Just For Me

Just For Me
Mungkinkah Bisa



Syahila menatap buram kepergian Arsal, buram karena memang matanya sudah akan menangis, mendengar perkataan Arsal. Syahila sebenarnya adalah wanita yang mudah terluka hatinya, dia lembut namun hidup yang merubah dirinya.


Ayahnya yang meninggal saat usianya masih kecil, sementara sang ibu yang mengais rupiah demi kehidupannya, Syahila kecil memang berjuang untuk hidupnya. Ketika Sekolah menengah sang ibu jatuh sakit, dia harus menjual seluruh aset ayahnya, untuk bersekolah dan kebutuhan ibunya di rumah sakit, Syahila bertemu dengan seorang foto grafer yang mengajaknya masuk dunia modeling, dan bakatnya memang terbukti, wajah cantik, tubuh tingi dan juga lekuk tubuh yang sempurna, membuatnya cepat mengembangkan sayap hingga tingkat internasional.


Dunia tak semudah itu, kariernya tak berjalan seperti yang kalian fikir, Syahila pernah di tawari untuk tidur dengan beberapa pria berpengaruh dalam dunia model, beberapa perusahaan juga rela memberikan iklan iklannya untuk Syahila, asal dia mau kencan dan berhubungan badan dengan beberapa bos.


Jelas Syahila memegang teguh prinsipnya, dia benci bisnis yang seperti ini, sampai dia bertemu dengan Zulfikar ayah dari Arsal, Zulfikar menawarkan beberapa kontrak perusahaannya bahkan mau meminjamkan sejumlah uang untuk kelangsungan hidup Syahila.


Saat itu Zulfikar hanya kasian seorang gadis kecil harus berjuang di dunia keras seperti modeling. Syahila menerima bantuan demi bantuan, sampai akhirnya Syahila bisa go internasional dan pergi ke Itali.


Sebenarnya hutang Syahila pada ayah mertuanya itu sudah selesai, tapi karena hutang budi dan janji Syahila pada Zulfikar akhirnya Syahila menerima tawaran Zulfikar untuk menikah dengan Arsal.


Acara pesta pun selesai, Syahila di tuntun untuk menganti busananya di kamar rias.


"Kak, bisakah kau gunakan ini terus, kau sangat cantik." ucap Vara pada iparnya.


"Vara, mengapa kau memuji ku? bukankah kau adalah salah satu heters ku ya?" jawab Syahila sambil bercanda, karena memang Vara suka membully nya.


"Aku berjanji tidak akan jadi heters mu lagi, jika kamu mau berubah."


Vara berlalu meninggalkan Syahila yang membuka gaun pengantinya.


Tama masih mengobrol dengan rekan Arsal, begitu pula Arsal. "Jadi terimakasih ya tuan Tama atas bantuan anda kami bisa segera memulai proyek kami." Ucap salah satu dari mereka.


"Ya tuan, kakak anda lah donatur itu." jawab seorang wanita yang sangat terkesan dengan para pria Arafi ini.


Arsal yang merasa lelah berpamitan untuk meninggalkan ruangan.


Sesampainya di kamar hotel Arsal menatap Syahila yang telah rapih dengan baju tidurnya. Bukan baju tidur seperti apa yang kalian bayangkan, bukan lingeri atau yang lainnya, tapi celana pendek dan kaos oblong.


Arsal diam dan memasuki kamar mandi ketika Arsal keluar kamar mandi Arsal sudah heran sesetel pakaian tidurnya sudah ada di atas kasur bersama minuman hangat yang tersaji diatas meja.


"Kak, kau sudah selesai?" Tanya Syahila yang baru saja masuk kedalam kamar hotel.


"Kau yang menyiapkannya?"


"Ya, aku fikir kau lelah, jadi aku meminta pelayan menyiapkan ini untuk mu." Arsal diam dan meminum tehnya.


Arsal naik ke atas ranjang dan menutup setengah badannya dengan selimut.


Syahila diam di sofa dan mengamati Arsal.


"Dia masih saja terlihat tampan walau usianya berbeda enam tahun dari ku, mungkinkah aku bisa menjadi seperti apa yang dia inginkan?" Gusar Syahila, dia menumpuk bantal di sofa dan mulai terlelap disana.