Just For Me

Just For Me
Kemarahan Arsal



Arsal yang membuka koper berisi baju dan beberapa perlengkapan Syahila terbelak saat melihat baju baju tak layak pakai yang Syahila miliki. Maaf bukan tak layak pakai bagi seorang model seperti Syahila, baju bermerek itu hanya tidak layak pakai menurut Arsal.


"Kau mengenakan ini?" tatapan Arsal penuh kemarahan. "Kau diam! kamu kenakan ini saat di Paris, kamu mengenakan pakaian pakaian ini saat pemotretan!" bentak Arsal yang menduga duga.


Syahila hanya diam saja, Arsal membawa pakaian pakaian itu kehalaman samping apartemennya.


Syahila akhirnya buka mulut saat Arsal memasukan baju itu kedalam tong sampah dan siap membakarnya.


"Kak, aku hanya menjalankan tugas ku sebagai model, baju baju itu hanya untuk pemotretan dan setelah itu aku tidak mengenakannya lagi." Syahila masih berusaha menjelaskan. Arsal yang semakin kalap justru menguyurnya dengan bensin dan mulai menyalakan api.


"Ya... kau benar tuan putri, kau hanya menjalankan pekerjaan mu sebagai model, namun apakah kau tau semua orang yang melihat potret mu dimajalah itu juga menyaksikan tubuh terbuka mu dengan baju baju itu ! Kau akan selalu benar Syahila dengan semua tingkah laku mu." Arsal pergi menjauh membiarkan Syahila menangis tertunduk di tepi kolam renang yang tepat di hadapannya sebuah kobaran api melahab semua pakaiannya.


"Baru saja aku merasa bahagia kau bisa berada di dekat ku, kau malah kembali berlari menjauh kak, Ya Allah apa yang harus hamba perbuat." Syahila masih berurai air mata sementara Arsal pergi entah kemana.


Setelah lama kepergian Arsal dari apartemennya itu, Tama datang dengan beberapa berkas pengalihan kekuasaan di dalam genggamannya. Tama masuk kedalam apartemen, karena Tama memiliki card akses untuk masuk kedalam.


"Bang Arsal kemana? kok sepi sekali ya?" Tama terus mencari keberadaan sang pemilik hunian. Tama melihat Syahila duduk dengan penuh air mata di pipinya, meski nyaris tak bersuara Tama tau dengan jelas perempuan dihadapannya ini benar benar sedang terluka.


"Ayolah kita ke dalam ceritakan semuanya pada ku saat kau mulai tenang."


Syahila di bopong Tama duduk di sofa ruang keluarga. "Syahila ada apa katakan pada ku? apa abang marah lagi pada mu?" Tama mengingat tempramen abang nya yang sering berubah ubah.


"Tidak, dia tidak kasar pada ku Tama, hanya saja aku yang salah, abang mu marah karena baju yang menurutnya tak pantas ku kenakan malah ku pakai saat pemotretan." Jelas Syahila tenang namun penuh dengan khawatir.


"Jelas, abang hanya tak mau berbagi dirimu pada mata orang lain, Syahila apa yang kau cari di dunia model? uang? abang punya semua yang kau butuhkan, lebih baik kau keluar dari dunia model mu itu dan berubahlah menjadi wanita impian abang." Tama mencoba memberi saran namun hanya dilamuni Syahila.


"Tidak semudah itu Tama, modeling seperti nyawa bagi ku, apalagi hanya karena uang, jika karena uang mungkin aku sudah tidur dengan beberapa orang saat ini." ungkap Syahila.


"Apa kau mau menjadi model majalah islami, seperti membintangi baju muslimah dan sebagainya, atau model iklan yang sedikit tertutup." Tama masih memberi saran.


"Entah lah, oh ya, ada perlu apa datang ke sini?" tanya Syahila yang melupakan kepentingan Tama.


"Mencari abang, tapi dia tak ada kan? baiklah tenangkan dirimu, berubahlah dalam berpenampilan, aku harus pergi aku masih banyak urusan." Tama berlalu dan mencari abangnya, karena surat surat itu harus di tanda tangani sekarang.