Just For Me

Just For Me
Abang yang Kejam



Tama mengetuk pintu, kemuadian suster pun membukaan pintu untuknya. Tama masuk kedalam rumah lalu menuju kamar Arbella.


"Tuan, sebaiknya tidak usah masuk, nona sedang dalam pengaruh obat, saya hanya tidak mau nanti hal yang tidak di inginkan akan terjadi." Begitu jelas suster.


"Baiklah, apakah dokter Arsal ada datang?" tanya Tama dan kemudian Arsal berada di hadapannya.


"Ada apa Tama kau mencari ku? kau merindukan sesuatu?" Dan tiba tiba Tama tersungkur mendapat bogem mentah dari Arsal.


"Aku sudah pernah memperingatkan mu sebelumnya jika kau mencintainya kau hanya perlu menjaganya, tidak untuk menyakitinya!" Dan lagi lagi Arsal menghantam Tama hingga darah keluar dari sudut bibir Tama.


Satpam rumah pun akhirnya memisahkan mereka, Tama pun menjelaskan dengan penuh ketenangan di meja makan. Arsal mengambil P3K di atas meja kerjanya.


"Maaf kan aku bang, aku hanya ingin menjaganya dari dekat, aku sangat mencintainya, maafkan aku karena telah melanggar semua kata kata mu untuk tidak berbuat nekat, aku pun tidak meminta izin atas pasien mu."


Arsal masih terfokus pada wajah adiknya yang lebam akibat emosinya.


"Aku juga minta maaf atas apa yang aku perbuat pada wajah tampan mu Tama, tapi semua akan lebih parah jika kau berbuat lebih dari hanya sekedar menjaganya... Kau Faham!!!" Arsal menekan setiap perkataannya.


"Yah... bang kau terlalu kejam pada ku, aku seorang pria, sejauh ini aku tidak pernah tersentuh wanita, masa iya kau tega jika adik mu ini sudah trun on." Wajah Arsal memanas seketika.


"Jadi kau mau mati di tangan ku?"


"Makan lah setelah itu kau bangunkan Arbella untuk makan, dia akan stabil malam ini, tapi jangan coba coba untuk menyentuhnya, jika kau nekat maka besok pagi akan jadi pagi teburuk mu."


"Baiklah, aku hanya akan sedikit mengodanya malam ini." jawab Tama. Tama dan Arsal makan malam bersama, Tama masuk kekamar Arbella, Tama mengecup dahi sang gadis, Arbella masih diam dengan mata terpejam, namun Tama tidak menyerah dia membangunkan Arbella dengan sangat lembut, hingga mata itu saling bertatap.


"Ayo bangun, kau harus makan, aku tau kau marah pada ku, tapi bisakah kita berteman sekarang, berteman saja." Arbella masih menitih setiap perkataan Tama.


"Berteman dengan mu? jika hanya teman aku bersedia, tapi jangan berharap banyak dari itu." Jawab Arbella lirih, itu pun karena efek obatnya.


Tama menyuapi Arbella yang terkulai lemas dengan hati hati.


"Kamu harus selalu sehat, kamu tidak boleh sakit, karena aku akan lebih sakit Ara ketika kamu sakit, maukah kamu memulai segalanya seperti lima tahun lalu saat kita berada di Inggris?" Arbella hanya diam mengamati Tama.


Tama menggenggam jemari Arbella.


"Sejak saat kita bertemu di sekolah mu, aku sudah jatuh hati pada gadis kecil yang menatapku dengan senyuman manisnya, Sejak saat aku mengenal mu sikap dingin ku perlahan menghilang, saat kau bahagia mendapat mendali emas mu saat bermain panahan, aku jadi orang pertama yang kau peluk, aku bahagia saat itu, lalu apakah kau ingat saat libur musim dingin kau bersama ku mengitari taman dengan salju yang turun dengan lebatnya dan kau mengatakan pada ku, hanya aku yang dapat mengerti hidup mu, tidak ayah atau pun ibu mu." Arbella juga mulai mengingat masa itu.


Masa dimana dia dan Tama seperti paman dan keponakan, masa dimana Tama menjadi satu satunya teman yang mengisi dunianya.