
Arsal melihat notifikasi di ponsel miliknya, ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomer rumahnya.
"Ada apa? mengapa perasaan ku seperti ini?"
ucap Arsal dalam hening.
Arsal segera kembali menghubungi nomer telpon rumahnya.
"Hallo, tuan." suara ART rumah itu memecah khawatir Arsal.
"Ada apa? kenapa kalian menghubungi ku tadi?"
"Tuan, nyonya sedang di bawa ke rumah sakit karena mengalami kontraksi, dan terjadi pendarahan tadi."
"Baiklah, di rumah sakit mana?"
"Di rumah sakit tuan..."
Arsal memutus sambungan teleponnya, dia berlari menuju ruangan bersalin.
Dia bertanya kepada para suster penjaga disana, dan mereka memberi tau bahwa Syahila berada di ruang oprasi sekarang.
Arsal meminta izin untuk masuk kedalam ruang oprasi.
"Saya ingin menemani istri saya di dalam, tolong izinkan."
"Maaf tuan, kondisinya sangat tidak memungkinkan, saat ini para dokter sedang melakukan penyelamatan untuk bayi dan istri anda."
"Saya mohon, saya ingin menemaninya di dalam." Lalu seorang dokter dengan perlengkapan oprasi datang menghadap Arsal.
"Dokter Arsal, istri anda mengalami pendarahan, dan kini kami membutuhkan banyak darah dengan golongan A- , bisakah anda mencarikan golongan darah itu."
Arsal terkejut dan berfikir keras, golongan darah dengan RH negatif sangat susah, dan yang memiliki golongan darah itu adalah Tama adiknya.
Zulfikar dengan baju kerjanya datang menghampiri Arsal yang duduk dengan cemas.
"Ada apa dengan mu?"
"Syahila kehabisan banyak darah, dan golongan darahnya A-, ayah tau golongan darah dengan RH negatif sangat sulit untuk di cari."
Arsal diam dengan ide sang ayah, dia benci harus meminta pada adiknya itu.
"Redam ego mu nak, kalian berdua adalah adik kakak, berbaikan adalah cara satu satunya untuk menyelamatkan Syahila sekarang, ada dua nyawa, dan kau tega menyiksa mereka hanya karena sebuah ego dimasa lalu?"
"Baiklah ayah, aku akan menghubungi Tama."
"Biar ayah saja yang membujuknya kembali."
Lalu Zulfikar menghubungi Tama, dan untung saja Tama cepat merespon, dan Tama pun segera memenuhi permintaan sang ayah dengan mengajak Arbella tentunya.
Tama dengan jet pribadinya mengudara beberapa jam, tempat yang ia tuju memang memerlukan waktu cukup lama.
"Semoga kita datang tepat waktu, aku tidak mau terjadi apapun pada kakak ku, Paman, apakah tuan Zulfikar menjelaskan keadaan kak Syahila?" ucap Arbella dengan wajah khawatirnya.
"Berdoalah, semoga kita tepat waktu, aku tidak mau terjadi hal buruk pada orang orang yang telah merawat mu selama ini." ucap Tama sambil menatap kearah jendela luar.
Arsal semakin terlihat pucat dan menyediakan setelah menatap sang istri yang keluar dari ruang oprasi dengan keadaan tak sadarkan diri, untung saja Syahila masih bisa bertahan dan pendarahan sudah bisa ditangani, namun tetap saja transfusi harus dilakukan secepatnya.
Zulfikar menatap cucu laki laki pertamanya, dia sangat bahagia, dan dia berfikir pewaris perusahaan telah terlahir, dia akan mendidik cucunya dengan segala ketegasan serta kejujuran.
Karena selama ini Arsal, Tama dan Zulfikar tidak pernah melakukan kecurangan, semua di lakukan atas dasar kejujuran, kecuali dalam hal perasaan.
"Selamat nak, bayi mu dalam keadaan baik dan sehat dia sangat tampan." ucap Zulfikar kepada Arsal yang masih mengurai air matanya.
"Mengapa sesakit ini yah? padahal Syahila belum sepenuhnya meninggalkan aku."
"Syahila, akan terus bertahan demi kalian berdua."
"Apa saat Tama dan Vara lahir, ayah merasakan sesakit ini?"
"Tidak, ayah tidak merasakan seperti mu, karena bunda melahirkan mereka dalam keadaan sehat dan ayah tidak pernah berfikir bunda mu akan pergi, namun saat bunda mu melahirkan dirimu, ayah orang pertama yang tersiksa."
"KENAPA?"
"Arsal, bunda memperjuangkan mu dengan seluruh hidupnya, bahkan bunda nyaris meninggal saat mengandung mu, tapi bunda tetap mempertahankan mu." Arsal mulai menunduk dan kembali mencerna perkataan ayahnya.