Just For Me

Just For Me
Mulai Berteman



Aku tak mengerti harus berkata apa, aku begitu sesak saat mengetahui orang yang pernah menggantikan posisinya ternyata adalah abang nya.


Aku terkaget saat tangan seseorang menghampiri pundak ku, aku menoleh ke belakang, ternyata wanita ini.


Dia yang membuat dokter Arsal jatuh hati, yang membuat dokter Arsal menolak ku.


"Kau?" Sapa ku.


"Ya, aku. Syahila, istri dokter Arsal, dokter yang menangani mu, dan juga kakak ipar mu." Dia menjelaskan hal yang sebenarnya tak perlu ia jelaskan, ia mengurai senyum namun aku hanya memicingkan mata.


"Kau tak apa?" Sapanya kembali pada ku, aku menghapus linangan air mata ku.


"Tak apa, aku hanya sekedar terkejut."


"Benarkah? jika begitu kembali lah kepesta, udara malam tidak baik untuk wanita cantik seperti mu." Dia merangkul ku dan mengajak ku masuk kedalam hotel.


"Kau, Arbella... jangan sungkan untuk meminta apapun dari keluarga ini, ini adalah keluarga mu. Kamu sudah masuk kedalam keluarga kami, maka jadilah layaknya keluarga, saling berbagi dan mengerti." Dia menjelaskan semua itu sambil tersenyum dengan ramahnya.


Aku membalasnya dengan senyuman juga, namun ada menganjal yang tak pernah bisa aku jelaskan, hati ku sedikit sakit dan ragu, di satu sisi aku memiliki Tama namun sisi hati ku yang lain masih menginginkan dokter Arsal.


"Arbella, kau mau minuman?" Tawarnya pada ku dengan membawa segelas minuman dingin.


"Terimakasih." Aku menerimanya dan kembali berbicara.


"Kak, Syahila... bisakah aku bertanya pada mu sedikit?"


"Tentu, bertanyalah sebanyak apa yang kau mau." Dia mempersilahkan ku untuk membuka pertanyaan.


"Kau bertemu dimana dengan dokter?" Dia yang sedang minum sedikit tersengal dengan minumannya.


"A... aku?"


"ya... kau."


"Kami bertemu pertama kali lalu di pertemuan ketiga kami menikah."


"Bagaimana bisa?"


"Kalian jatuh cinta untuk pandangan pertama?"


"Tidak, kami di JODOHKAN!" Serunya pada ku.


Kami berhenti sejenak dalam pembicaraan ini, lalu dia menatap ku dengan tatapan ibunya.


"Ada apa? mengapa menatap ku begitu?"


Sapa ku heran kepadanya.


"Tidak, aku hanya teringat pada adik kecil ku." Aku tau dia sedikit menahan air matanya.


"Kemana adik kecil mu?"


"Sudah tiada, dia meninggal saat usia 5 tahun, dan mata mu seperti dirinya."


"Kak, sudahlah jangan menangis." aku menatapnya dan mengusap air matanya.


"Arbella, bisakah aku menganggap mu sebagai adik ku, bahkan aku sangat tidak percaya saat pertama menatap mu, ku kira Tama menikah dengan gadis yang dewasa dan berkelas..."


Aku menyela dan sedikit tersinggung dengan ucapannya.


"Lalu yang kau lihat aku wanita seperti apa?" Tanya ku dengan sedikit melonjak.


"Kau, manis, baik, lucu dan lugu, jadi bisakah kita menjadi kakak beradik sungguhan?" Dia tersenyum lagi, begitu pun aku, tatapannya sama seperti tatapan ibu ketika membujuk ku.


"Baiklah, aku juga akan menggap mu sebagai kakak kandung ku, aku juga tidak akan sungkan belajar menjadi wanita yang sedewasa diri mu." Sindir ku padanya, padahal wajahnya pun tidak menunjukan kata dewasa.


"Baiklah adik ku, kita nikmati acara ini, lupakan semua pertengkaran mu dengan Tama malam ini ok!"


"Baiklah, kakak ku, ayo kita nikmati pesta malam ini."


"Tentu, karena pesta ini untuk kau dan Tama sayang."