Just For Me

Just For Me
Curhat Syahila



Arbella sekarang sudah sembuh, ia juga sudah tidak tinggal bersama kami, aku sedikit senang namun, saat ia pergi rumah menjadi kosong dan sepi.


Kak Arsal yang selalu pulang terlambat, ayah mertua ku yang sudah renta namun tidak mau berhenti bekerja, dengan alasan bosan jika dirumah, tidak ada yang dikerjakan.


Aku terkadang suka menghubungi Vara hanya sekedar menanyakan kondisi putri kecilnya yang diberi nama Felishia, dia bayi yang lucu, dia sangat ramah, terakhir melihatnya diacara bisnis tiga hari yang lalu.


Aku mulai merasa kesepian di dua tahun pernikahan ini aku semakin mengenal siapa suami ku sebenarnya, dia seorang yang dingin diluar namun penuh kehangatan di dalam, dia pria yang selalu membuat ku aman, membuat ku selalu perca bahwa apapun yang ku hadapi pasti bisa ku lalui.


Selama ini dia tidak pernah meminta atau membahas masalah buah cinta kami yang tak kunjung hadir, bukan karena tak perduli, namun karena dia tau bukan hanya dia yang merindukan itu semua.


Malam ini Kak Arsal kembali ke rumah dengan keadaan tubuhnya yang demam tinggi, wajahnya sangat pucat, aku terkaget saat menyentuh telapak tangannya yang dipenuhi keringat.


"Sayang, kamu demam? ayolah duduk disini."


Aku menyuruhnya duduk di tepi kasur, sembari membukan sepatu dan atribut lain yang masih menempel, kini dia hanya mengenakan celana pendek saja.


Aku mengambil handuk kecil untuk mengelap seluruh badannya, memakaikan baju tidur, kemudian ku tinggal ia sejenak untuk membuat minuman hangat dan sedikit makanan.


"Sayang, kamu makan dulu ya sedikit atau paling tidak minum ini, ini lemon dan madu baik untuk tubuh mu yang sedang seperti ini." Tanpa banyak tanya dia minum minuman yang telah ku buat.


"Sayang, aku pusing, bisa kau pijat sedikit kepala ku?" Pintanya,


"Baiklah Sayang, apa yang kau rasa lagi selain pusing?"


"Seluruh bada ku lemas." Dia menjawab dengan sangat pelan, aku memijit kepalanya lalu ku beri ia obat, tentunya obat itu sesuai dengan arahannya.


"Kenapa kau bicara begitu, biasanya kamu segera tidur dipangkuan ku tanpa minta izin."


Tanpa memberi jawaban dan alasannya ia memejamkan matanya, suami ku ini memang susah ditebak, kadang ia menjadi super jutek dan terkadang menjadi manja seperti sekarang.


Pagi pun tiba posisi tidurnya pun tak berubah, namun ada yang aneh saat aku terbangun, belum, belum terbangun bahkan aku tebangun karena nya.


Ada yang menganjal diantara perut dan paha ku, ya diantara kedua **** ku. Rasanya aneh seperti, yahhh ah sudahlah.


Ketika aku membuka mata ternyata suami ku yang melakukannya.


"Sayang? kau sedang apa?" Dia kaget tapi terus melanjutkannya.


Dia sedang asik bermain dengan v****a ku, semakin aku menolak dia malah semakin menjadi, aku hanya bisa menarik nafas dan menikmati setiap sentuhannya.


Ketika dia telah selesai dengan semua permainnan nya dia bicara sangat lembut pada ku.


"Sayang bagaimana jika kita ke villa akhir minggu ini, aku akan ambil cuti, kita akan berkuda dan bergulat sepanjang malam tanpa ada yang mengganggu, entah mengapa aku ingin sekali bermanja dengan mu."


"Apakah aku bisa menolak semua yang kamu inginkan, baiklah, kita buat suasana romantis yang jarang ku dapatkan."


Dia tersenyum dengan sangat manis dan kami berciuman dengan penuh gairah yang membara yang sedari tadi sudah membakarnya.