
Arsal masih berkutat dengan segudang pekerjaannya, sudah selarut ini dia belum juga kembali ke kediaman ayahnya.
"Jenie, tolong buatkan jadwal praktek untuk ku selama satu bulan kedepan." pinta Arsal melalui interkom yang terhubung ke ruangannya.
Arsal mendapat telpon dari rekannya sesama dokter yang bertujuan untuk membangun Internasional Hospital.
"Hello, Nadira bagaimana dengan konsep dan proposal yang ku kirimkan? kau menyukainya atau ingin merubahnya?" Tanya Arsal pada seorang di ponselnya.
"Kau bercanda, aku dan semua rekan sangat menyukainya, kemarin rapat untuk perencanaannya sudah berlangsung, tepat di bulan ini kami akan memulainya, oh ya adik mu Tama sangat berbaik hati menyumbangkan setengah dari anggaran yang kami perlukan, sampaikan terima kasih ku padanya."
"Nadira, ada apa sebenarnya sampai kau repot repot menghubungi ku, pasti ada sesuatu kan?"
"Ya Dokter Arsal, aku hanya ingin menyampaikan bahwa pasien mu yang bernama Arbella Cantika sudah sampai di Indonesia, dia akan menemui mu mungkin dalam waktu dekat."
"Baiklah, kau kirimkan saja alamat rumah sakit ku yang sekarang, aku dengan senang hati bertemu dengan nya."
"Ya dok, sampai bertemu di pertemuan bulan depan." Mereka mengakhiri perbincangan tersebut.
Arsal akhirnya selesai dengan pekerjaannya, beberapa file sudah tertumpuk rapih diatas mejanya, dia pun kembali ke rumah.
"Masih belum tidur juga brother?" sapa Arsal pada Tama yang tidak bisa tidur karena insomnianya.
"Hai, pak dokter bisa berikan aku resep obat supaya aku bisa terlelap dan tidur dengan normal?"
"Tama, ada apa dengan mu insomnia mu belum juga sembuh? Ku sarankan untuk solat malam supaya tidur mu nyenyak."
"Tak tahu kah kau aku sudah berkali kali melakukan saran mu setiap malam, bahkan semua dokter sudah ku kunjungi, tapi tetap saja ini tidak berhasil."
"Mungkin kau hanya butuh di hangatkan brother, peristrilah seseorang, mungkin itu yang kau butuhkan."
Dengan wajah kesal yang di buat buat Tama bergerutu pada Abangnya.
"Kau saja di carikan oleh ayah, sok sok an menyuruh ku, Ya Allah abang ku ini sebenarnya kenapa sih."
Arsal terlentang di tempat tidur, matanya menatap kelangit langit kamarnya.
"Ya Allah ada apa dengan ku, kenapa sedari tadi aku memikirkannya, apa aku mulai jatuh hati pada wanita itu, jangan Ya Allah, jangan sampai aku bisa menghalalkannya, aku hanya mau cinta saat aku sudah mendapatkannya, itu akan lebih indah."
Arsal bangun dan masuk kedalam kamar mandi di mengganti bajunya kemudian ia melaksanakan solat Isya di sambung solat taubat dan sunah lainnya.
Dalam khusyuk nya dia bermunajat, berdoa untuk kedua orang tuanya, lalu memohon ampun untuk dirinya, Arsal merasa telah berdosa memikirkan tentang wanita meskipun tidak dengan nafsu tapi tetap saja Arsal adalah pria yang kaku dan sangat takut akan dosa makanya dia berlaku berlebihan seperti itu.
Setelah solat akhirnya Arsal bisa terlelap, namun lagi lagi ia terbangun dari tidurnya, dia merasa haus dan beranjak pergi ke dapur.
"Abang, kau belum tidur atau terbangun, ini sudah nyaris subuh." Tanya Vara yang sedang berada di dapur karena haus juga.
"Hemm... gue baru tidur dua jam yang lalu, gue haus, tapi juga laper, Ra buatin sesuatu yang bisa gue makan dong." Sambil meminum air dari dari gelas yang ia isi Arsal duduk diam menunggu sang adik membuatkan makanan.
"Ya, sebentar ya, Vara buatkan sandwich saja, Abang Vara mau tanya sebenarnya apa sih yang membuat abang mau di jodohkan? Tanya Vara sambil membuat sadwich dan di letakan di depan sang kakak.
"Entah Ra, gue gak tau, mungkin emang karena gue gak bisa cari cewek kali ya... atau karena pilihan ayah memang selalu baik, jadi gue setuju." ungkap Arsal yang hanya di tanggapi diam oleh adiknya.
"Tapi bang, kalau pilihan ayah salah gimana? lo harus tau bang tentang Syahila."
"Apa?"
"Syahila itu model papan atas, dia sekarang di kontrak oleh brand ternama dari Italia, dan katanya busana yang di gunakannya untuk pemotretan adalah busana terbuka. Bang apakah lo mau punya istri tanpa hijab?" Vara mencoba membuka satu persatu kenyataan tentang calon istri abangnya.
"Ra, manusia punya alasan untuk setiap perbuatan yang dia lakukan, dan abang harap Syahila punya alasan yang tepat untuk itu, dan soal hijab, abang akan coba untuk membicarakannya."
Arsal mengelus punggung tangan adiknya, karena azan subuh berkumandang, Arsal membangunkan Tama yang sudah mulai lelap.
"Tama, ayo bangun sudah subuh." Arsal masih berusaha membangunkan adiknya sedang sang adik malah larut dalam mimpinya, Arsal menyerah membangunkan Tama, Namun ketika Arsal sudah selesai solat, Tama terbangun dan ikut solat subuh di mushola belakang rumahnya.