Just For Me

Just For Me
Mode Marah



Arsal masih saja memikirkan kejadian dua hari lalu, sampai saat ini dia belum bertemu dengan Syahila lagi, Arsal menginap di rumah Arbella bersama beberapa orang dokter lainnya, Arbella mencoba untuk bunuh diri kali ini, maka dari itu Arsal masih stand bay disana.


Syahila mulai memikirkan suaminya yang tidak kembali sejak pertengkaran itu, hanya bisa merenung di pinggir kolam renang. Namun suasana berubah saat Vara datang menemuinya di apartemen, Vara datang atas permintaan Tama, dia disuruh Tama menghibur Syahila, dan sedikit memeriksa pisikologinya.


"Hai, Vara kau apa kabar, bagaimana dia didalam sana?" Tanya Syahila pada Vara yang dengan santainya masuk tanpa ketuk pintu.


"Aku baik baik saja Syahila, bagaimana dengan mu, oh ya... abang mana ya, dia tidak ada di kantor dan di rumah sakit pun aku tak melihatnya." tanya Vara yang semakin membuat Syahila khawatir, namun Syahila sangat pintar mengalihkan pembicaraan.


"Duduklah Vara, aku ambilakan makanan dan minuman dulu ya, kau mau apa jus atau minuman lainnya?" tawar Syahila.


"Aku hanya ingi teh tawar dingin, bisakah kau buatkan untuk ku?"


"Baiklah, tunggu sebentar." Tak lama Syahila datang dengan tray penuh makanan dan dua gelas minuman.


"Kau sudah USG? apa jenis kelaminnya?" Syahila membuka pembicaraa.


"Sudah, aku sudah USG untuk jenisnya aku belum bisa mengetahuinya, baby nya ngumpet."


"Kau pasti bahagia sekali ya, tak lama menikah segera di karuniai bayi." suara Syahila seperti kecewa, di sentuh Arsal sekali saja, Arsal menyesal apa lagi kalau dirinya sampai hamil.


"Ya, aku sangat bahagia dan bersyukur, kuharap Abang dan kamu juga bisa merasakan kebahagian kami saat ini."


Syahila kembali mengingat suaminya yang masih marah dan tak tau dimana sekarang.


Hari sudah senja, Vara juga sudah di jemput Frasa di lobby.


Vara pun pulang dengan mengambil beberapa kesimpulan dari pembicaraannya dengan iparnya tadi.


Vara menghubungi Arsal namun juga tak di jawab, akhirnya pesan pun dikirimkan Vara.


To. Abang Arsal


"Abang, kembalilah kerumah, istri mu sangat khawatir dengan keberadaan mu, bang dia sangat mencintai mu, jangan ragu lagi terhadap perasaan mu, aku tau aku tak boleh ikut campur, tapi ku mohon dengar aku sekali ini saja, Syahila juga tak mau seperti ini bang, maafkan dia jika bukan karena aku maka karena calon keponakan mu yang sangat bersedih sekarang."


Arsal melihat pesan masuk yang dikirim adiknya, pada awalnya Arsal tak menggubrisnya, namun ketika nama Syahila tertera di panggilan masuk Arsal berubah pikiran. Arsal masih tak menjawab panggilan Syahila, ini yang ke lima kalinya, dan Arsal masih diam, Hingga akhirnya panggilan ke 10 pun masuk. Arsal bangun dari duduknya dan masuk kedalam mobilnya.


Arsal melajukan mobil dengan kecepatan rata rata. "Mungkinkah aku terlalu keras pada Syahila, apa aku keterlaluan? ahhh... kurasa tidak dia memang pantas di bentak."


Arsal sudah sampai di lobby apartemennya, dia menaiki lift sampai kelantai huniannya. Arsal membuka pintu, lalu melirik kedalam kamar Syahila yang sedikit terbuka.


Dia begitu terenyuh saat mendengar doa sang istri yang mengenakan mukena sehabis solat isya.


"Ya Allah, kabulkan lah doa ku, jaga lah suami hamba dari segala bentuk kejahatan,jagalah ia Ya Allah berikan dia kemudahan dalam setiap langkah yang ia ambil, ya Allah jika memang untuk membuatnya jatuh cinta pada ku sangat sulit, maka lunakan saja sedikit hatinya untuk ku ya Allah, aku tidak apa jika harus menjaga dan mencintainya secara sepihak asalkan sikapnya pada ku sedikit melunak." Syahila berhenti berdoa dan beranjak dari tempan sujud nya.