
Pintu kamar Tama di ketuk, Arbella membukanya, di hadapannya kini sudah berdiri seorang pria yang lumayan berbadan besar dengan otot perut dan tangannya yang mencuat.
"Permisi nyonya, tuan Tama meminta saya untuk mengantarkan pakaian nyonya." Arbella yang tertegun kini mulai tersenyum takut.
"Terima kasih, ada hal lain lagi?"
"Jet pribadi milik tuan Tama sudah siap, keberangkatan kalian satu dua jam lagi, maka bersiaplah lebih cepat, hanya itu nyonya, saya permisi."
Orang itu pun pergi dan membuat Arbella meringis takut, Tama yang keluar dari dalam kamar mandi menatap Arbella heran.
"Ada apa?" Tama menatap Arbella memegang paper bag, ditangannya segera mengerti.
"ternyata Jim sudah datang membawakan mu pakaian dia mengatakan sesuatu pada mu?"
"Ya, dia bilang dua jam lagi kita akan berangkat, dia Jim? yang kau bilang asisten mu?" ucap Arbella menyelidik.
"Ya, mengapa? cepatlah ganti pakaian mu, apa kau nyaman mengenakan baju ku tanpa dalaman?" Tama tersenyum mengejek Arbella.
Arbella berlengang menuju kamar mandi, dia mengenakan dress lengan panjang dengan bagian bawah mengembang, panjangnya hanya 5 cm di atas lutut, dress berwarna navy itu nampak anggun di kenakan Arbella, kemudian dia bertanya kenapa dalaman yang di kirimkan oleh asisten Tama sangat pas.
Arbella keluar kamar mandi dengan keadaan rapih.
Tama melingkar kan tangannya di pinggang Arbella.
"Kau nyaman dengan pakaian yang aku pilihkan?" kepala Arbella kini bersandar di dada suaminya itu.
"Hemm... ya sangat nyaman, tapi mengapa dalaman ku terasa sangat pas? kau tau dari mana ukuran ku?"
Tama tersenyum membelai wajah Arbella.
"Baby, aku tau semua tentang mu termasuk ukuran mu."
Tama hanya tertawa mendengar semua celotehan istrinya itu.
"Ayo berangkat, boneka mu terlebih dulu hadir disana." Arbella meloncat girang mengecup pipi Tama.
"Terimakasih, tapi aku harus berpamitan dulu pada ayah."
Mereka bergegas masuk kedalam kamar ayahnya itu, mereka berpamitan, dan beberapa pesan Zulfikar berikan pada Tama.
"Jadi kapan kalian akan berkumpul meramaikan rumah ini, jujur aku sudah tua, aku ingin diperhatikan dan kalian meramaikan rumah ini lagi."
"Ayah, sepulang kami dari berlibur, kami akan tinggal disini bersama mu, kami tetap akan memperhatikan mu." ucap Arbella.
Lalu Tama hanya diam dan memeluk ayahnya. "Maaf ayah kami selalu meninggalkan mu, seharusnya aku tetap berada disini, setelah liburan kami selesai aku akan tinggal disini."
"Terimakasih sudah mau mengerti perasaanku Tama."
Lalu mereka pergi beriringan dengan beberapa mobil hitam yang mengikuti mobil utama.
Tama memasuki jet pribadinya berbeda dengan Arbella, dia tersenyum menatap boneka yang ia mau sudah duduk di sofa jet itu.
Arbella memeluknya dengan mesra, menciumi bonekanya sampai Tama merasa iri dan menyuruh Jim memberi tau pilot untuk lepas landas.
Arbella menatap Tama penuh minat, "Siapa Jim sebenarnya?"
"Asisten ku."
"Tapi mengapa tubuhnya sebesar itu? untuk ukuran asisten harunya lebih tampan lagi dan tak harus semenakutkan itu."
"kau takut padanya? lagi pula otaknya lebih diandalkan dan tubuhnya lebih ditakutkan, aku butuh sesuatu untum melindungi ku bukan?"
"Ya ... tuan Pemaksa kau selalu benar, sudah aku mau tidur, tubuhku terasa pegal dan sedikit perih." ucap Arbella sambil terpejam memeluk bonekanya.
"Apa masih terasa sakit?" ucap Tama
"apa?"
"Yang kita lakukan semalam apa masih terasa?" Tama memeluk Arbella posesif.
"Menurut mu?"
Arbella pun memejamkan mata dan terlelap segera.