kini.


"Kau nampak bahagia sekali, sedari tadi aku memperhatikan mu."


"Ya... aku sangat, sangat bahagia. Ini kali pertamanya aku mendapatkan perasaan seperti ini." ucap Arsal dengan binar di matanya.


"Kali pertama?"


"Ya, kali pertama, aku tidak pernah merasa sebahagia ini, selama ini aku tidak perduli dengan kebahagian atau pun hal lainnya mengenai aku atau pun orang lain."


"Mengapa?" Syahila terus menanyai semua hal tentang perasaannya.


"Sejak usia ku berumur 3 tahun bunda telah meninggal, saat itu Tama dan Vara lahir, ayah tidak memiliki waktu untuk kami, meski terkadang ayah menjadi dua peran, namun aku tidak merasakannya, aku pernah berfikir, penyebab kematian bunda adalah mereka berdua, aku sempat membenci mereka, dan akhirnya Oma menyelamatkan ku dengan menyekolahkan ku ke Jerman, aku penuh tekanan, tapi aku yakin suatu hari seseorang akan datang dan menghapus semua rasa ini."


Syahila berusaha untuk mengerti dan memulihkan kembali perasaan bahagia suaminya, Arsal pun tersenyum dan mengecup tangan Syahila.


"Terimakasih, untuk semua kebahagian ini, kau mau mengandungnya dan menjaganya saja aku sudah sangat bahagia, aku tidak meminta apapun lagi dari mu dan yang terpenting, jangan kamu berfikir untuk memberi kebahagian lainnya, karena ini pun sudah cukup."


"Aku akan terus berusaha membuat mu bahagia, aku juga ingin berterimakasih, karena mu aku bisa merasakan bahagianya menjadi seorang ibu."


Mereka saling menatap dengan air mata haru yang menghiasi wajah Syahila, Arsal sangat bahagia, bahkan saking bahagianya dia tidak pernah berhenti tersenyum.


"Aku tidak ingin senyuman ini luntur begitu saja dari mu, aku mencintai mu Arsal, aku tidak bisa tanpa mu."


"Sayang, kau tidak boleh bicara seperti itu, meski aku meninggalkan mu nanti kau harus bisa menghadapi semuanya, seperti ayah, yang selalu bisa bertahan meski bunda tidak disampingnya, kau harus bisa mendampingi buah cinta kita sampai dewasa dan akhirnya menemukan kebahagiaannya sendiri, dan pada akhirnya kau harus bisa menemui ku di surga, sayang, cinta ku pada mu berawal dari ketidak sukaan sama seperti apa yang akan aku atau kau, yang menjalaninya nanti."


"Arsal, kau berjanji, jangan pernah tinggalkan aku sekalipun aku yang lebih dahulu pergi."


"Aku, berjanji, tidak akan ada wanita manapun yang bisa mengganti mu dan bunda dalam hidup ku."