
"Baiklah aku akan mengenakan apapun yang kau pilih untuk ku." Jawab Syahila dengan wajah datar, Arsal tau Syahila kecewa.
"Kau seorang model? kau sering menggunakan pakaian terbuka?" tanya Arsal pada wanita di sebelah nya yang dari tadi hanya membuat Arsal menghindar untuk menatapnya.
"Ya, aku memang seorang model, kau tidak pernah melihat atau mendengar tentang ku?" Heran Syahila, padahal selama beberapa tahun, ia lah super model yang menjadi cover dari majalah fasion ternama.
"Aku tidak pernah melihat atau mendengar hal yang menurut ku tidak penting, oh ya... kau akan di jemput oleh supir ku nanti, jadi jika sudah selesai aku akan pergi." Arsal berdiri melangkahkan kaki nya.
"Arsal tunggu, bisakah aku mengenal mu lebih dalam lagi, kita bicara sebentar di Cafe?" tawar Syahila.
"Waktu ku hanya lima belas menit, setelah itu aku harus kembali ke rumah sakit ada jam oprasi hari ini." jelas Arsal.
Mereka sampai di Cafe, letaknya hanya di sebrang butik milik Rasya.
"Syahila, aku akan bertanya dan jawab dengan jujur." Arsal menatap kopi di mejanya, ia enggan melihat Syahila yang berpakaian terbuka, rok abu pendek selutut dengan kemeja berwarna senada yang melihatkan lengan dan sebagian dadanya.
"Apa itu?"
"Apa alasan mu mau menikah dengan ku?"
Mata Syahila melirik kebawah dia tertunduk sejenak, meyakinkan bahwa dia tidak akan salah bicara.
"Ibu ku." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Syahila.
"Ada apa dengan nya?"
"Arsal, beliau sedang sakit, aku membutuhkan banyak uang, bahkan selama ini aku bekerja keras sebagai model hanya untuk menutupi biaya rumah sakit dirinya yang semakin hari semakin melemah."
"Lalu apa hubungannya dengan ku, aku tidak punya banyak uang seperti yang kau harap kan, bahkan aku hanya seorang dokter yang tak bisa menyembuhkan ibu mu." sanggah Arsal dengan emosi yang nyaris keluar.
"Arsal, ibu ku mengidap penyakit langka, dia membutuhkan fasilitas medis yang memadai, uang kerja keras ku semua sudah ku deposit untuknya, dan aku berhutang pada ayah mu, dia meminta ku untuk membayarnya, tapi tidak dengan uang dia hanya meminta aku menjaga mu, itu saja." jelas Syahila dengan suara yang sudah mulai naik.
"Berapa banyak hutang mu pada ayah?"
"APA? untuk apa kau berhutang sebanyak itu, kau tidak mungkin hanya memakai uang itu untuk biaya sakit ibu mu kan?" tanya Arsal penuh selidik, dan emosinya pecah sekarang.
"Hanya untuk pengobatan ibu, hanya untuk itu."
"Berapa lama? apa yang ibu mu derita?"
"Lima tahun, terakhir, tepat di usia ku yang ke 17 tahun,ibu ku menderita kelainan motorik dan kelainan pada otak belkangnya, ibu ku koma saat itu dokter bilang tiada harapan, namun ayah mu datang menyuruh ku membawa ibu untuk memulai perawatan di Jerman, dan saat itu ayah mu menyuruh ku untuk tetap bersekolah."
"Apakah ibu mu pernah sadar atau ada perkembangan?"
"Pernah sadar setelah oprasi pertamanya, namun dia kembali tertidur setelah lima bulan tersadar."
Arsal mulai terenyuh dan merasa simpati pada perempuan itu.
"Jika suatu ketika ibu mu benar benar dinyatakan meninggal apa yang akan kau lakukan?"
"Entah, mungkin aku akan mengakhiri hidup ku juga, aku tidak bisa tanpa ibu, dia lebih dari apapun termasuk hidup ku, kau tau saat aku menerima tawaran dari ayah mu, aku merasa telah menjual diri ku."
"Syahila, pernahkah kau mencoba untuk memohon dan berdoa?"
"Arsal, jangan bergurau, aku telah melupakan itu semua, karena sibuk dengan mencari uang, agar perawatan ibu bisa terus berjalan."
Arsal mulai mengerti sekarang.
"Kau tau apa yang selalu ku pesan pada keluarga pasien pasien ku?"
"Apa?"
"Aku hanya memberi obat tapi kuasa hanya Allah yang tau, aku selalu meminta mereka untuk solat dan berdoa pada Allah, Syahila cobalah untuk bertawakal dan berdoa pada Allah, mungkin ibu mu dan hati kecil mu akan menemukan jalannya."
Arsal melangkah pergi, meninggalkan Syahila, karena waktu Arsal yang terbatas.