Just For Me

Just For Me
Gelisah



Tama dan Arsal sedang berbincang diruangan meating yang biasa mereka pakai untuk rapat. Arsal terlihat kesal padahal baru saja dia bertemu dengan adiknya itu.


"Bang, ada apa dengan mu? baru saja menikah tapi wajah mu seperti itu." ucap Tama yang kini duduk di depan kursi Arsal.


"Sudahlah Tama jangan mengusik ku lagi, atau aku akan membanting mu." Arsal terdiam, raut wajahnya tak berubah.


"Sepertinya abang ku tidak mendapat jatah di malam pertamanya, mungkinkah Syahila belum siap? kita lihat saja beberapa bulan kedepan." Ucap Tama yang hanya bisa di simpannya dalam hati.


"Tama, aku ingin membeli dua unit apartemen, bisakah aku membelinya dari mu?" Tanya Arsal.


"Apa kau bilang? kau ingin keluar dari rumah kita?" Tama kaget mendengar abangnya, yang wajahnya kesal namun kata katanya sedikit ngawur.


"Ya, aku ingin membina rumah tangga ku sendiri tanpa campur tangan orang lain bisakah?"


"Tidak usah membelinya, aku dengan senang hati memberinya untuk mu, sebagai hadiah pernikahan." jelas Tama yang segera menelpon seorang andalannya.


"Akan ku kirim alamatnya pada mu, tapi kenapa kau ingin membeli dua unit apartemen? bukankah kalian bisa tinggal di satu apartemen yang sama?"Tama bertanya dengan heran.


"Aku tidak bisa menyesuaikan diri dengan wanita seperti dia, di jam seperti ini pun dia sibuk dengan perannya sebagai model." Tama jelas mengerti sekarang apa yang dialamui sang kakak.


Arsal menjawab pangilan ponsel nya, segera bangun dari duduknya dan berlenggang pergi. Arsal menaiki mobilnya dan menuju proyek pembangunan rumah sakitnya.


"Ada kendala apa? mengapa menelpon ku di jam sibuk?" tanya Arsal pada salah satu rekannya.


"Maaf tuan Arsal tapi kami sangat butuh tanda tangan mu sebagai ketua perencana."


"Dimana aku bisa tanda tangan, aku harus segera kembali, aku memiliki pasien pada jam dua nanti." jelas Arsal.


Setelah Arsal menyelesaikan semua tugasnya Arsal kembali ke rumah sakit.


"Ada di ruang tunggu dokter."


"Persilahkan saja masuk, supaya aku bisa segera memeriksanya."


Tak lama pasien pun masuk kedalam ruangan. Arsal kaget, menatap siapa yang datang.


"Dokter Arsal... Akhirnya kita bertemu kembali, aku sangat merindukan mu, aku tidak ingin dokter lain yang menangani kasus ku." Wanita kecil itu bicara merajuk manja pada Arsal.


Dilain tempat Syahila sedang memoles wajahnya karena sebentar lagi foto shoot akan segera di mulai.


"Nona, bisakah kita mulai sekarang?" tanya seorang disana.


"ya, aku sudah siap." Syahila memulai perkerjaannya berlengok memamerkan busana yang terpasang di tubuhnya. Setelah tiga jam lebih bergonta ganti pakaian akhir nya Syahila bisa melakukan break.


"Syahila, selamat ya atas pernikahan mu, maaf aku tidak bisa hadir karena aku harus pergi ke Paris kemarin, oh ya mengapa kau tidak ambil cuti?" tanya seorang model lain yang memang akrab dengannya.


"Ya tidak apa, cuti? untuk apa aku cuti?


"Honey moon, memang kau tidak menginginkannya?"


" kau tau hidup ku selama ini untuk apa kan? honey moon hanya bayangan untuk ku." Terlihat sekali wajah kecewa pada raut Syahila.


Syahila menyesap kopi saat menaiki mobil yang menjemputnya. "Pak, kita mau kemana?" tanya Syahila ketika menyadari bukan rumah Zulfikar lah yang mereka tuju.


"Tuan Arsal lah yang menyuruh kami untuk mengantar nona kesuatu tempat." Syahila hanya diam mendengar penjelasan supir tersebut. Syahila menatap jalan menuju tempat yang dimaksud.