
Tama menatap Arbella khawatir, Arbella tidak membahas apapun lagi setelah menarik selimutnya, Tama merapatkan tubuhnya memeluk Arbella dari belakang, dia mengecup pundak Arbella.
"Ada apa baby? kau kenapa, apa ada yang salah, kau mengeluarkan keringat dan badan mu dingin?" Tama masih melekatkan tubuhnya pada Arbella sambil menyingkirkan rambut panjang istrinya itu.
Arbella masih diam merasakan gejolak dalam perutnya yang sangat mengganggu, sampai akhirnya Arbella menyibak selimut dan berlari menuju kamar mandi, dia kembali memuntahkan isi perutnya.
Tama memijat tengkuk Arbella, ketika telah selesai Arbella membalik badannya dan memeluk Tama, dia menghirup aroma Tama tanpa mau berhenti.
"sayang? ada apa? masih mual, mau muntah lagi?" Arbella hanya menggeleng dan masih menciumi aroma baju Tama yang begitu membuatnya tenang.
"Kita kembali ke ranjang, aku akan menggendong mu." ucap Tama.
Tama menggendong tubuh kurus Arbella, dia merebahkan tubuh lemah itu di ranjang.
"Bisa buatkan aku teh hangat panas, aku ingin minum sesuatu yang manis dan panas." Arbella meminta dengan lirih dan lemas.
Tama menuju dapur dan membuat teh untuk Arbella.
"apa yang terjadi kepada istri ku, aneh sekali... apa firasat ku benar ya? Jika dihitung dari pertama kali kami melakukannya, bisa jadi itu menghasilkan, tapi apa mungkin secepat itu?" Tama bermonolog sendiri, dia mengaduk teh di dalam cangkir keramik yang ia bawa.
"Baby, ini sayang ayo minum." ucap Tama yang segera di sambut oleh Arbella.
"terimakasih, tapi kenapa rasanya hambar? kau tidak menambahkan gula?" tanyanya, Tama memasukan gula sesuai seleranya, Tama tidak suka terlalu manis, cendrung tawar.
Tama tersenyum. "Maaf, aku lupa jika kau sangat suka manis, baiklah aku akan menggantinya, tunggu sebentar." Tama kembali turun kelantai bawah untuk membuat ulang teh yang di minta istrinya.
"Huh... jika benar di dalam sana ada buah cinta kami maka aku akan sangat menjaganya, aku juga akan meminta dirinya di layani dengan sepenuh hati." Tama kembali menuang gula kedalam cangkir.
"Dua sendok teh kurasa cukup, lagi pula dia harus mengurangi gula jika memang dia sedang mengandung."
Tama kembali kedalam kamarnya, namun saat ia menatap Arbella untuk memberikan teh panas itu, justru Arbella malah terlelap dengan nyenyaknya, bahkan ciuman singkat di dahinya tidak membuat dirinya terbangun.
"Selamat tidur kesayangan ku, ku harap dia tumbuh dengan baik, aku akan menjaganya." lalu Tama naik keatas ranjang menyusul Arbella yang sudah masuk ke alam mimpi.
"Sayang, kau sedang apa?" tanya Arsal pada Syahila."
"Katan menangis, aku harus memompa ASI ku terlebih dahulu, supaya tidak terlalu cair untuk di minum." jawab Syahila.
Hari sudah malam, namun mereka berdua terbangun saat si putra mahkota pewaris kerajaan Zulfikar terbangun dari tidur nyenyaknya.
Arsal beralih menggendong putranya, dia mencium pipi bakpao milik sang putra.
"Kau sangat menggemaskan Katan, lihat Daddy mu sayang, kau begitu tampan dan mirip sekali seperti Daddy." Syahila mendekat dan menatap dua orang berbeda generasi itu.
"Berikan kepada ku, aku akan menyusuinya, supaya ia bisa tertidur lagi." ucap Syahila yang merentangkan kedua tangannya.
"Sama mommy dulu ya sayangnya Daddy, nanti kalau sudah kenyang baru Daddy gendong lagi." ucap Arsal penuh dengan kebahagiaan.
Pukul dua dini hari Arsal masih bermain dengan sang putra yang kini berusia tiga bulan.
"Sayang kamu belum mau tidur juga, sudahlah biar aku yang menjaga Katan, kamu tidurlah." ucap Syahila yang tadi tertidur sebentar, lalu terbangun ketika mendengar gelak tawa dua orang terpenting dalam hidupnya.
"Mana bisa aku terlelap saat anak ini masih terjaga, kecuali kalau..."
"Kalau apa Sayang?" tanya Syahila.
"aku tidur di pangkuan mu, lalu kau membelai rambut ku, aku pasti akan segera tidur." Syahrial tersenyum dengan permintaan Arsal.
"Baiklah, kemari."
lalu Arsal, tidur di pangkuan Syahila, sementara Katan berada dalam gendongan Syahila, Syahila juga mengelus rambut Arsal dengan lembut.
Dan Arsal beserta Katan tidur dengan mudahnya, Syahila mencium kedua pangeran itu dengan haru.