
Waktu pun berlalu kini Arbella sudah sadarkan diri.
Sejak saat pertama ia membuka matanya dan bangun dari kondisi kritisnya Syahila lah yang menemani, menguatkan bahkan bersedia untuk selalu berada di sampingnya.
Arbella sudah mulai pulih dari keadaan pasca oprasinya, namun dia kini hanya dapat tersenyum, menatap tanpa bisa berbuat apapun.
Tama sampai saat ini belum juga dapat dihubungi, sebulan lamanya ia menghilang bahkan tak ada satupun yang dapat melacak keberadaannya.
Arsal dan Syahila kini berada di ruangan Arbella untuk memulai trapy pertamanya.
"Arbel, kakak yakin kamu bisa melewati semua ini, kakak berjanji saat kamu sudah pulih, disaat kamu bisa kembali berbicara dan berktivitas seperti biasa, kakak akan menjadi orang pertama yang selalu ada disamping kamu, kamu semangat ya sayang." Ucap Syahila dengan penuh rasa iba dan sayangnya pada ipar yang telah dianggapnya sebagai adik kandungnya.
"Syahila, ku harap kau bisa meninggalkan ruangan sekarang, kami akan mengunakan obat dan bahan radio aktiv untuk trapi pertama ini, berdoa dan mohonkanlah kesembuhan untuk Arbella sayang." ucap Arsal yang segera menuntun tangan istrinya itu keluar.
***********
"Tuan Tama, para pesuruh ayah anda sedang mencari anda sejak sebulan yang lalu, tuan, saya hanya menyampaikan bahwa kehadiran anda sangat di perlukan sekarang."
"Tinggalkan tempat ini, aku hanya ingin sendiri." perintah Tama pada asistennya itu.
"Aku pun sangat merindukan kalian, namun masih banyak hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu." Tama pergi meninggalkan ruangan itu ia menuju garasi tempat penyimpanan mobil mobil mewah koleksinya.
Tama datang kesebuah tanah dimana terbentang danau dan pepohonan pisnus yang menambah kesan sejuknya.
"Ara, impian kita akan segera terwujud, kita akan membangun rumah kita sendiri di tanah ini, tempat dimana kita bisa menikmati kesejukan dan keindahan, Ara ku harap kau bisa melupakan abang ku, dan memilih ku sepenuhnya."
"Ara, mengapa kau memiliki hati untuk abang ku, bang Arsal memang lebih hebat dari ku, tapi aku yang mencintai mu Ara. Untuk mendapat kan mu aku memang memaksa namun mengapa kau sebegitu kecewanya ketika kau tau bang Arsal adalah kakak ku, mengapa Ara? Apa rasa mu terlalu dalam untuknya atau kau memang jatuh cinta padanya, lihatlah saat aku kembali aku akan membuat mu tak akan pernah melepas ku atau melirik yang lain, semuanya tentang mu akan terpusat pada ku Ara."
Tama menatap lurus dia berjalan ketepian danau sejenak menatap langit, membayangkan betapa indahnya masa lalunya bersama istrinya itu.
**********
"Sayang, trapinya sudah selesai, kau mau menemuinya?" Tanya Arsal yang baru saja keluar ruangan trapy.
"Bagaimana keadaannya? apakah semuanya baik?"
"Ya, tentu aku berharap dalam satu bulan kedepan Arbella sudah dapat berbicara, sayang, aku berharap banyak pada mu, bantu dia untuk melewati ini semua." Arsal menatap Syahila dengan mata serta wajah memohon.
"Sayang, apakah selama satu bulan terakhir aku pernah sekali saja lalai untuk menjaganya, meskipun tugas ku menjadi istri dan penanggung jawab kedua di kantor mu, tapi aku tidak pernah lengah dalam merawat dan memperhatikan Arbella, sayang percayalah pada ku, aku akan menjaga dan merawatnya seperti adik ku sendiri." ucap Syahila sungguh.
"Terimakasih sayang, kau mau melakukan semuanya untuk ku, besok aku akan menambah satu asisten dan seorang suster untuk membatu mu."
"Tidak perlu, bawa saja semua pekerjaan itu kerumah, lalu akan mengerjakannya, sekalian merawat Arbell, bagaimana?"
"Terserah saja, sekarang masuklah dan temani dia."
Syahila pun masuk kedalam ruang perawatan Arbella.