Just For Me

Just For Me
Sadar



Hari berganti, Arbella berjalan di koridor rumah sakit dengan tergesa dia hendak mengantarkan baju ganti untuk Syahila dan Arsal pagi itu.


"Dokter Arsal, ini baju ganti yang di titipkan oleh Asisten rumah tangga mu." Arbella menyerahkan paper bag pada Arsal yang masih setia menunggui istrinya belum sadarkan diri sampai hari ini.


"Aku mandi dulu Arbella, kau jaga Syahila jika terjadi sesuatu tolong secepatnya panggil dokter atau suster di luar."


"Baiklah dokter."


Asal pun segera memasuki kamar mandi dan Arbella menatapi kak iparnya itu.


Arbella menatap lekat kulit putih dan raut pucat dari wajah perempuan yang terbaring itu.


"Kenapa kak? kenapa disaat ku telah temukan kebahagiaan kau malah terbaring seperti ini, Kak bangunlah, aku merindukan mu, aku tak melihat dan bercengkrama langsung dengan mu sudah selama dua tahun terakhir kak, aku ingin bicara pada mu sekarang, bangun kak lihat dan tatap malaikat kecil mu itu, yang selalu kau ceritakan pada ku semasa dalam kandungan."


Arbella menangis air matanya jatuh membasahi punggung tangan Syahila.


"Bangun kak aku ingin melihat kebahagian dalam kehidupan mu, aku mau menyaksikan keluarga bahagia mu bersama buah cinta kalian, bangun... bangun kak."


Tak berselang lama, tangan Syahila bergerak dengan sendirinya. Arbella yang panik segera memanggil dokter, dan Arsal pun keluar dari kamar mandi dengan berpakaian rapi.


Dokter memeriksa dan menepuk pelan pipi Syahila.


"Nyonya, nyonya Syahila, bangunlah, buka matanya nyonya."


Syahila pun membuka matanya, tatapannya masih berkabut, samar ia menatap Arsal dan Arbella, Syahila tersenyum dengan manisnya.


Arsal yang terpaku mengelus punggung tangan Syahila, titik air mata memenuhi kelopak mata Arsal, rasa haru dan bahagia menjadi satu, Arsal tak mampu lagi untuk berkata.


"Kak Hila? terimakasih ya Tuhan kau telah membangunkan dirinya dari tidur panjangnya, Kak, maukah kau lihat pangeran kecil mu? dia sangat tampan dan menawan." ucap Arbella dengan antusias nya.


"Arbella, Syahila pasti mau menemui buah cinta kami, namun sekarang istirahat lebih di butuhkannya." Jawab Arsal dengan lembut namun tegas.


"Sayang, berapa lama aku terbaring disini?" mata Syahila menatap manik Arsal.


"Sekitar 4 hari."


"Tentu, aku akan bicara pada suster dan dokter yang menangani mu, aku akan mengusahakan agar kau bisa dengan cepat menimangnya."


Syahila pun tersenyum bahagia.


Tama bergegas keluar dari dalam mobilnya menuju ruangan Syahila untuk menjemput Arbella.


Namun kabar bahagia datang dengan begitu cepatnya, Arbella menghubunginya, bahwa Syahila sudah sadar dan akan segera di pindahkan kedalam ruangan rawat di lantai 3 rumah sakit.


Tama pun menaiki lift yang tersedia disudut koridor, Tama sangat bahagia, setidaknya hari ini dia akan melihat keluarga abangnya bahagia.


Ponsel Tama berdering tanda panggilan masuk.


"Vara? ada apa dia menghubungi ku?"


"Hallo... Mas kenapa lama sekali di jawabnya?" ucap Vara.


"Kau ini, ucapkan salam terlebih dahulu Vara."


"Baiklah, Assalamu'alaikum kembaran ku yang paling manis..."


"Waalaikum salam adik ku yang cantik, ada apa tumben?"


"Aku dengar dari Frasa, kakak ipar telah melahirkan? bagaimana kondisinya sekarang?"


"Ya, betul Syahila sudah melahirkan putra pertamanya, dan cucu laki laki pertama ayah, keadaanya sudah cukup membaik, jangan khawatir."


"Maaf aku tidak bisa datang, kehamilan ku kali ini cukup melelahkan, untuk beranjak dari kasur pun aku tak mampu, apalagi jika harus keluar dari negara ini."


"Kami bisa mengerti Vara, jaga saja kesehatan mu, bayi mu dan keponakan ku yang imut itu."


"Baiklah mas,nanti akan ku hubungi lagi, Frasa memanggil ku."


Sambungan pun terputus, Tama melangkahkan kembali kakinya menuju ruangan Syahila.