
Entah kenapa di pagi hari ini badan ku terasa lemas, apakah aku tertular suami ku yang demam semalam, aku seakan tak punya tenaga bahkan hanya untuk berjalan ke kamar mandi yang mungkin berjarak kurang dari 5 meter di depan ku.
Aku melihat jam dinding ternyata sudah sesiang ini, sudah pukul 10.00. Aku melihat kearah samping, suami ku sudah tidak ada disana, namun ketika aku memantapkan diri untuk melangkah, langkah ku yang gontai ditangkap oleh tangannya.
"Sayang, hati hatilah, kau terlihat sangat pucat." perkataanya membuat ku semakin yakin bahwa aku memang sedang tidak enak badan.
Tanpa banyak tanya dia mengantar ku untuk kembali tidur.
"Sayang aku periksa kondisi mu dulu ya?" Aku hanya mengangguk ketika dia berkata kata dan mengambil peralatan untuk memeriksa ku.
Matanya menatap ku, seakan bertanya tentang sesuatu, saat dia mulai memeriksa denyut nadi dan beberapa gejala ku.
"Sayang? kapan kamu terakhir datang bulan?" Hati ku berdebar tak karuan saat ia menanyakan itu.
"Aku lupa, karena siklus ku tak teratur." Jawab ku dengan takut.
"Baiklah, aku akan membeli sesuatu ke apotik,kau mau pesan apa?" tanyanya lagi pada ku.
"Belikan aku bubur ayam yang ada di pertigaan kompleks, aku ingin sekali makan bubur, oh ya aku ingin banyak daun bawang dan juga cakwe nya."
"Baiklah, nyonya ada lagi yang kau ingin?"
"Aku ingin kau mencium kening ku dan memeluk ku sekarang." tanpa aba aba dia mencium kening ku, pipi ku secara bertubi tubi dan aku yang gemas segera saja memeluknya erat.
Dia pun pergi, setelah menulis resep yang disarankan oleh temannya lewat telpon.
Aku menunggunya datang, namun setelah lumayan lama menunggu perut ku menjadi terasa aneh, rasa mual hadir dan kepala ku rasanya sangat pusing, aku menuju kamar mandi dan mengeluarkan semua isi didalam perut ku.
Tak lama dari itu suami ku datang, ia membawa pesanan ku dan beberapa obat, dan yang paling mengejutkan, ia membawa alat uji kahamilan.
Tanpa banyak bicara aku melakukan uji kehamilan, rasanya jantung ku ingin mencuat keluar, sekitar lima menit aku berada dikamar mandi dan sekarang aku keluar.
Tanpa berani menatapnya aku memberikan tespack tersebut padanya. Sekilas raut wajahnya kecewa.
"Mungkin belum saatnya dia hadir, maafkan aku ya sayang."
"Terimakasih, sudah mau mengandungnya aku sangat bahagia." dia memeluk ku dan ku sadari, dia menjatuhkan air mata sambil berkata terimakasih berulang kali.
Aku bahagia sekali mengetahui bahwa aku akhirnya bisa mengandung juga, beberpa bulan lagi perut ini akan membesar, gerak dan detak jantungnya pun akan semakin terlihat jelas.
Dia menyuapi ku bubur dan setelahnya dia menyuruh ku untuk kembali istirahat.
"Sayang, apakah orang hamil akan merasakan hal seperti ini, tubuh ku terasa tidak memiliki tulang, aku menjadi sangat lemah." keluh ku.
Dia menatap ku dengan lekat lalu mencium kening ku, "Tidak semua wanita mengalami hal itu, bersyukurlah kau merasakannya, itu semua nikmat dari Allah, kamu jadi memiliki kenangan terindah saat hamil." jawabnya dengan santai.
"Bolehkah aku meminta sesuatu dari mu?" Dia menaikan selimut ku dan membuka jendela kaca kamar ini, dia duduk kembali dihadapan ku.
"Apa? kau tidak nyaman ya?"
"Aku ingin sekali bertemu dengan Jaco, kita ke villa ya pekan ini." mohon ku.
"Ya... kita akan berangkat, tapi kau hanya boleh melihat Jaco tidak untuk menungganginya."
"Ya... aku berjanji." dia mencium kening ku lagi dan pergi membereskan peralatan makan tadi.