
Makan malam bersama pun di mulai namun ponsel Arsal berbunyi tanda vidio call masuk, Arsal menerima panggilan.
"Assalamualaikum abang Arsal ku yang tampan? ada ayah kah?" Siapa lagi kalau bukan tuan muda kedua yang berada jauh di Inggris.
" Waalaikum salam Ya, ayah, bu Darmi, Vara dan oma ada di sini hanya kau yang menghilang dari meja makan." Arsal mengarahkan kamera ponselnya kearah mereka.
"Haduh si tampan pujaan hati oma, kapan kamu pulang sayang, kami semua rindu pada mu." seru oma, yang hanya di senyumi oleh sang cucu.
"Tama, cepat kembali jagoan, kita kumpul sebentar lagi ulang tahun abang mu, kita harus rayakan bersama." ucap sang ayah.
"Baiklah yah, mungkin dalam minggu ini Tama akan kembali, kalian sudah makan malam ya di sana sudah pukul tujuh pastinya, aku pun sedang makan siang, baru selesai meating soalnya." Mereka makan bersama walau dalam jarak dan hanya bersua lewat gambar dan suara.
Malam pun berlalu, setelah solat subuh berjamaah, dan tentunya Arsal yang memimpin, Arsal dan Vara menuju taman, untuk l
joging, namun setelah joging Vara malah mengajak abangnya makan bubur ayam.
"Bang, enak gak? pasti di Amerika gak ada kan? uhhh kangen pasti sama makanan Indonesia."
"iya, gue kangen banget Ra, entar siang ayah ngantor kan, gue masih punya banyak waktu nih sebelum lisensi gue turun, gimana kalo kita kulineran Ra, balik lu praktek, gue jemput gimana?"
"Setuju banget gue bang, yaudah lu jemput ya..."
"Sip, sekalian nyoba mobil baru, siang ini dateng kok."
"Bagus gak mobilnya entar kalah lagi sama punya ayah."
"Tenang mobil orang ganteng tuh gak ada yang jelek." Inilah mereka saat sedang bersama hangat dan bila di tambah Tama pasti mereka akan menjadi gila mendadak, tapi jika di lingkungan kerja atau di luar saat tidak bersama seperti sekarang ketiganya hanya seorang yang dingin, sepi dan nyaris di tinggalkan dan disegani.
Sesampainya di rumah mereka segera bersiap, kalau Adivara pastilah ketempat kerjanya, sementara Arsal dia akan sibuk dengan beberapa pertemuan hari ini.
Vara mencium tangan ayahnya dan pergi meninggalkan rumah.
#Tempat Kerja Vara.
Setelan jas berwarna putih dengan garis batik yang dikenakan Vara serasi dengan name tag yang terlihat indah di jas Vara, kemeja hitam dan celana abu itu nampak indah ditubuh Vara yang mengenakan hiells lima centi tersebut.
"Masuk..." sahut seorang asistan yang menemani Vara bekerja.
Vara tersenyum menatap seorang anak yang datang untuk menemuinya, wajah wanita setengah baya didepan Vara pun mulai gelisah.
"Silahkan duduk ibu, ada yang bisa saya bantu? apa yang dikeluhkan atau perubahan apa yang terjadi pada anak anda?" tutur Vara dengan sangat lembut dan ramah.
"Begini dok, anak saya ini sedikit menurun kemampuan belajar serta sosialisasinya, dia bahkan pernah nyaris menimpuk temannya dengan batu bila mendekatinya, tapi tidak bila bersama saya." Vara mendengarkan cerita demi cerita yang disampaikan sang orang tua.
"Apakah ada yang salah terhadap anak saya dok?"
"Setelah saya menganalisa dari cerita ibu, mungkin ada sedikit problem dari teman temannya atau malah dari anak ibu sendiri, maka dari itu boleh saya bicara dengan anak ibu sebentar, ibu keluar dan tinggalkan kami, Key tolong." Keyzi yang mengerti dengan perintah Vara segera menuntun sang ibu keluar dari ruangan.
"Anak baik, siapa nama kamu ganteng? nama saya Adivara Seano Arafi, saya seorang pisikolog, kamu mau jawab pertanyaan saya?" Ucapan Vara hanya dia diami.
"Apakah ada masalah dengan saya, kenapa kamu menatap saya marah, jika saya salah tolong maaf kan saya, bisa kita berteman?"
"Tidak, saya benci teman."
Jawab anak laki laki itu tapi menatap Vara dengan sudut yang berbeda.
"Hey, teman itu tempat berbagi, tempat kita bicara, kenapa kamu membenci teman? apakah teman mu salah? jika dia salah maka bicaralah."
"Teman hanya mau menertawakan saya, teman hanya bisa mempermalukan saya, berulang kali di maafkan terus berulah lagi." jawab anak itu yang sekarang menunduk.
Lambat laun dia bercerita, dan Vara mengerti dia korban bullying.
Sang ibu kembali mendengarkan penjelasan Vara.
"Ibu sudah lihat, komunikasi saya dengan anak ibu, tidak ada pukulan terhadap saya, dia hanya syok secara mental, karena di permalukan, lebih baik sekarang berikan dia dukungan seperti kalimat positif yang terus memacu sisi percaya dirinya." Sang ibu mengerti dengan penjelasan Vara.
Jam pun berlalu dengan cepat, Vara telah memeriksa beberapa pasien yang menjadi tanggung jawabnya, bahkan pasiennya pun ada yang sampai sakit jiwa, Vara juga menangani masalah kejiwaan yang membutuhkan fokus lebih.