
Tama kembali ke kediaman istri kecilnya itu, Tama membuka pintu kamar Arbella perlahan, Tama takut kehadirannya hanya akan mengganggu istirahat gadis kecilnya.
Tama menatap Arbella yang lelap dengan sejuta cinta yang ada dalam otaknya.
Dia mencium kening sang istri dengan hati hati.
"Ketika ku putuskan untuk menjebak mu dalam sebuah pernikahan aku sudah siap menerima semua resikonya, termasuk kau menolak kehadiran ku." ucap Tama lirih dalam hati sambil mengecup punggung tangan sang istri yang terlelap.
Arbella mulaiterusik dengan kehadiran Tama, Arbella mulai membuka matanya perlahan.
Tama gelagapan, karena takut Arbella akan mengamuk lagi.
"Kau sudah kembali paman?" Tanya Arbella lirih dengan suara seraknya.
"Ya, seperti yang kau kira, bahkan aku belum berganti pakaian kan?" Jawab Tama kemudian berlalu begitu saja.
Arbella memutuskan untuk mencari kemana Tama pergi, ternyata setelah Arbella menuju ruang keluarga, Arbella menyaksikan Tama sedang tertidur mengenakan celana pendek dan juga kaos oblong dengan lambang puma.
Arbella mendekat untuk menyelimutinya, namun Tama terbangun dan menatap Arbella lekat, sementara yang di tatapnya, hanya menunduk memegang selimutnya.
"Kenapa kau menyelimuti orang yang kau benci?" Tama mulai menyinggung perasaan terdalam Arbella, namun Arbella hanya diam dan menunduk.
"Paman, aku hanya tidak mau kau kedinginan."
"Kau tidak mau aku kedinginan? jika seperti itu berarti kau masih perduli pada ku, anak kecil." ucap Tama mengejek lalu pergi dari sofa.
Tama berjalan cepat menuju lantai dua dimana ada kamar tamu yang dipersilahkan Arsal untuk Tama menginap.
"Paman, kau kemarin berkata pada ku untuk memulai semuanya dari awal, tapi mengapa sikap mu menjadi seperti ini." Arbella masih ada di depan pintu kamar Tama, namun yang berada di dalam kamar enggan untuk membukanya.
Dalam hati Tama "Aku tidak mengerti tentang mu Ara, kau marah tapi rasa itu tidak pernah pudar dari tatapan mu saat menatap ku, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan terhadap mu, kau mengatakan membeci dan tak akan pernah bisa mencintai ku, tapi mata dan gerak tubuh mu berkata lain Ara, biarkan aku seperti ini dulu Ara." Keluh Tama dalam hatinya.
Arbella pun lelah menunggu Tama sampai akhirnya dia tertidur di depan pintu itu.
Beberapa jam berlalu akhirnya Tama terbangun, dia sengaja memasang alarem pada ponselnya untuk mengecek keadaan Arbella sudah tidur dan sudah minum obat atau belum? Selama tiga hari ini Tama selalu memperhatikan Arbella dan melakukan hal seperti itu, dia hanya sekedar mengamati lalu pergi.
Tama membuka pintu kamarnya, dia reflek berlutut untuk menangkap tubuh Arbella yang tersandar pada daun pintu.
"Ah... kau ini, kenapa bisa tertidur dalam keadaan seperti ini?" tanya Tama dalam nuraninya.
Tama mengendong Arbella untuk baring di ranjang Tama, dia memberikan kecupan pada pelipis Arbella.
"Andai kau milik ku seutuhnya Arbella, aku pasti sangat bahagia, beri tau aku bagaimana cara membuat mu kembali pada ku, sakit mu pun bukan penghalang sayang." Tama mencium kening Arbella lalu hendak pergi.
Tama berhenti, ketika jemari lentik itu terkepal erat bersama jemari Tama.
"Bisakah kau berikan aku pelukan hangat mu paman? kau bilang ingin memulai semuanya dari awal, lalu mengapa kau menjadi seperti Guru Tama yang dingin?" Tama menatap manik hazel itu.
"Kau tau betapa sakitnya aku saat kau pergi tampa pamit, sejak saat itu, sejak saat kau hilang, aku telah berubah menjadi Tama yang egois, pemarah dan dingin!" Ucap Tama yang tak sampai hati menggores luka di hati Arbella.