
Arbella lekat menatap Tama, dia baru sadar bahwa selama ini orang yang sangat perduli dengannya hanya Tama dan Dokter Arsal.
"Paman? apa paman ingat sewaktu di Inggris, aku sangat menyukai permen buatan paman, karena kata paman jika aku membeli permen di luar itu tidak baik untuk kesehatan ku." Tama ternyum mengingat ingat tentang kejadian manis itu.
"Aku ingat semua tentang mu Ara, lalu mengapa kau pergi, ketika aku berjanji akan datang lagi dan membuatkan mu permen madu?"
"Maaf paman, papi tidak bisa lagi tinggal di Inggris jadi kami sekeluarga pindah ke Jerman." Malam itu Tama merasakan kehadiran Arbella yang dulu, gadis lugu periang yang dia cintai.
Pagi hari ini Tama terbangun, setelah terjaga dan berbincang dengan Arbella sepanjang malam.
Tama tidak menatap Arbella dia fikir Arbella pasti akan marah lagi padanya, jadi Tama memutuskan untuk pergi kekantor tanpa membangunkan Arbella.
Arbella terbangun dan menatap sosok disampingnya pagi ini sudah tak terlihat.
Dia tertunduk dan perlahan air matanya jatuh.
"Seandainya aku mampu paman, sayangnya aku hanya gadis kecil yang tak bisa memberi kebahagian pada mu, aku sakit, dan mana mungkin aku bisa terus menemani mu, aku bingung paman, apa aku bisa mengubah mu menjadi seperti dulu." Ucap Arbella lirih.
"Paman, jika waktu bisa di putar dan di berhentikan, aku ingin kembali kemasa kita lima tahun silam dan berhenti disana, aku sangat bahagia bersama mu saat itu, maafkan aku paman mengatakan kata-kata yang seharusnya tidak ku ucapkan, aku tau aku menyakiti mu maafkan aku paman."
Arsal datang lebih pagi dari hari biasanya, karena hari ini tugasnya sangat banyak, hingga dia harus meminta bantuan pada Syahila untuk mengurus kantornya dan sejumlah kerja sosialnya.
"Selamat pagi gadis kecil, oh... maaf kau telah menjadi adik kecil ku sekarang." Arsal tersenyum dan memeriksa kondisi Arbella.
"Ya, sangat happy, dokter bisakah berhentikan obat depresan ku, aku sangat tersiksa dengan itu."
"Baiklah, aku akan berhentikan jika kau berjanji akan menahan setiap amarah mu? dan hanya selalu bahagia bagaimana?"
Arsal bicara dengan penuh pertimbangan.
"Baiklah dokter aku siap."
Arsal tersenyum dan meneliti satu persatu luka dan dan tangan Arbella.
"Dokter, boleh aku bercerita pada mu tentang hal yang manis, oh ya menurut mu hal yang manis itu seperti apa?"
Arsal menerutkan dahinya.
"Seperti apa ya? emmm saat orang yang kau cintai dan mencintai mu ada di dalam hidup mu melangkapi mu, begitu mungkin, kalau menurut mu?"
"Hal yang manis itu masa lalu ku, masa lima tahun lalu saat aku bertemu seorang guru di kelas ku, guru yang usianya terpaut 9tahun dari ku, dia penuh egois dan tatapan mematikan pada muridnya, tapi aku tau dia seorang yang lembut dan baik hati, aku tersenyum padanya, dia pun hanya melihat ku aneh. Suatu hari aku bertemu dengannya di super market pada musim dingin, dia kehabisan bahan makanan sepertinya, aku berbelanja menagantarnya, kemudian kami berjalan sebentar di taman kota, aku membeli permen gulali, karena aku sangat suka itu." Jelas Arbella penuh tatapan rindu.
"Aku selalu memanggil paman dia tidak marah, dia tau jika aku selalu membeli gulali dan banyak makanan manis, dia melarangku untuk membeli dari luar, dia membuatkan ku satu toples permen madu dan susu, meski rasanya tak semanis permen yang ku beli, senyumnya yang mengembang saat ku makan permen itu terlalu manis hingga aku selalu memintanya tersenyum saat aku makan permen itu."
Arsal tersenyum tenyata adiknya terlalu manis pada gadis ini.