
Aku tetap menahan marah ku walau seharusnya ku keluarkan begitu saja. Aku tau ia lelah mangkanya aku mengalah, aku mengambil koper untuk membereskan keperluan Arsal selama di luar negri.
"Sudahlah aku tidak akan membawa apapaun asistan ku sudah menyiapkan semuanya yang aku perlukan, istirahat lah."
Dia sudah merendahkan nada bicaranya dan kini selimut telah menutup dirinya yang hanyut dalam mimpinya.
Aku masih menatapi dirinya yang pulas di alam mimpi. Aku mulai mengelus rambutnya, Kak kenapa ku menjadi seperti ini, mengapa rasa menyesakan ini selalu hadir saat kau tertawa bersama yang lain, mengapa sikap mu berubah saat bertemu Mrs Marlin, dan mengapa kau seperti tak melihat ku ada saat aku mengantar makan siang mu tadi.
Air mata masih tertahan di pelupuk mata ku namun aku melihat ponselnya menyala, ketika ku lihat nama Arbella tertera di sana, nama yang sama dengan yang dia sebut tadi pagi saat menerima telpon, nama yang bisa menjadi fokusnya untuk meninggalkan sarapan dan melupakan aku.
Aku mengangkatnya.
"Hallo?" sapa ku saat sambungan terhubung.
"Bisa bicara dengan Dokter Arsal, kamu siapa?" Tanya wanita itu pada ku yang hanya ragu menjawabnya.
"Ini sudah malam bukan kah kau lebih baik menghubungi suami ku di jam kerjanya saja, dia sudah tidur aku tidak bisa membangunkannya, dia baru saja terlelap." jelas ku.
"Oh, kau istri dokter? sampaikan padanya aku menungunya."
Aku hanya diam saat kata kata "menunggunya" tertangkap pendengaran ku.
Akhinya air mata pun jatuh berderai.
Ya Allah kenapa sangat sesak, aku semakin mencurigai suami ku.
Pagi pun tiba, Arsal dan aku kesiangan untuk solat subuh. Arsal juga harus bergegas terbang dengan jet pribadinya.
Dia masih mendiami ku, dia tidak bicara apapun, jika dia marah tak apa dan seharusnya aku yang marah bukan?
Wajah penuh emosi itu terus menghujam ku.
"Arbella menelpon semalam dan kau yang menjawabnya?" Aku hanya diam mengingat hal semalam.
"Jawab Hila!" nadanya sedikit naik sekarang.
"Siapa Arbella?" aku hanya menjawabnya seperti itu.
"aku butuh jawaban ya atau tidak, bukan pertanyaan seperti itu."
"Jawab saja, siapa dia pasien mu? adakah pasien yang meminta konsultasi pada dokternya di jam suntuk seperti semalam?" Nada bicara ku sedikit mulai naik.
"Hila, kau tidak mengerti betapa dia membutuhkan ku semalam!" kata membutuhkan semakin tajam menusuk rongga dada ku.
"Di jam seperti itu? masih banyak dokter di luar sana yang bisa membantunya! kau baru saja terlelap dan jika aku membangunkan mu maka sampai detik ini kau tidak akan mendapat waktu istirahat sedikit pun dokter Arsal yang terhormat!" Aku mulai hilang kendali pada ucapan ku.
"Syahila! Aku tidak perduli dengan kondisi ku, aku hanya butuh Arbella selamat!" ucapnya marah.
Baiklah dia mulai membentak ku menyadarkan sebuah posisi diri ku yang sebenarnya.
"Batalkan penerbangan sampai dua jam kedepan, saya memiliki masalah darurat." ucapnya pada ponsel dengan bahasa Inggrisnya.
Bahkan ia rela mengulur waktu hanya untuk wanita itu, menjijikan perselingkuhan seperti apa ini sebenarnya.
Dia berlalu meninggalkan ku dengan penuh amarah, bahakan dia enggan melempar tatapan pada ku.
Kak aku tidak akan pernah menyerah pada mu, aku akan melunakan kembali hati mu.