
Tama baru mengetahui keadaan iparnya itu, dia segera memutar arah kendaraannya menuju kediaman Arsal.
Setelah tiba Tama melihat Arsal sedang merangkul Syahila. Tama hanya mengerutkan dahi tertanda bingung dengan sikap abangnya yang berubah ubah.
"Syahila, aku turut berduka cita atas kepergian ibu mu, maaf aku baru datang setelah pemakaman usai, karena sekertaris ku baru memberi tahu." Ucap Tama yang berdiri disamping Syahila.
"Tidak apa Tama, aku senang ibu ku sudah bebas dari rasa sakit sekarang." Syahila tersenyum menatap Arsal.
Arsal menemukan ketulusan disana.
Beberapa bulan telah berlalu, Arsal dan Syahila semakin dekat, kedekatan diantara mereka pun semakin memberi tahu keduanya apa yang harus mereka pertahankan atau mereka lepas.
Pagi ini Syahila membuatkan Arsal makan pagi, jus buah tanpa gula, cream soup beserta garlic bread. Arsal keluar dari kamarnya, ya kamarnya... Kamar mereka terpisah, semenjak sebulan lalu, itu karena permintaan Syahila, Arsal pun tak tau apa alasannya.
"Kau membuat ini? untuk breakfast?" tanya Arsal sambil menuang air mineral kedalam gelas.
"Ya... bisakah kau makan sebentar, temani aku untuk sarapan." Arsal menarik nafas menatap jam tangannya.
"Aku akan makan tapi." Arsal menatap Syahila dari bawah sampai atas.
"Gunakan baju yang layak pakai, baju tidur mu membuat ku tak nyaman." Pantas saja tak nyaman, sedari tadi bangun tidur, Arsal menahan hasratnya ingin menyentuh kulit mulus terbuka Syahila.
Arsal masih menahan perasaannya terhadap Syahila sampai dia benar benar berubah, Syahila pun sedikit demi sedikit mulai melunturkan egonya, pakaian kesehariannya pun kini sudah lebih tertutup kecuali saat pemotretan, Syahila tetap harus profesional.
Arsal mengangkat dagu Syahila agar menatapnya. "Maaf untuk apa? apa kau memiliki salah pada ku? katakan maaf untuk apa?" tanya Arsal lembut.
Syahila menepis tangan Arsal.
"Maaf untuk... untuk perasaan ku yang salah terhadap mu."
"Perasaan? salah? apa maksud mu aku tidak mengerti?"
"Maaf aku sudah mencintai mu, aku sudah berusaha mengabaikan perasaan ini yang semakin hari membuat ku membenci mu..." Ucapan Syahila terputus oleh Arsal yang tiba tiba memeluk Syahila, air mata Syahila turun perlahan.
"Maaf aku selalu ingin dan berusaha untuk menghindar, tapi tetap saja aku tidak bisa." Syahila menatap Arsal penuh.
"Kamu menyesal memiliki rasa itu terhadap ku? apa dengan pindah kamar juga termasuk daftar untuk membendung rasa yang ada dalam dirimu?" Syahila hanya diam dan terus menangis.
"Iya, iya aku melakukan semua itu karena aku tidak yakin, aku membenci mu yang selalu perhatian dan memberikan apa yang aku mau, aku semakin sedih saat kau menuruti semua keinginan ku tanpa menolak, aku sangat optimis, jika kamu akan menolak ku, kamu akan menolak ku kan?" Arsal hanya diam mematung menatap lurus kedepan.
"Belum saat nya Syahila, tapi aku mengizinkan mu untuk memiliki rasa itu, buat aku jatuh cinta pada mu, aku tidak akan menolak itu, jika kau bersedia." jelas Arsal, Syahila masih tidak percaya dengan apa yang Arsal bicarakan barusan.
"Bagaimana cara untuk menaklukan hati mu yang begitu dingin dan hidup mu yang hampa? beritahu aku maka akan ku lakukan semuanya."
"Jadilah dirimu sendiri, tanpa meniru orang lain, jadilah seorang yang penuh dengan pengetahuan terhadap aku." Syahila tersenyum membiarkan Arsal pergi meninggalkannya di rumah.