Just For Me

Just For Me
Meja Oprasi



Arsal menghela nafas dia tidak mungkin berdebat dengan sang ayah hanya karena tidak ingin menerima warisan yang berupa perusahaan itu, namun semua perdebatan itu terhenti, seketika panggilan masuk di ponsel Arsal.


"Selamat sore, ada apa?"


.....


"Baiklah, saya akan segera datang."


Arsal mematikan sabungannya dan menatap ayahnya.


"Maaf ayah, tapi ku rasa aku harus kembali ke rumah sakit, jika ayah sudah menemukan solusi harus kemana perusahaan itu, beritahu aku, aku siap untuk membantu."


Arsal keluar rumah dengan mobil hitamnya, dia menyusuri jalan raya dengan kecepatan stabil.


Beberapa perawat sudah menunggu di ruang oprasi.


Arsal menyambar baju oprasi yang sudah disediakan, dia mensterilkan dirinya dan bersiap.


Dengan teliti suster membacakan riwayat pasien yang akan dioperasi, Arsal menatap monitor dihadapannya, dia mulai berdiskusi dengan beberapa dokter ahli, dan sekarang Arsal faham apa yang harus ia lakukan pada orang yang sudah kaku dihadapannya.


"Lakukan sesuai instruksi dari ku, oprasi ini akan memakan waktu 5 jam kedepan, dan semua itu akan kita lakukan bersama, Dokter Alex dengan pembuluh darah, dokter Zayn dengan komplikasinya, dan saya sistem Syaraf pusat, disini saya lah yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan, jika salah sedikit saja pasien akan kehilangan kemampuan motorik dan daya geraknya, mohon bantuan semuanya."


Seketika pisau beda memisahkan jaringan jaringan kulit pasien dan terbukalah daging merah berserta darah.


Lima jam Arsal berkutat dengan usaha dan harapan, kedua dokter tersebut sudah selesai, tinggallah Arsal bersama 5 orang perawat dan satu orang dokter koas.


Arsal menyelesaikan semuanya tanpa suara, hanya ada doa dalam hatinya, semoga sang pasien dapat meneruskan hidupnya yang penuh resiko.


"Bawa keruang observasi, istirahat kan selama 26 jam, jangan biarkan suhu tubuh turun, dan pantau terus laporkan satu jam sekali."


"Baik dokter."


Arsal kembali membersihkan diri menenangkan fikiran.


"Terimakasih ya Allah kau telah memberikan kesempatan hidup untuknya, meski aku tau cukup banyak syaraf yang rusak dan hampir mati, kau berikan karunia yang luar biasa ya Allah, kau takjub dengan lima jam yang berlalu." Arsal menangis dengan tersedu.


Arsal adalah seorang dokter, dia tau apa yang terjadi pada pasiennya ketika melihat riwayat pasien dengan kemungkinan 20% hidup, dalam kondisi pembuluh darah pecah, kerusakan parah di bagian saraf pusat dan juga kecendrungan pada komplikasi yang timbul akibat bagian ampedu yang bocor.


Tapi usaha lima jam yang dia lalui bersama rekan rekannya adalah sebuah keajaiban, meski tadi sempat terjadi gangguan pendarahan sejenak.


"Dokter Arsal, selamat kau sudah berusaha dengan maksimal, dan oprasi berjalan dengan baik."


"Dokter Zayn, ku harap begitu, tapi hasil baru bisa kita lihat setelah pasien pulih, aku hanya takut harapan yang kita berikan terlalu tinggi pada keluarga pasien, melihat dari status pasien kemungkinannya hanya 2, meninggal di meja oprasi, atau cacat setelah oprasi."


"Ku harap apa yang kau takutkan tidak akan terjadi, aku hanya ingin pasien itu bisa melakukan seperti dirinya sedia kala."


"Kau tau, setelah ia sadar dia tidak akan bisa bergerak, dan membutuhkan trapi sampai paling tidak dia bisa berdiri dan bicara."


"Separah itukah kondisinya?"


"Tapi yang terpenting sekarang adalah, dia sadar atau tidak setelah 26 jam."


lalu Arsal pergi ke ruangannya dengan menyesap air mineral yang tergeletak di atas mejanya.