
Hari sudah semakin larut jam dinding telah menunjukan bahwa hari telah berganti.
Tok... tok... tok... suara ketukan pintu tak di gubris oleh sang penghuni apartemen mewah ini.
"Mungkin kak Arsal belum kembali." Syahila menatap layar ponsel kemudian menghubungi Arsal.
"Assalamualaikum, kak Arsal kamu dimana?" tanya Syahila dengan nada lelah, Syahila baru saja mendarat di bandara dua jam lalu, badannya sangat lelah dan membutuhkan kasur.
"Aku sedang berada diluar, kenapa?" Tanya Arsal kembali.
"Aku ada di depan pintu apartemen aku tidak dapat masuk karena aku tidak memiliki kunci akses untuk masuk."
"Baiklah akan ku hubungi seseorang untuk memberikan card akses pada mu, tunggu sebentar." Arsal pun menghubungi orang yang dimaksudnya.
Kini Syahila bisa dengan nyaman merebahkan dirinya di atas kasur.
"Huhhh hanya ini yang aku butuhkan." Tak lama dia mengistirahatkan tubuhnya dia kini sudah berada di dapur, padahal sekarang sudah jam 4 pagi.
"Kak Arsal, kak Arsal." Syahila berdecak saat mengetahui keadaan dapurnya yang berantakan dan juga isi kulkas yang kosong.
"Baru ku tinggal satu minggu sudah seperti ini, untung saja aku sudah berjanji pada ayah mu untuk selalu bersama mu." Syahila terus menggerutu sampai akhirnya dia selesai mencuci semua yang peralatan makan yang kotor.
Sayahila menunaikan solat subuhnya, kemudian dia masuk kedalam kamar Arsal, lagi dan lagi dia merasa tak seharusnya meninggalkan Arsal terlalu lama.
Syahila menganti bad cover pada ranjang sang suami, dia memasukan semua pakaian Arsal yang tercecer kedalam mesin cuci.
Arsal kembali ke Apartemennya, dia melihat seluruh sudut ruangan menjadi sangat bersih. "Ku kira dia akan marah dan berdebat dengan ku, sehingga tidak ada waktu untuknya pergi, dan aku bisa berlama2 mengodanya." Ya... benar kekacauan yang dibereskan oleh Syahila tadi adalah ulah yang di sengaja oleh Arsal.
Arsal bergegas untuk mandi dan beristirahat sejenak.
Arsal mengendus wangi masakan yang sangat lezat sampai dia menyadari bahwa perutnya meronta untuk segera di isi.
Arsal keluar dari kamarnya, kehadirannya disadari oleh Syahila yang sedang memasak sup dan beberapa makanan lainnya.
"Kapan kau kembali? mengapa tidak membangunkan ku?" tanya Syahila pada Arsal.
"Tadi tepat pukul 7 aku hanya tidak tega membangunkan mu."
"Apa saja yang kau perbuat selama aku tidak disini, kau bukan orang yang jorok selama 8 bulan aku mengenalmu, lalu mengapa apartemen ini menjadi sangat kotor?" Syahila menuntut penjelasan, sementara Arsal duduk dengan santai menyesap jus yang sudah lama tak terhidang pada menunya.
"Tidak ada yang spesial, aku hanya tidak sempat merapihkannya, aku kan sudah bilang aku akan sangat sibuk ketika kau pergi, oh ya... kau mau kemana lagi setelah ini?" tanya Arsal penuh kebohongan supaya Syahila tidak tahu maksudnya yang terselubung.
"Tidak ada hanya ada beberapa meating, untuk nanti malam, siang ini aku akan istirahat saja, aku sangat lelah, seminggu itu sangat menyiksa ku." Tutur Syahila.
"Bukankah pekerjaan mu hanya di make up, bergonta ganti pakaian dan berlenggok menurut dengan fotograver saja."
"Kamu ini kak, pekerjaan ku memang bukan seperti mu yang bergulat dengan kertas, tulisan angka maupun pasien, tapi semua itu juga menggunakan tenaga, cobalah sekali kali menjadi aku." kesal Syahila kemudian membongkar kopernya.
Arsal masih mengodanya, kini dia juga mengacak koper Syahila, Arsal terkejut dengan apa yang ia temukan disana.