
Tama terkejut, saat membuka pintu ruangan Syahila, ia melihat Arsal dengan senyuman yang sangat bahagia.
"Assalamualaikum, apakah aku melewatkan sesuatu?" tanya Tama pada abangnya itu.
Tama tau Syahila telah sadar dan cukup membaik hari ini.
"Paman!!!" Arbella tersenyum dan berhambur memeluk Tama.
"Hai istri ku, kau terlihat sangat bahagia apa yang terjadi?"
"Kau lihat Kakak sudah sadar dan kondisinya membaik."
"Ya, aku sudah tau dari orang² ku, lalu bagaimana keadaan mu?"
"Aku baik paman." ucap Arbella manja.
Syahila dan Arsal hanya terkekeh menatap mereka berdua sebagai sepasang kekasih.
"Sayang kau tau, aku bagaikan melihat paman dan keponakannya, saat Arbella memanggilnya paman." ucap Syahila yang terlontar begitu saja.
tok...
"Permisi, Tuan, nyonya, baby nya sudah siap untuk di susui." tanya seorang perawat yang membawa boks bayi.
"Ya, suster bawa dia kemari, aku ingin menatap wajahnya." Suster pun membawa bayi laki² tampan itu ke pangkuan Syahila.
Arsal menatap lekat ke arah mereka berdua.
"Terimakasih sayang."
"Untuk apa?"
"Telah melahirkan putra ku yang tampan ini."
"Itu sudah tugas ku, aku mencintai kalian."
"Tentu aku pun begitu Syahila Zenit."
Arbella dan Tama pergi keluar untuk mencari camilan, karena rasa bosan dan juga lapar yang menghampiri mereka berdua.
Mereka duduk di bangku sebuah cafe dan memesan minuman dan cake.
"Lalu kapan kita akan memulai semuanya?" ucap Tama sambil menyesap minumannya.
Arbella hanya diam menatap Tama, menanyakan maksud dari tujuannya.
"Apa maksud mu paman?"
"Berhenti memanggil ku paman, aku suami mu.... Meskipun tanpa persetujuan mu."
"Cinta, ide yang bagus."
"No... tuan Aditama Yusuf Arafi."
"Kenapa? kau tidak mau yasudah, tidak apa."
Tama pun diam dan memalingkan wajahnya.
"Kita bisa mulai perlahan, memiliki keluarga yang sempurna adalah impian ku." ucap Arbella teduh.
"Mulai perlahan seperti apa?"
"Kencan?"
"apa? kau bercanda? aku suami mu bukan pacar mu, tidak dengan kencan!" ucap Tama yang marah di buat²
"Lalu kau mau apa?"
"Ikut aku kembali ke Inggris, aku kan memperlihatkan mu sesuatu, kemudian memaksa mu kembali untuk membuat cucu untuk ayah, agar aku juga bebas dari tanggung jawab harta warisan itu."
Arbella bingung harus menjawab seperti apa, jujur dia sangat syok sekarang.
"Aku belum mau hamil, aku juga belum siap berhubungan seperti itu dengan mu."
"Kenapa? kau sudah cukup umur, kita menikah sah secara hukum dan agama, lagi pula, nona Arbella Cantika Robert, kau sudah cukup usia untuk mengandung benih² spektakuler dari ku."
"Tapi aku tidak mau."
"Kau yakin tidak mau." dan Tama semakin mendekatkan wajah pada Arbella.
"Tuan Tama ini Indonesia bukan di luar negri." Arbella memperingati tingkah Tama yang mulai tidak normal.
"Kau yakin tidak mau, mungkin kau akan segera mendapat dua baby dari ku, dan jika benar kau tidak mau, maka biar saja aku menceraikan mu, oh... atau begini saja aku kan menikahi wanita lain dan menghamilinya, kemudian kau yang akan merawat anak itu, dan wanita itu aku ceraikan, bagaimana?"
Arbella ingin sekali menampar Tama, tapi dia hanya akan membuat keributan.
"Baiklah, aku ikut mau mu saja."
"Bagus, besok pagi kita akan terbang ke Inggris."
"Ya, apakah aku boleh pulang sekarang?"
"Tentu, kau akan pulang bersama ku ke rumah ayah."
"Terserah mu tuan pemaksa."