Just For Me

Just For Me
Buat Cucu



Syahila masih dalam keadaan heran mengenai ucapan suaminya.


"Maksud mu apa sih?" Tanya nya pada Arsal yang mulai merebahkan badan di kasurnya.


"Ayah meminta mu dihamili oleh ku dan kamu harus melahirkan cucu laki lakinya yang TAMPAN SEPERTI KU, MENGERTI !" lalu Arsal menahan malunya dengan menutupi wajahnya dengan bantal.


Syahila tersenyum menyibak bantal yang menghalangi wajah suaminya.


"Bagaimana bisa aku hamil? dengan inseminasi?" Syahila mengenggam tangan Arsal.


Arsal hanya menatap Syahila penuh selidik.


"Maksud mu?"


"Ya, seperti sapi yang di kloning."


"Apa yang kau katakan, masih ada aku, aku bisa secara normal dan alami menghamili mu, itu mudah untuk ku." Arsal tersulut emosi.


"Lalu mengapa kau takut hingga kita belum pernah melakukannya lagi sejak malam itu, dan aku sungguh tidak meragukan kemampuan mu itu." ucap Syahila menggoda.


"Apa yang ku katakan, aduh aku keceplosan dasar Arsal mulut dan emosi mu itu ya..." ucap Arsal merutuki kebodohannya dalam hati.


"Kak, jika boleh jujur aku tidak suka dengan perlakuan pertama mu di malam itu, kau kasar sekali dalam permainan, jika kita lakukan lagi bisakah kamu lebih lembut?" ucap Syahila, Arsal segera menjelaskan kejadian itu secara ulang.


"Tama memasukan obat perangsang khusus kedalam minuman ku, itu yang menyebabkan ku menyentuh mu secara berutal, kau masih ingat kan kejadian itu."


"Ya, aku ingat, siapa yang pertama kali meminta dan menerobos masuk juga aku ingat." Jawab Syahila yang kini memeluk Arsal dari samping. Arsal yang biasanya tak pernah seintim ini dengan Syahila tidak menolak.


"Syahila, tidurlah di sini, jangan kembali kekamar sebelah lagi."


"Baiklah, apa kita jadi buat baby nya kak, aku mau merasakan sentuhan dan keahlian mu tanpa mengunakan obat perangsang."


Arsal hanya menatap lurus mata Syahila lalu, Arsal melumat bibir penuh Syahila dengan lembut.


Arsal mulai meraba ******** Syahila dengan lembut, lalu Syahila mendesah dengan pelan menatap Arsal.


"Seperti ini yang kau suka, maaf aku telah lama mengabaikan mu, saat kau mengharap kan kebutuhan lebih dari ku."


Syahila mengelus pelan rambut Arsal dengan jemarinya.


Arsal mulai menjangkau area area sensitif Syahila sampai Syahila gemetar hebat.


"Ahhh... kak, auhhh kau begitu lembut dan hebat ka... uhhh" Syahila seperti ada di fantasi berbeda.


"Syahila, boleh aku menyatukan kita sekarang?" tanya Arsal pada Syahila yang sedang mabuk akan sentuhan lembut Arsal.


"Ya, kak, aku menginginkan itu, lakukan seperti apa yang kau inginkan." Tanpa aba aba Arsal memasukan miliknya kedalam v****a istrinya itu.


"Ah... Syahila, kenapa aku sangat sakit sekarang?" Arsal bertanya pada Syahila yang juga sama menahan rasa nyeri saat di masuki Arsal.


"Aku juga tak tau kak, mungkin karena sudah lama tak kau sentuh, dan kembali seperti semula saat pertama kau menyentuh ku." jelas Syahila yang gemetar di kuasai rasa sakit dan gairah.


Sudah enam menit berlalu, Syahila sudah merasakan *** nya yang pertama tapi Arsal belum sedikit mu menunjukan tanda ingin berhenti.


"Syahila kau tau ini sangat memabukan, seperti pertama kali aku baru menyentuh mu, milik mu begitu nikmat, aku menyukainya."


"Nikmatilah, apa yang ada pada diriku semua hanya milik mu seorang Cinta ku." Arsal masih tenggelam dalam permainan, sampai beberapa saat Arsal mendesah.


"Ahhh... Syahila... Auhhhh... I love you Baby." Arsal menyemburkan semua benihnya di dalam rahim Syahila.


Arsal mengecup kening Syahila yang di basahi peluh akibat ulahnya.


"Benih benih papa tumbuhlah dengan baik disana, kalian berkualitas kan." Arsal berucap sambil mengecup perut bawah Syahila dimana tempat terhangat tebalut disana.