Just For Me

Just For Me
Jujur



"Aku selalu mencari mu ke setiap sudut kota yang ada di Inggris, namun apa yang ku dapat, kau tidak ada di Inggris melainkan di Berlin, dan saat aku tau kau hidup bahagia serta baik baik saja maka aku tidak datang dan mengusik mu, ku fikir itu cara terbaik karena kau memang ingin menjauhi ku, dan semua itu memang sudah terlihat sejak beberapa bulan sebelum kepergian mu." Jelas Tama yang masih berdiri membelakangi Arbella, dengan sebuah tatapan lurus penuh kesal.


"Paman, aku selalu merindukan mu, aku selalu rindu ocehan mu dan kejahilan mu sesaat perjumpan kita di Inggris, aku rindu tentang kata kata yang selalu saja kau ucapkan untuk ku di saat sekolah atau pun saat sekolah usai, maaf aku terlalu kasar waktu itu, semua itu aku lakukan karena aku sangat mencintai mu paman." Lirih suara Arbella menatap Tama.


Tama berbalik dan penuh tanya.


"Lalu, mengapa kau mengatakan, kau sangat membenci ku, kau hanya menganggap ku sebagai paman mu, hanya sebagai penghibur mu, lalu kenapa kau menolak cincin ku sewaktu aku bertekad melamar mu?"


"Paman, aku sadar aku hanya seorang wanita lemah, usia ku waktu itu pun baru 14 tahun, mana mungkin terbesit di otak ku tentang sebuah komitmen, paman aku menjauh karena aku tak ingin kau terluka, aku tak ingin kau bersedih, tepat dimana aku bertemu dengan mu di salju pertama yang ku damba, aku sudah jatuh hati pada mu, namun aku terlalu rendah untuk standar mu."


Arbella menarik nafas dan mulai menunduk meratapi kebodohannya.


"Siapa yang memiliki standar rendah, kau yang paling tinggi untuk ku gapai Ara, aku tidak perduli dunia menentang ku sekali pun, aku akan tetap di samping mu. Jawab aku dengan jujur kau pergi karena kau tau penyakit apa yang kau derita saat itu kan? kau tidak ingin aku tau, mangkanya kau pergi, menolak ku dan tidak kembali lagi untuk mengabari ku kan?"


Arbella menunduk menyatakan iya, dia memang melakukannya untuk menutupi kesedihannya agar tak di lihat Tama.


"Ara, dengar aku. Apapun yang kau alami, apapun yang kau butuh percayalah aku selalu disisi mu gadis kecil, meski seumur hidup kau hanya bisa terbaring aku kan selalu menegak kan mu dan mencintai mu."


Tama duduk dihadapan Arbella, dia menarik lengan Arbella, agar Arbella


bisa bersandar di dada bidangnya.


"Paman berjanji untuk tidak akan meninggalkan ku lagi ya?"


"Aku berjanji gadis kecil."


"Paman, bisa kau tidak memanggil ku gadis kecil, bahkan aku sudah kau nikahi bukan?"


"Ya, kau mau ku panggil istri ku?"


"Tidak, paman."


"Kalau begitu kau mau ku panggil apa? cinta ku? my sweety, my love, my princes, atau apa?"


"Lantas? kau tetap akan memanggil ku PAMAN?"


"Kamu mau di panggil apa?"


" Bagaimana jika my prince? atau Hubby?"


"Baiklah my prince."


Tama tertawa dengan wajah lugu si gadis kecil.


cup... Sekilas kecupan pada bibir mungil Arbella, namun Arbella masih diam, kemudian. Cup... kecupan kedua dia masih terdiam, akhirnya Tama melumat bibir gadis itu dengan penuh penghayatan.


Arbella yang kaku membuat Tama geram.


"Bisakah kau balas?"


Tanya Tama dengan mata memburu.


"Maaf, ini yang pertama bagi gadis seperti ku."


"Bohong, kau pernah melakukannya dengan teman mu yang lain bukan?"


"Tidak hanya kau yang berani seperti ini dengan ku, ciuman pertama ku juga sudah kau ambil saat musim semi pertama ku."


Tama diam dan mulai mengingat "Maaf aku lupa, berarti kau masih menjaga semuanya sampai detik ini bukan?"


"Ya, semua untuk paman mesum ku, paman tapi..."


"Ya aku tau, aku kan menunggu sampai kau siap, karena ini bukan hanya tentang diri ku."


"Terima kasih paman, ups... aku lupa my prince." Tama tertawa lalu menyelimuti Arbella untuk segera tidur kembali. Dan mereka pun tidur bersama malam itu.