Just For Me

Just For Me
Kesal



Setelah pesta pernikahan ku selesai aku membersihakan diri dan meminum teh yang di pesan oleh istri ku, ya wanita yang ku kenal bulan lalu.


Aku tak menyangka bahwa dia mau mengenakan semua gaun yang ku pilih, dan syoknya lagi dia juga mengenakan hijab, aku kagum padanya, tapi aku tidak bisa percaya begitu saja.


Setelah beberapa jam terlelap, aku pun terbangun, aku meraba tempat di samping ku, tak seperti yang seharusnya.


Aku memantapkan diri untuk duduk dan melihat, dimana wanita itu? kenapa dia tak disini? lalu dia tidur dimana?" aku masih bertanya tanya.


Saat aku melangkah untuk mencarinya, aku menemukannya, dia tertidur dengan nyamanya di atas sofa.


Aku menatapnya, wajah yang sebenarnya lugu dan cantik itu terlalu sayang jika di make up terlalu tebal dan kulit sehalus itu sangat rugi jika di pamerkan.


Aku mengangkat tubuhnya untuk tidur di atas ranjang, perlahan ku angkat agar dia tetap nyaman.


Setelah merebahkannya, aku menatap jam ternyata baru pukul empat, aku mengambil wudhu, untuk solat qobliah subuh, dan terus bertadarus sampai azan berkumandang.


Syahila tak kunjung bangun, aku masih menunggunya juga tetap saja. Mungkin kasur lebih nyaman dari pada tanah, dan mungkin dia hanya ingin menikmati itu sebelum dia tersiksa di kubur.


Aku kembali melanjutkan tidurku di sofa, karena Syahila sedang tertidur di ranjang. Aku membuka mata kembali setelah tidur singkat selama dua jam tadi.


Aku melihat Syahila yang keluar dari pintu kamar mandi, dia mengenakan baju lengan panjang dan rok selutut dengan rambut yang masih basah berbalut handuk.


"Hai, sudah bangun? aku telah menyiapkan sarapan untuk mu, dan juga baju ganti, jadi cepatlah mandi agar kita bisa segera pulang." Hah? Syahila berkata seperti itu pada ku, selama ini asisten ku saja tidak pernah berlaku seperti ini.


Aku pun berlenggang masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai aku menyesap teh dan roti kemudian duduk di balkon menatap kearah keluar.


"Kak Arsal kita bisa pergi sekarang?"


"Emmm? ya mungkin."


"Kak bisa kita pergi dari tempat ini sekarang, manager ku sudah menelpon sedari tadi.


Aku tersadar saat Syahila menjelaskannya pada ku, apakah ketika seorang pria seperti ku memiliki istri akan seperti ini, diatur dan tak bebas lagi?


Aku menuruti perintahnya kali ini.


Di depan lobby hotel aku melihat beberapa pegawainya menyapa dan berbungkuk ketika ku lewat. Aku measuk menaiki Mobil kesayangangan ku, dan duduk manis di belakang kemudi, sementara Syahila yang berada di samping ku dan sibuk dengan ponselnya.


"Baiklah mudurkan saja jadwal pemotretannya dua jam kedepan aku akan tiba disana pukul satu tepat."


Jawab Syahila cepat, sementara aku hanya diam menatap lurus kedepan.


"Pak tolong berhenti di tepi jalan sesudah persimpangan di jalan depan sana." Dengan nada sinis aku menyuruh supir ku untuk berhenti. Aku pun menelpon seorang yang mengikuti mobil kami dari belakang.


Aku melenggang pergi dan menaiki mobil tersebut, aku sebenarnya kesal dengan Syahila, mengapa dia harus bekerja di saat jam seperti ini? bukanankah seharusnya dia abil cuti atau apalah, Syahila hanya diam memandangku yang turun keluar berganti mobil.


"Pak tolong antar nona ini pada tempat tujuannya, saya akan naik mobil di belakang saja, saya akan kerumah sakit tamu saya sudah datang." jawab ku tanpa menghiraukan keberadaannya.