
Arsal tersenyum pada ku saat aku dan Arbella hadir kembali di tengah acara pesta.
"Arbella, kau bisa nikmati pesta ini sendiri dulu aku akan kebali, setelah urusan ku selesai." ucap ku pada Arbella.
"Ya, baik kak."
Aku melangkahkan kaki menuju balkon di luar ballroom, aku menatap suami ku yang telah berdiri disana menunggu ku, aku membawakan segelas minuman untuknya.
"Kak, kau mau ini?" ucap ku sambil mengulurkan tangan dengan gelas.
"Oh, ya tetu cinta ku, terimakasih." Dia tersenyum sambil menyesap minumannya.
"Untuk apa?"
"Untuk minuman, dan juga kepercayaan mu, serta apapun yang kau lakukan." Aku hanya bisa tersenyum dan menangkup wajahnya dengan jemari ku.
"Aku juga berterimakasih pada mu untuk banyak hal." Dia mendekat dan mengecup kening ku.
Kemudian aku memeluknya, "Bisakah aku melakukan ini untuk sepanjang hidup ku?"
"Tentu, bahkan lebih dari ini pun kau boleh cinta ku." Aku tersenyum menatapnya, aku mulai heran mengapa juga aku mau dan bisa menerima sebuah kenyataan jika wanita itu memiliki rasa yang sama terhadap suami ku ini, ini bukan ancaman menurut ku, hanya sebuah tantangan, tantangan untuk menguji seberapa kuat cinta dan hubungan ini bertahan, dimana rasa percaya menjadi taruhan.
"Oh... para kakak ku ada disini rupanya..." Kehadiran Tama membuat kami sedikit terkejut namun masih bisa menstabilkan keadaan.
"Tama, ada apa kau mencari kami?" Tanya Arsal padanya.
"Arbella? ada apa dengannya ceritakan pada kami." Tegas ku.
"Arbella dan abang, sebenarnya ada hubungan apa diantara kalian, apakah sama seperti pengetahuan ku? Arbella telah mencintai mu, Arbella jatuh cinta dan memaksa mu untuk mencintainya juga?"
"Ya, benar Tama, namun aku, kau tau bagaimana diri ku bukan?"
"Tama, kak Arsal tidak pernah mencintai wanita lain bukan? aku sangat percaya dengan suami ku Tama."
"Baiklah aku juga percaya terhadap suami mu kak, namun aku tidak bisa terlalu percaya dengan istri ku, dia bisa saja melakukan hal yang tidak baik untuk hubungan kalian, jadi ku harap kak Syahila bisa bersabar dan selalu percaya pada abang, karena aku sangat mengerti Arbella."
"Tama, kau terlalu berlebihan pada istri mu, itu tidak baik, seharusnya kau menanamkan rasa cinta pada dirinya agar dia sepenuhnya jadi milik mu." ucap ku lembut pada adik ipar ku yang curigaan ini.
"Entahlah kak, wajahnya memang lugu, namun sifatnya sebenarnya, lebih sadis dari pada aku, yang selalu memberantas orang yang menghalangi ku." Aku dan suami ku terkekeh mendengar Tama.
"Sudahlah Tama, abang bisa mengendalikan dirinya, abang dan Syahila tidak bisa menunggu sampai pesta selesai, abang akan kembali ke Apartemen sekarang."
"Ya sudah, kalian kembalilah, oh ya... ngomong ngomong happy anyversary."
Kami bertiga tersenyum, terkekeh mendengar setiap kata yang terlontar.
Aku dan Arsal pun kembali ke apartemen, aku sudah sangat lelah tubuh ku juga sudah tergeletak di atas ranjang. Arsal masih di kamar mandi sementara aku sudah sangat mengantuk dan menuju alam mimpi ku.
Aku melihat Syahila istri ku sedang menikmati perjalanan di alam mimpinya, make up nya sudah terhapus namun paras cantik nya masih mengoda ku untuk mengecupi kening dan pipinya, tak tega untuk menggodanya yang sangat lelah seharian aku pun ikut terlelap juga.