Just For Me

Just For Me
Awal Baru



Arbella kini berada di apartemen nya, sepi itu suasana yang tepat di gambarkan sekarang, hanya sendiri berteman ponsel yang sedari tadi memutar musik klasik.


"Aku suka dengan senyuman yang dia pancarkan sedari dia menjabat tangan ku, tapi siapa dia yang begitu ku damba." ucap Arbella yang matanya kini memburu ke segala arah.


Dilain tempat seorang pria sedang memandang lurus ke depan, kaca kaca kamarnya yang menjadi saksi bisu betapa hancurnya pria ini.


"Mengapa dia melupakan ku? mengapa dia tak menyadari sedikit pun kehadiran ku, Ara bila cara ku yang kejam dengan menikahi mu tanpa persetujuan mu yang membuat mu sangat membenci ku dan terluka, dan bila kepergian ku selama dua tahun terakhir dapat mengobati luka mu, maka aku rela kau bersama Alvin, atau siapapun dia yang dapat membuat mu tertawa lepas, atau bahkan jika kau menginginkan Arsal dalam hidup mu, maka akan kau dapat kan asal kau mau menganggap dan mengingat ku lagi."


Tama merasa hatinya tersayat dia belum mengetahui apapun tentang istrinya kini.


"Ada apa?" Tama menjawab panggilan masuk di ponselnya.


"Tama, kau dimana? kau baik baik saja bukan."


"Jika kau hanya ingin tau keadaan ku aku masih sama hilang arah dan selalu mencari Ara ku."


"Kau sudah d Basel kan? Kau menemui Alvin?"


"ya... dan aku sudah menemui Ara ku. Tapi dia berubah, bisa kau jelaskan sedikit tentang dia?"


"Dengarkan aku, Arbell melakukan operasi pasca aksi bunuh diri yang ia lakukan, ia selalu menyebut nama mu, namun operasi mengakibatkan memorinya hilang, dan setelah itu Arbell hanya bisa mengingat seseorang yang ingin dia ingat, trauma di otak membuatnya mengalami hal seperti ini.


Tama tugas mu kini hanya membuat lembar baru dalam hidupnya, dia sangat kehilangan mu, saat itu begitu pun sekarang dia membutuhkan mu, umurnya sudah cukup, pernikahan mu dengannya juga sah, jadi dia masih istri mu."


"Apakah setelah dia memiliki memori baru tentang hubungan ini, apakah dia akan menerima ku, apakah dia akan mencintai ku seperti yang aku inginkan?"


"Aku akan selalu membantu mu, aku tau apa yang adik ku butuhkan Tama, urusan Arsal yang selalu menentang mu, serahkan semuanya pada ku, aku akan terus berusaha mempersatukan mu."


"Terima kasih Hila, kau ipar ku yang terbaik, terimakasih juga atas diri mu yang memberi tau keberadaannya, aku satu apartemen dengan dirinya, aku akan datang ke apartemen nya malam ini."


Tama memutuskan sambungan ponselnya, Tama mengambil jaket kulit berwarna biru tua miliknya dan membawa kue yang tersaji di meja makannya untuk alasan bertemu Arbella.


"Siapa malam malam bertamu?" ucap Arbella, seraya membuka pintu.


"Selamat malam,. oh... Hay nona kau penghuni kamar ini?"


"Oh, tuan?"


"Aditama, kau masih ingat dengan pesta bisnis Minggu lalu kan?"


"Tentu tuan Tama, ada apa? apa ada yang bisa ku bantu? oh ya... silahkan masuk." ucap Arbella dengan ramah.


Tama duduk di sofa ruang tv, menatap kesegala arah mencari tau tentang Arbella.


Arbella pun datang membawa teh untuk Tama.


"Nona, ini ku bawakan kue untuk mu, aku hanya ingin berkenalan dengan tetangga baru ku, aku baru saja pindah ke sebelah."


"Oh ya, tuan? kalau begitu ku kira kita bisa menjadi teman."


"Tentu, kita akan menjadi teman, kau tinggal sendiri?"


"Ya, aku tinggal sendiri, sebenarnya ini bukan apartemen ku."


"Lantas, milik pacar mu?" ucap Tama menyelidik.


"Bukan, ini milik tuan Alvin, dia dokter ku, dia juga yang menjaga dan memfasilitasi ku selama di Basel."


"Oh, tapi apa kau memiliki rasa pada tuan Alvin, secara dia seorang dokter, pengusaha dan Tampan.


"Dia bukan pilihan." Jawab Arbella dan kini suasana semakin canggung.