Just For Me

Just For Me
Rencana



Hari demi hari berlalu waktu sepertinya sedang berpihak pada Arbella, gadis ini telah memperlihatkan banyaknya kemajuan yang dia dapat setelah beberapa kali mengikuti trapy rutin setiap minggunya.


"Akhirnya, terimakasih ya Allah, Arbell sekarang sudah dapat mengerakan rahang, dan suaranya sudah kembali." Bahaginya Syahila sudah dapat mendengar suara Arbella lagi.


"Terimakasih ka, sudah merawat dan bersedia untuk ku repotkan, aku berhutang banyak kepada mu."


"Sayang, itulah keluarga, hanya aku yang kau miliki sekarang, maka dari itu sudah kewajiban ku membantu mu."


Arsal yang mendengarkan percakapan istrinya itu tersenyum dan keluar dari ruang kerjanya.


"Kau bahagia sekali sayang, apa kabar ini sangat menakjubkan untuk mu?" Arsal mencium pipi istrinya.


"Ya, kau benar aku sangat bahagia, Arbell bersiaplah untuk tahab berikutnya, kau harus bisa berjalan paling tidak berdiri di trapy bulan depan."


Arsal berjongkok menatap Arbella.


"Kita semua akan membantu mu untuk semua itu, aku juga akan memberikan semua perawatan terbaik untuk mu."


"Terimakasih kak, kalian berdua memang pasangan yang serasi, si tuan putri yang amat sangat sabar dan pengertian, sedangkan pangerannya, baik hati dan berjiwa besar, tak perduli berapa sulitnya menjaga ku kalian tetap mau merawat ku."


Syahila tersenyum bersama Arsal, mereka bahagia, sangat bahagia.


Malam pun tiba, Arsal merasa ada yang aneh pada istrinya semenjak tadi sore, namun Arsal ragu untuk mempertanyakan itu. Sampai akhirnya Syahila membuka kegelisahannya itu.


"Sayang, aku ingin memberi tau mu sesuatu, tapi berjanjilah untuk tidak marah."


"Aku tidak tau ini akan merusak atau tidak namun ini kabar yang akan mengejutkan. Setelah dua bulan berlalu Tama menghilang, tadi pagi ia menghubungi ku, dia bertanya tentang ayah dan dirimu, sempat menanyakan Arbella namun telponnya terputus, kami tidak bicara banyak, hanya singkat."


"Lalu? apa dia memberitau dimana dirinya sekarang?"


"Ya, aku melacaknya lewat komputer mu, dia ada di Inggris, sampai saat ini dia belum tau kondisi Arbella, tapi entah mengapa aku merasakan dia sedang membuat suatu rencana untuknya dan Arbella."


Arsal terdiam sejenak, bukannya tenang dia malah semakin cemas menebak apa yang sebenarnya ingin adiknya lakukan itu.


"Sudahlah apapun yang adik mu rencanakan itu, semoga adalah yang terbaik untuknya, aku hanya bisa mendoakan, oh ya besok kita jadikan mengantar Arbell untuk pergi ke taman, aku ingin sekali melihatnya keluar dari ruangan dan rumah ini."


"Kita akan mengajaknya pergi, bukan hanya ke taman tapi kali ini kita akan berlibur, aku ingin mengajaknya ke vila."


"Benarkah? aku akan menyiapkan peralatan dan kebutuhan kita disana."


Arsal sengaja mengajak Arbella dan Syahila berlibur ke luar kota, karena dengan begitu kejenuhan dan perkembangan pisikologis Arbella juga pasti akan membaik, Selain itu Arsal juga ingin mencari tau apa yang sebenarnya Tama rencanakan dengan mengirim orang suruhannya pergi, tanpa diketahui siapapun, dengan begitu Arsal akan lebih leluasa bekerja.


"Sekarang kita sudah sampai di villa, oh ya, sayang kamar untuk Arbella ada di sebelah sana." Arsal menunjuk salah satu kamar di sudut ruangan, kamar dengan furniture yang dominan navy itu sangat luas bahkan bisa dibilang mewah.


Syahila mengantar Arbella untuk beristirahat dikamar itu.


"Nikmatilah istirahat mu, aku tau kau pasti lelah dalam perjalanan panjang lemari, aku tinggal ya."


Arbella tersenyum dan mengamati tiap sudut ruangan sesuatu yang membuatnya yaman dan janggal dalam hatinya.