
Satu, dua, tiga hari aku menunggu Vara untuk membuka suara untuk ku, namun tidak Vara tetap enggan bicara pada ku, sampai akhirnya aku membuka suara meruntuhkan segala ego ku.
"Vara, aku tau ini menyakitkan, namun aku jauh lebih sakit saat aku harus kehilangan mu, Vara cinta ku pada mu masih sama porsinya seperti dulu disaat aku meminta pada ayah untuk meminang mu, aku sangat bahagia ketika tau kau hamil, percayalah namun saat dokter berkata hal lain, aku tidak sanggup kehilangan mu, yang ku tau mempertahankan mu adalah hal terbaiknya." vara masih diam mendengar segala pengakuan ku.
"Maaf, aku berkata akan menceraikan mu, namun jujur aku lebih baik bercerai dan kau akan bahagia, dari pada menatap mu, terbujur kaku dan aku tidak dapat melihat mu lagi, Vara, maafkan aku dengan segala kebodohan ku, jika kau tidak inginkan aku di samping mu maka aku kan pergi Vara, tapi satu hal kau harus bahagia."
Tau Vara menangis tapi, ini jalan yang ku pilih, aku harus rela melepasnya.
"Sayang... aku tidak bisa jauh dari mu, lantas mengapa kau katakan semua yang begitu menyakitkan untuk ku, kau membuat ku kehilangan segalanya jika kau pergi, Frasa tetap di sini, aku memaafkan segala yang terjadi, aku tidak sanggup lagi jika aku harus kehilangan mu, dan kau harus berhadapan dengan para kakak ku jika kau berani pergi." ucap Vara yang mengancam ku.
Aku tidak pernah takut saat Arsal atau Tama yang mengancam ku, sungguh. Aku tertawa mendengar ucapan Vara, cinta pertama ku adalah Vara dan semenjak menikah dengannya aku sudah menemukan cinta terakhir ku.
Setelah seminggu Vara keluar dari rumah sakit, kondisinya sangat baik sekarang, aku, Vara dan putri kecil kami akhirnya kembali ke Indonesia bukan untuk menetap, namun untuk menengok ayah dan juga putra mahkota yang di gadang gadang sebagai pewaris sah satu satunya.
"Vara... akhirnya." Syakila segera memeluk Vara, begitu juga dengan Vara.
"kakak, terimakasih sudah menghadirkan cucu laki laki di keluarga ini, mana si tampan?" tanya Vara.
"oh ya... wah... menyenangkan sekali, aku baru saja kehilangan bayi kami, dan aku mendapat kabar bahwa ponakan ku akan lahir, dimana Tama?"
"Tama ada di kamarnya, tapi Arbella sedang keluar bersama ART untuk membeli makanan di ujung jalan sana, dia mengidam sekarang." ucap Syahila yang begitu bahagia.
Vara akhirnya bertemu dengan putra mahkota itu, setelah bertemu dengan sang ayah yang sangat ia rindukan.
Mereka berkumpul di ruang keluarga sambil bercengkrama, perasaan haru dan sedih menghampiri semua yang ada di dalam pembicaraan itu.
"Ayah mengingat ibu mu, dulu sebelum ia pergi ia pernah berpesan, untuk memberikan kalian pada pendamping yang tepat, terutama Vara, dan ayah tidak mengerti Frasa tepat atau tidak, namun Vara meyakinkan ayah dengan segala kata katanya, dan ayah menitipkan dia pada mu nak." Zulfikar meneteskan air matanya untuk yang terakhir kalinya.
"jadi sekarang ayah bisa menemani ibu mu di sana dengan tenang, kalian nikmatilah hidup kalian, ayah mendukung sepenuhnya atas keputusan yang kalian ambil, Tama dan Arsal jadilah ayah dan suami yang baik."
Mereka semua membuat janji pada Zulfikar, janji seperti apa yang ayahnya mau.